Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 190 Our Memories 2 (Ai No Koe)


__ADS_3

Kaito


Tap tap tap!!


Aku berlari sangat cepat berusaha menyusul langkah si bisu itu. Ini adalah musim panas, walau begitu, udaranya sedikit sejuk karena sang surya hampir tenggelam dan ditelan oleh kegelapan malam. Aku tak tahu apa pun mengapa bisa aku kembali ke sini. Jika aku benar benar mati, berarti ini adalah surga. Surga dimana hanya ada kisahku dan Ai. Tanpa pertarungan yang merepotkan.


"Tapi! Ai yang sesungguhnya masih menungguku!"


Aku terus berlari tanpa mempedulikan rasa lelahku ini. Setelah beberapa ratus langkah aku lewati. Aku melihatnya, Ai berdiri di tengah jalan depan rumahnya. Ia menengadahkan kepalanya dan menikmati langit oranye yang indah itu. Rambut pirang keemasan yang terombang-ambing karena tertiup angin. Bola mata biru yang berbinar layaknya berlian.


"Ai?" Aku berhenti berlari dan seakan melupakan rasa lelahku. Paras cantiknya itu benar benar membuatku terpana.


"Kaito ...," ia menoleh padaku dan disaat yang sama tubuhnya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.


He? Dia ngomong?


"Ai!!" Dengan sigap aku langsung menangkapnya dan menopang badannya dengan pelukanku.


"Kamu! Kamu ngomong?!" Aku masih tercengang karena mendengar suaranya yang indah itu.


"Ai? Kamu kenapa? Kaito?" Ibunya Ai yang baru saja keluar dari pintu rumahnya bingung melihat Ai yang lemas ini.


"Ohh, ano, ini tante, Ai tiba tiba hampir jatuh." Aku menuntun Ai perlahan dan membiarkan ibunya menggandeng si bisu itu.


"Ahh, Ai, kamu lari lagi ya? Kan udah dibilang dokter jangan sampe cape," nasehat ibunya yang menggandeng Ai masuk ke dalam rumah perlahan.


"Aa, maaf, dokter? Maksud tante apa ya?" Tanyaku bingung.


"Ohh, anu, jadi kamu belum tau ya ...," Mereka saling bertatap muka seakan menyembunyikan sesuatu dariku. Ai memegang tangan ibunya dan menggeleng perlahan.


Hmm, pasti ada sesuatu!


"Ai, apa lebih baik eh?" Ibu Ai tak melanjutkan kalimatnya karena melihat si bisu itu mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menukiskan sesuatu di sana.


"Ohh, kamu mau mengatakannya sendiri? Baiklah, Kaito, ayo ikut masuk?" Kata ibu Ai dengan senyuman ramahnya.


Dan tanpa basa-basi lagi aku mengikuti langkah mereka masuk ke dalam rumah. Ai perlahan menaiki tangga dibimbing oleh ibunya yang menggenggam erat tangannya. Aku hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.


"Kaito, tolong bantu Ai ya? Aku mau ambil minuman di bawah untuk kalian." Pinta ibu si bisu itu setelah membuka pintu kamar Ai.


"Ohh, iya, tenang aja." Aku segera menuntun Ai masuk ke dalam kamar sementara Ibunya meninggalkan kami ke lantai bawah. Setelah Ai duduk di ranjang kamarnya. Ia kembali mencorat-coret buku catatan kecilnya itu.


'Bisa tolong tutup pintunya?' Ia menunjukan tulisannya dengan Senyuman seindah pelangi itu.


"Ohh, iya," jawabku lalu segera menutup pintu kamar Ai perlahan.


Glek!


"Kaito ...,"

__ADS_1


Tepat saat aku menutup pintu. Suara indahnya itu masuk ke dalam lubang telingaku. Sontak aku pun langsung berbalik dan menghadap ke gadis cantik yang memanggilku itu.


"Ai?" Aku terpaku pada paras cantiknya itu sejenak sebelum sadar bahwa ia menunjuk ke arah meja belajarnya


"Ha? Ada apa di meja?" Aku mendekat ke arah meja belajarnya yang ada di sisi kiri ruang kamar ini.


"Ini?" Aku mengernyit sembari menunjukan buku catatan harian miliknya. Ai memperagakan gerakan membuka buku dengan kedua tangannya itu. Tentu saja aku paham maksudnya. Dia memintaku untuk membaca isi dari buku ini.


'Aku akan segera menyusul Ame.'


Aku langsung terbelalak sesaat setelah membaca tulisan yang ada di halaman pertama buku ini.


"Nee, Kaito, ini bukanlah kenyataan." Ai bangkit berdiri dan melangkah perlahan kepadaku.


"A-apa?" Aku hanya bisa berdiri terpaku melihat dan mendengar kejadian ini.


"Aku hanya, ingin membuatmu merasakan ketenangan. Sebelum aku ... tiada ...," Ai menyentuh pipi kiriku menggunakan telapak tangan kanannya yang penuh dengan kehangatan itu.


"Ha?" Aku tertegun melihat paras cantiknya itu. Ditambah kata katanya yang membuat hatiku serasa ditusuk duri.


"Apa maksudmu?" Tanyaku dengan suara sangat kecil.


"Nee, Kaito! Aku pernah bilang kan? Aku akan melindungimu!" Ai berbalik dan berlari ke depan jendela kamarnya.


Keadaan kamar ini menjadi sangat sunyi. Ai membuka lebar jendela kamarnya dan terlihat pancatan cahaya sang surya yang menerobos masuk ke dalam ruangan ini. Lagi lagi aku terpaku karena rambut pirang keemasannya itu.


"Ai?"


"Apa?" Yang ia tunjukan ternyata adalah kucing liar warna hitam sedang berjalan di jalanan depan rumahnya.


"Kamu itu seperti kucing liar itu," ujarnya dengan senyum seindah pelanginya itu.


"He?"


"Kamu pura pura kuat dan memutuskan untuk pergi kemana pun seenaknya." Kucing hitam itu duduk di tengah jalanan dan menjilati kakinya sendiri.


"Kamu tak tahu bahaya yang menunggu di depan, takdir itu selalu coba menghalangi kita loh." Di saat yang sama sebuah mobil sedan melaju dengan santai ke arah kucing hitam itu.


"Eh?!"


"Kamu selalu mengabaikan semua resiko, dan melakukan semua sesuka hatimu, padahal ...," Kucing hitam itu masih tak sadar ada sebuah mobil yang hendak menabraknya itu dan malah asyik menggaruk kepalanya.


"Kau bisa saja mati kan? Dan jika itu terjadi, takdir kita akan sama. Hidup, bertemu, lalu mati." Mobil itu semakin dekat dan supirnya tak kunjung sadar ada kucing di tengah jalan itu.


"Tu-tunggu!" Aku tak ingin melihat kucing hitam itu mati di depan mataku dengan cara seperti itu.


"Tapi! Kau punya aku!"


Keajaiban pun terjadi, seorang bocah berseragam SD berlari lalu mengangkat kucing itu ke pinggir jalan. Pada akhirnya mobil itu bisa melintas tanpa melindas kucing itu. Dan kucing hitam itu tak perlu kehilangan nyawanya.

__ADS_1


"He?" Lagi lagi waktu serasa terhenti saat aku menatap paras cantiknya itu. Matanya yang seperti berlian, dan rambutnya yang seperti lautan emas. Senyuman yang terpancar di bibirnya itu sangat indah seperti pelangi.


Hari ini aku sadar, ternyata selama ini aku mengulangi kesalahan yang sama. Aku terlalu egois dan tak pernah memikirkan perasaan orang lain. Hanabi, dia pernah menangis karena takut kehilanganku saat ia tahu aku bekerja di DH. Aku juga pernah memaksakan diri untuk pergi sendiri di misi penyegelan jigoku gate. Aku sama sekali tak mempedulikan perasaan teman yang khawatir padaku. Ai pasti juga sangat mencemaskanku saat mengetahui aku akan pergi meninggalkannya.


"Nee, Kaito! Berjanjilah padaku untuk menyelamatkan Ai!" Katanya sembari mengulurkan jari telunjuknya.


"Maksudmu?" Aku bingung karena ia menyebut namanya sendiri.


"Umm, maksudku Ai yang kamu kenal saat ini, etto, rambut item dan mata ungu ...," Ai tampak kebingungan mendeskripsikan dirinya yang lain.


"Aahh, pokoknya janji!" Ai mengaitkan jari kelingking tangan kanannya ke jari kelingkingku.


"Kaito, terima kasih atas semuanya ... sekarang aku akan membalas kebaikanmu." Ai semakin mendekatkan wajahnya padaku.


Ini artinya ...


"Selamat tinggal ...," ucapnya lalu mengecup bibirku.


"Tu-tunggu! Ai!" Saat ia melepaskan bibirnya. Kami tiba tiba berpindah tempat.


"Ini?!" Aku terbelalak menyadari tempat yang kami pijak. Gunung Okiyama, ini adalah tempat penuh kenangan bagi kami berdua. Langit malam dengan jutaan bintang yang menghiasi gelapnya cakrawala. Saat itu, aku menemukan tujuan hidupku, aku berjanji akan mengembalikan suara si bisu di sampingku ini. Dan juga aku berjanji menjaga senyumannya.


"Kamu berhasil!" Ai tersenyum lebar dengan tubuhnya yang mulai bercahaya.


"Ehh?! Tunggu!? Apa ini artinya kita?!"


"Ya, sampai di sini saja, bangunlah dan selamatkan duniamu!" Ujung jari jemari dan rambutnya mulai pecah jadi butiran sinar.


"Ai! Terima kasih!" Aku berusaha menggenggam tangannya di saat saat terakhir ini.


"Hmm! Aku mencintaimu!" Tapi pada akhirnya aku tak bisa meraihnya dan membiarkannya lenyap begitu saja dari hadapanku.


"Kenapa?! Kenapa?!" Aku jatuh berlutut sembari memandangi kedua telapak tanganku ini.


"Yume sudah mengorbankan diri, dan sekarang Ai juga?!" Aku meninju tanah di bawahku ini berkali kali.


"Mau sampai kapan aku harus kehilangan!? Sampai kapan!!!"


---------


Unmei Series


•Ai No Koe


>Umei To Shiawase


• Penjelajah Takdir


(Masih banyak yang belum rilis)

__ADS_1


Jangan lupa like-nya ya!


__ADS_2