
Hana, adikku yang direnggut takdir itu sekarang sedang berdiri tepat di depan mataku. Dia sama sekali tak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya. Yukata merah muda yang membuatnya semakin elok dipandang. Aku, aku kembali bertemu dengannya setelah sekian tahun berpisah. Adikku satu satunya, harapan hidupku yang hilang. Satu satunya orang yang membuatku bisa merasakan kebahagiaan.
"Kakak? apa kakak baik baik saja?" Hana memiringkan kepalanya sedikit dan melempar senyum seindah bunga yang bermekaran di taman.
"Cih ... lucu rasanya mendengar pertanyaan itu setelah kamu meninggalkan aku sendiri ...," aku mengepalkan tanganku karena hatiku mulai terasa sakit lagi.
"Wooh, kakak galak nih ya sekarang?" Seketika kami berada di tengah taman bunga yang sangat indah. Jutaan bunga mengelilingi kami berdua yang berdiri di tengah jalan setapak.
Apa ini? Mimpi? Atau apa?
Aku melihat ke segala arah dan hanya bisa melihat hamparan tanah yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis bunga. Udara di sini sejuk, sangat berbeda dari yang sebelumnya. Pikiran ku kacau, aku menyadari saat ini aku sebenarnya sedang bertarung. Tapi tiba tiba aku berada di sini dan yang lebih mengejutkan lagi, Hana berdiri di hadapanku.
"Ne, apa kak Ren baik baik aja?" Hana membalik badannya dan menengadahkan kepalanya.
"Hmm, di sehat ...," aku berusaha mengalihkan pandanganku darinya.
"Oowh ... ne, ne, apa kakak ingat ini?" Lagi lagi kami berdua berpindah tempat secara tiba tiba.
"A-apa?" Aku terbelalak saat merasakan suasana yang berubah dalam sekejap mata. Sunyi, sepi, dan cahaya yang memancar masuk melalui jendela. Kami berdua duduk berdampingan di pinggiran ranjang kamar rumah kami yang dulu sudah kujual. Suasana yang sudah lama tak kurasakan. Kehangatan rumah yang sangat kurindukan, aroma wangi parfum adikku yang sudah lama tak tercium. Tidak, aku tidak ingin menangis saat ini. Aku ini laki laki kuat, aku tak akan menangis hanya karena ini.
"Maaf ya kak?" Hana menyandarkan tubuh mungilnya itu ke bahu kananku.
"Hmm," aku hanya tertunduk diam dan terus membendung air mataku.
"Apa kakak menangis?" Hana membelai pipiku dengan tangan kanannya.
"Mana mungkin," aku melemparkan senyuman palsuku untuk menyembunyikan hatiku yang kacau balau sekarang ini.
"Maaf ya kak?" Kata katanya itu rasanya menusuk hatiku dalam dalam. Rasanya sangat sakit, lebih sakit dari pada luka apa pun yang pernahku rasakan sampai saat ini.
"Kak? apa kakak marah padaku?" Hana mendekatkan wajahnya padaku dan membuatku tersipu malu karena paras cantiknya itu.
"Oh? Eh?!" Aku tak tahu harus berkata apa lagi, melihatnya saja sudah membuat mulutku tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kak Takumi?" Hana menudukan kepalanya dan muncul sedikit rona merah di pipinya itu.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku senang, kakak sekarang sudah bertambah kuat."
"Tapi aku juga sedih karena tau kakak sudah tak pernah merasakan kebahagiaan lagi."
"Maaf saat itu aku meminta kakak harus lebih kuat."
"Seharusnya, aku bilang, kakak harus tetap bahagia di sini tanpaku." Hana mulai meneteskan air matanya ke atas Yukatanya itu.
"Hana ... cukup!" Aku tak lagi bisa menahan air mataku ini.
"Walau kamu minta aku untuk tetap bahagia,"
"Itu mustahil terjadi!"
"Aku tak akan pernah bahagia tanpamu!"
"Aku, aku menyerah ... aku memang sudah tak layak hidup lagi di dunia ini!" Aku mengungkapkan rasa yang sudahku pendam sangat lama itu.
"Ne, kalau kakak mati, kak Ren gimana?" Pertanyaan yang sama, hal itu selalu membuat ku mengurunkan niatanku untuk bunuh diri.
"Kak Takumi ... jangan pernah berpikir untuk menyerah." Hana menghapus air mata yang mengalir di pipiku dengan ibu jarinya.
"Maaf, sekali lagi maaf!"
"Kakak sudah mengorbankan semuanya demi aku, tapi aku malah seenaknya pergi dari dunia ini."
"Maaf! Maaf Maaf!!!"
"Hentikan ucapanmu Hana!" Aku membentaknya dan membalas pelukanya.
"Aku itu semua bukan salah mu!"
"Ini semua karena takdir!!"
"Tak ada yang menyalahkanmu!"
"Sejak kecil kita sudah berjuang bersama. Sejak mama dan papa meninggal, kita sudah hidup mandiri."
__ADS_1
"Tangisan, tawa, kebahagiaan, dan kesedihan sudah kita alami bersama!"
"Dan saat mengetahui kamu menderita penyakit aneh dan akan segera meninggalkanku, hatiku remuk."
"Aku, aku sudah berjuang ...,"
"Tapi takdir jauh lebih kuat dariku!"
"Aku ingin membalas takdir, tapi, aku tak tahu harus kemana. Aku terus berlari kesana kemari untuk membunuh Tenshi."
"Aku sekarang sudah lebih kuat Hana."
"Apa ini sudah cukup?" Aku membelai rambutnya panjangnya itu.
"Terima kasih kak, selamat tinggal ...," ucap Hana dan di saat yang sama tubuhnya mulai bersinar terang.
"Tu-tunggu?! Hana?! Jangan bilang?!" Aku melepas pelukanku dan melihat adik ku itu perlahan memudar.
"Aku gak pergi kok kak ... aku selalu ada di dalam hatimu ini." Hana meletakan telapak tangannya di dadaku.
"Hana!! Jangan pergi lagi!" Tepat saat aku berusaha meraihnya, adikku itu sudah lenyap menjadi butiran cahaya.
"Hana! Hana! Hana!!!" Aku berlutut dan memukul lantai dengan kedua tanganku.
"Haaaaa!!!!"
Aku berteriak dan kembali tersadar dari alam mimpiku itu. Saat aku membuka mataku, aku sudah menginjak kepala Detroit yang sudah hancur berantakan. Lagi lagi aku kehilangan kendali dan bertarung sesuai kehendak iblis. Jika, seperti ini terus, aku bisa saja kehilangan kesadaranku selamanya. Aku butuh tujuan hidup yang lebih kuat dari ini. Hatiku masih terlalu lemah. Aku tak bisa terus begini, aku harus lebih lebih lebih dan lebih kuat lagi untuk adik perempuanku itu.
Tunggu?!
Aku merasa tubuhku mulai basah karena cairan hangat. Aku melihat ke arah perutku dan melihat besi yang menancap dan ujungnya sampai tembus ke punggungku. Darah segar mulai jatuh ke tanah, aku tekena luka yang cukup serius. Aku tersungkur di tanah dan tak lagi bisa merasakan tubuhku. Rasa dingin mulai menyelimuti tubuhku. Pandanganku mulai kabur.
Apa aku akan mati?
Ohh, ya sudah ... Hana, kakak akan segera menyusulmu ...
Tapi di saat yang sama aku melihat sorot lampu terang dari langit dan suara yang berisik itu. Tak salah lagi itu adalah Helikopter yang tadi aku tumpangi. Ren menemukanku, kuharap dia tak terlambat dan malah melihat aku mati di sini.
__ADS_1
Ya sudah lah ...
Hana ... aku menyayangimu.