Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 96


__ADS_3

Greek~


"Hanabi, kakak pulang." Aku dan Ai pun masuk ke dalam rumah setelah beberapa jam perjalanan untuk kembali ke sini.


"Whuah!! Kakak dateng sama calon kakak ipar ku nih!!!" Seru Hanabi yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga.


Entah kenapa aku sudah terlalu lelah untuk bisa marah dengan adikku itu. Di tambah, sejak perjalanan pulang tadi. Senyuman Ai lenyap ditelan bumi. Sepertinya, dia masih teringat kejadian di taman tadi. Itu sama saja aku menolak cintanya kan?


Huff ... entah apa yang terjadi berikutnya.


"Kaito, aku langsung ke kamar ya?" Ai hanya melangkah masuk ke kamar Hanabi tanpa menatapku sedikitpun .


"Hee? kakak Ai kenapa?" Hanabi berdiri di atas sofa sembari menggenggam remote televisi.


"Jangan jangan kakak ..."


"Udah, dia cuma capek aja ...," Hanabi pasti sudah berpikir yang tidak tidak. Secara, otaknya itu sama dengan milik Kakume. Entah kenapa adikku sekarang jadi mesum seperti ini.


"Hua ... kalian habis ngapain tuh!?" Hanabi menunjukan seringai menyeramkan di wajahnya.


"Cih, bodo lah ... kakak mau ke kamar dulu." Aku langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarku yang masih berantakan sejak aku tinggal di sini.


Aku menjatuhkan diriku di atas ranjangku yang empuk ini. Aku melepas lelah yang melekat di kedua kakiku ini. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas dalam dalam. Aku berusaha menenangkan diri ku karena berbagai kejutan yang datang hari ini.


Sepintas aku mengingat kata kata Mirai sewaktu kami berada di dalam perpustakaan kota. Dia bilang dia akan menjaga jantungku walau nyawanya adalah taruhannya.


Apa mungkin dia bisa lenyap karena kemampuan heal-nya itu?


"Ya, kau benar!" Suara Yume yang membuat ku terperanjat dan terduduk di pinggiran ranjangku.


"Tunggu Yume? Jangan ngagetin gitu lah!" Aku mengelus dadaku sendiri.


"Tapi, apa Mirai benar benar bisa lenyap?" Lanjutku bertanya.


"Ya, jika dia menggunakan kekuatannya itu secara berlebihan."


"Seperti Tenshi, dia juga bisa terkena lock. Dan efek sampingnya adalah kehilangan dirinya sendiri." Jelas Yume.


"Jadi, aku sekarang tak boleh sembarangan mengubah takdir ya?" Aku menunduk dan menyangga kepalaku dengan kedua tanganku.

__ADS_1


"Kaito, malam itu, akulah yang membuatmu tak bisa melakukan Time Control."


"Aku tahu Saika bisa selamat tanpa menggunakan Time Controlmu."


"Jadi aku menyegel kekuatanmu untuk sementara." Yume menjelaskan semua yang terjadi di malam waktu aku dan Saika di serang oleh orang pemerintah itu.


"Kalau begitu, terima kasih banyak." Aku mundur ke belakang dan menyandarkan punggungku ke dinding.


Keadaaan pun kembali sunyi. Aku duduk di tengah kegelapan kamarku ini. Cahaya terpancar masuk dari pintu kamarku yang masih terbuka itu. Sesaat kemudian aku dikejutkan dengan bunyi ponsel ku sendiri. Aku mengambil ponsel dari saku seragamku dan mengangkat telepon dari Fumio itu.


"Cuma mau bilang, hari ini kita libur."


Satu kata dari si loli ganas itu lalu ia kembali memutus sambungan teleponnya. Aku sedikit kesal karena sikap Fumio yang sangat dingin itu. Walau begitu, dia sudah banyak membantu ku. Dan satu kalimatnya itu membuat ku senang. Akhirnya aku bisa santai di rumahku tanpa harus susah payah bertarung malam ini.


Aku bangkit berdiri dan melangkah ke pintu kamar mandi. Aku segera mandi dan membersihkan tubuhku ini. Aku mengganti seragamku dan memakai kaos merah dan celana pendek warna hitam yang biasa aku kenakan sewaktu di rumah.


Aku segera turun ke lantai dasar dan duduk di sofa ruang keluarga ku sembari menyaksikan acara televisi. Hanabi sedang sibuk belajar di dalam kamarnya, sedangkan Ai mengutak atik peralatan dapur untuk menyiapkan makan malam. Aku yang merasa kasihan padanya karena harus bekerja sendirian, aku bangkit dan berjalan ke dapur.


"Ai? mau kubantuin gak?" Tanyaku.


"Gak perlu." Jawabnya tanpa menoleh ke arah ku sedikit pun.


"Kenapa? apa kamu marah sama aku?" Aku berdiri di belakangnya.


"Soalnya makan malam hari ini udah siap." Dia mengangkat piring besar berisi beberapa tumpuk roti isi buatannya.


"Ohh, sini aku bantu taruh di meja makan." Setidaknya aku bisa membantunya walau sedikit.


"Hanabi! makan malam udah siap!" Ujarku sembari meletakan piring itu di atas meja makan.


"Nanti dulu kak, nanggung nih. Kalian makan duluan aja gak apa apa!" Seru Hanabi dari dalam kamarnya.


Aku menoleh ke arah Ai yang adadi belakangku. "Hanabi masih ngerjain PR, mau nunggu atau gimana?" Tanyaku.


"Ohh ... tunggu aja kalo gitu." Kali ini aku benar benar tak bisa melihat senyumannya itu.


"Ya udah, ayo nonton TV dulu," aku menggandeng Ai dan membawanya ke ruang keluarga.


"Sini duduk dulu," Aku memintanya duduk di sampingku.

__ADS_1


"Hmm ...," Ai hanya diam dan duduk di samping ku di atas sofa panjang ini.


Untuk beberapa saat, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.Hanya suara dari televisi yang terdengar selama beberapa menit. Dia sepertinya masih kepikiran kejadian di taman tadi. Aku tak ingin melihatnya terus bersikap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan senyumanya itu.


"Ai, apa kamu masih kepikiran kejadian di taman tadi?"


"He? Enggak kok." Jawabnya tetap menundukkan kepalanya.


"Kamu gak perlu khawatir, ini semua bukan salahqamu. Aku berjuang karena kemauan kusendiri."


"Dan juga, kamu boleh menganggapku sebagai kakakmu kalau mau." Aku mengusap kepalanya dengan lembut seperti yang biasa aku lakukan pada Hanabi.


"Kaito ...," air mata langsung mengalir keluar dari matanya. Ai kembali memeluk ku dengan erat.


"Ai?"


"Aku, aku sungguh minta maaf. Tapi aku sepertinya memang benar benar jatuh cinta padamu."


"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan menganggap mu sebagai kakakku yang baik." Aku akhirnya bisa melihat senyuman di wajahnya, walau pipinya masih basah karena air matanya itu.


"Yah, mulai sekarang aku punya dua adik perempuan yang selalu menungguku setiap malam."


"Ai, jangan menangis lagi oke?" Aku mengusap air mata di pipinya itu menggunakan ibu jariku.


"Baiklah kakak!"


"Wah!! Wah!!! Wah!!! Apa kalian habis ciuman?" Hanabi tiba tiba muncul di belakang kami berdua.


"Hanabi, bisa gak berhenti mikir hal yang gituan?" Ujarku memasang wajah datar ku.


"Maaf tapi gak bisa hehe ...," Hanabi terkekeh sembari menggaruk kepalanya.


"Dasar otak mesum." Aku memukul kepalanya perlahan.


"Haa?! sekarang yang mesum siapa coba?!"


"Kakak juga seneng kan kalo tidur bareng sama aku!?"


"Apa lagi kakak bisa merasakan dadaku yang baru matang ini."

__ADS_1


"Ha-na-bi ... kakak gak jadi ajak kamu ke festival musim panas kalo kamu masih ngomong hal begituan." Ucapku memasang wajah kejamku.


__ADS_2