Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 100


__ADS_3

Kaito


Cahaya oranye yang menerobos masuk melalui jendela ruang klub yang terbuka lebar. Tirai yang tertiup angin musim semi, bau kertas tua yang bercampur debu. Rak buku besar yang ada di kedua sisi ruangan. Meja besar yang terbuat dari kayu ada di tengah tengah ruangan. Si tuli itu duduk di sebelah kananku dan memusatkan perhatiannya pada novel yang ada di tangannya itu.


Si mesum dingin itu juga duduk di sisi kananku dan melakukan hal yang sama dengan Ai. Tidak denganku, aku fokus pada layar ponselku dan mencari informasi tentang lomba menulis musim semi ini dari internet. Dalam hatiku aku berharap novel Ai muncul dalam daftar pemenang lomba itu. Dan di sisi lain aku juga berharap Ai kalah karena aku tak ingin menulis novel untuknya. Jantungku berdebar kencang sekarang ini. Jika dia menang aku akan menulis novel apa untuknya ya?


[Mirai Ai: Ai No Koe]


Aku menemukan nama Ai ada di dalam daftar pemenang. Aku tidak terkejut, sang takdir pasti ingin aku menulis novel lagi dan akan bilang bahwa aku tak layak menjadi penulis. Ya, sudahlah, aku senang karena Ai ternyata bisa memenangkan kompetisi yang lumayan berat itu. Aku menoleh ke padanya dan menepuk pundak kirinya.


"Ai, selamat ya ...," aku memasang wajah cuekku karena tak ingin terpaku lagi dengan paras cantiknya itu.


"He? Selamat kenapa?" Ai memiringkan kepalanya bingung karena belum menyadari maksud dari perkataanku itu.


"Hmm ...," aku memalingkan wajahku dan kembali menatap layar ponselku.


"Tu-tunggu, apa aku menangin lomba itu?" Ai menarik lengan seragam ku dan mendekatkan wajahnya padaku.


Percuma saja ...


Aku kembali terpana karena kecantikanya itu. Kedua matanya terlihat berkilauan. Aku bisa merasakan nafasnya sekarang. Kami begitu dekat dan hidung kami hampir bersentuhan. Kebahagiaan, aku bisa melihatnya dari raut mukanya itu. Jangan tumbuh sekarang, aku mohon. Aku memalingkan pandanganku dan mengangguk perlahan.


"Woaah!!! akhirnya!! Kaito bakal buatin novel untukku!"


He?!


Ai memeluk ku dengan erat lagi. Berbeda dari sebelumnya, ini adalah pelukan kebahagiaan. Takku sangka aku akan kembali berpelukan dengannya hari ini. Waktu seolah membeku bagiku. Jantungku berdebar debar dan rasanya aku hampir mati dibuatnya.


"Sudah ku duga kalian pacaran." Ucap Saika dengan wajah datarmya itu.


"Eh?! Etto ... Bu-bukan begitu!" Ai melepas pelukannya dan wajahnya mulai memerah ketika menyangkal kata kata Saika itu.

__ADS_1


"Huufff ... aku keluar sebentar ya." Aku menghela nafas ku lalu pergi keluar dari ruang klub untuk menenangkan diriku.


Aku menaiki tangga dan menuju ke atap gedung sekolah. Tempat dimana aku bisa merasakan udara segar hanya untuk sekedar menenangkan diriku. Langit biru yang terlihat sejauh mata memandang. Pagar besi warna hijau yang ada di pinggiran atap gedung sekolah. Angin musim semi yang langsung menerpaku begitu aku keluar dari pintu.


Aku menghentikan langkahku ketika melihat seorang laki laki yang bersandar di pagar besi yang tinggi itu. Dia adalah Shou sang ketua OSIS di sekolah ini. Aku pernah bertemu dengannya di pinggiran sungai Mabuta. Dan sekarang aku kembali bertemu dengannya di tempat yang biasa aku kunjungi saat aku ingin menenangkan diriku. Selain sungai Mabuta, aku juga suka berada di atap sekolah untuk melepas beban pikiran di hidupku ini.


"Hoi, kita ketemu lagi!" Ujar Shou melambaikan tangan kanannya padaku.


"Hmm," aku pun menghampirinya dan ikut menyandarkan punggungku di pagar yang ada di pinggiran atap sekolah ini.


"Apa kau ada masalah?" Aku melipat tanganku di depan dada dan memejamkan mataku.


"Begitulah, sepertinya kita berdua ini memang cowok yang punya banyak masalah ya?" Kata Shou.


"Hmm," aku menganggukkan kepalaku perlahan lalu menengadahkan kepalaku agar bisa melihat langit biru yang indah itu.


"Kaito, apa yang kau rasakan ketika mengetahui orang yang kau cintai akan segera pergi meninggalkan dunia ini?" Perkataanya yang langsung mengambil perhatianku.


"Apa kamu kenal Takami Sakura?" Shou memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Ohh, apa perempuan yang jaga perpustakaan itu?" Aku menggaruk pipiku dengan jari telunjuk ku dan berusaha mengingat orang yang di sebutkan Shou itu.


"Hmm, aku senang kau mengenalnya." Shou menundukkan kepala dan memejamkan kedua matanya.


"Tunggu, jangan bilang ...," Sakura itu mungkin adalah gadis yang ia maksud akan pergi dari dunia ini.


"Sudahlah, aku tak ingin membicarakan hal itu sekarang." Shou memandang ke atas langit seakan ingin melupakan masalahnya itu.


"Sudahlah, aku mau kembali ke dalam ... sampai ketemu lagi ya?" Shou kembali masuk ke pintu yang akan membawanya menuruni tangga ke lantai dua gedung sekolah.


Di saat yang sama Saika datang keluar dari pintu yang sama dan menghampiriku. Dia pasti hanya datang untuk mengejekku dan membuatku kesal lagi. Aku pun memasang wajah bosan ku dan tetap menyandarkan punggungku di pagar. Kalau di pikir pikir bola matanya sangat mirip dengan milik Ai. Hanya saja, memang aku akui Saika sedikit lebih cantik dari pada Ai. Walau begitu, aku tetap akan memilih Ai jika aku harus memilih.

__ADS_1


Alasannya adalah bukan hanya wajah dan tubuh yang paling penting. Ai memiliki hati yang jauh lebih baik dari pada si mesum dingin itu. Dia berhenti tepat di depanku. Saika melepas kacamata yang ia pakai dan memasukanya ke dalam saku seragam.


"Apa?" Tanyaku cuek.


"Senpai, kau tak lupa janjimu kan?" Ia memasang wajah tanpa ekspresinya itu.


"Ha? yang mana? Atau ...," aku baru ingat aku punya janji kencan dengan si mesum itu.


"Cih, ya aku ingat," aku kembali berdiri tegak.


"Aku ingin ke gunung Okiyama ... apa boleh?" Bola mata Saika tidak tertuju pada ku dan pipinya memancarkan sedikit rona merah.


"Haa? Oi, jangan bercanda lah, itu jauh loh." Aku memasang wajah malasku.


"Aku mohon," kata Saika sembari memegang ujung jari tangan kananku.


"Me-memangnya kenapa kamu mau ke sana?" Tanyaku karena tak pernah melihat Saika bertingkah seperti ini.


"Bunga matahari," jawabnya seraya menundukan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah itu.


"Ha?"


Di saat yang sama aku mengingat ada taman bunga matahari di sekitar gunung Okiyama yang sangat terkenal itu. Gunung Okiyama sebenarnya hanyalah bukit besar yang ada di tengah pedesaan yang asri. Tapi wisatawan sering menyebutnya sebagai gunung karena bukit itu memang sangat besar. Yang paling membuatku malas pergi ke sana adalah tujuh ratus anak tangga yang harus kunaiki untuk sampai ke puncak bukit itu.


"Hmm, ya sudah ... sabtu ini aku akan membawamu ke sana." Aku menerima ajakanya karena dia sudah menyelamatkanku malam itu.


Cih, jika saja malam itu tidak terjadi ...


"Terima kasih Senpai ...," Saika mengangkat kepalanya dan terlihatlah air mata yang mengalir di pipinya itu.


"Sa-Saika? Kamu kenapa?" Aku panik karena si mesum dingin itu menangis di hadapanku.

__ADS_1


"Aku gak tau, tapi, rasanya aku ingin menangis." Saika membalik badannya dan mengusap air matanya sendiri.


__ADS_2