
"Haru ... Kakume? Gimana keadaan Mina?" Tanya ku saat melihat mereka berdua berdiri di luar kamar yang tertutup rapat itu.
"Hmm, sepertinya dia butuh kamu ...," Kakume menyandarkan punggung di dinding dan melipat tangannya di depan dada tanda ia sudah pasrah.
"Dia sama sekali tak mau bicara pada kami, kami sudah menjelaskan semua sebisa kami ... maaf." Ucap Haru dengan wajah khawatirnya.
"Hmm, makasih, kalian sudah cukup membantu ku ...," Aku menepuk pundak mereka bersamaan lalu masuk ke dalam kamar Haru yang ada di lantai dua rumah yang dijadikan markas rahasia ini.
Glek!
Aku masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat rapat. Mataku tertuju pada gadis rambut pendek dengan warna sedikit kemerahan itu duduk di pinggiran ranjang dan menundukan kepalanya. Suasanya yang sunyi, cahaya sang mentari menerobos masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Boneka boneka milik Haru yang terpajang di rak besar sisi ruangan. Ekspresi boneka-boneka lucu yang bahagia itu tidak mempengaruhi Mina yang hatinya sedang hancur lebur sekarang ini.
"Mina? ...," Aku tak tahu harus bertanya atau bicara apa sekarang ini.
"Kaito ...," Mina juga seperti kehabisan kata kata dan terus menunduk walau sudah memanggil namaku.
"Maaf, aku tak bisa berbuat apa pun untuk sekarang ini." Aku terduduk di lantai dan menyandarkan punggung ku ke pintu kamar Haru.
"Saat itu ... kita bertiga sudah berjanji kan?" Pertanyaannya yang membuat mata ku terbelalak karena mengingat sesuatu.
----------------
"Yaaahh ... Kaito nilainya paling bagus lagi ...," Mina mendesah kalah dan meletakan kepalanya di atas meja.
Pagi ini adalah pengumuman hasil ujian akhir semester di SMP ku. Walau aku tak peduli dengan nilaiku, tapi aku tetap saja penasaran. Aku sudah duduk di kelas tiga SMP dan ini artinya tahun depan aku sudah beranjak dari sekolah ini.
Keramaian, keributan, suara teriakan bahagia, suara orang yang menghela nafas. Suara murid murid lain yang berlarian kesana kemari karena kejahilan temannya. Aku duduk di atas bangku ku dan melihat keluar jendela. Mina membalik kursinya dan duduk berhadapan dengan ku. Hari ini ialah hari bebas, hari dimana tidak ada pelajaran dan guru yang mengganggu kami. Hari yang menyenangkan, tapi hari yang menyedihkan juga bagi sebagian anak anak lain.
"Hmm, percuma juga nilai bagus ...," gumamku terus memperhatikan awan awan yang saling mengejar satu sama lain.
"Hee ... dasar gak tau bersyukur ... oh iya mana Raku?" Tanya Mina sembari menoleh ke segala arah mencari Raku.
"Kamar mandi, paling bentar lagi balik tuh ...," ucapku dengan nada malas.
"Ohhh," tepat saat Mina mengambil ponsel dari saku seragamnya, Raku berlari ke arah kami dan langsung duduk di atas mejaku ini.
"Halo halo! Baru di tinggal bentar udah pacaran aja!" Seru Raku dengan wajah gembiranya itu.
__ADS_1
"Oi! Dasar Rakun! Bisa gak santai dikit!" Pekik Mina kesal dengan sikap Raku.
"Bilang aja kamu cemburu ...," aku memasang wajah datar ku.
"Bheh?! Aku? Cemburu? Mana mungkin aku suka sama cewe jelek kaya dia ...," ejek Raku menunjuk Mina dengan dagunya sembari memasang wajah sombongnya.
"Heeerrrmmn!!!" Mina menunjukan kepalan tangannya dan menatap Raku tajam.
"Huaaa!!! Kaito! Tolong ...," Raku melompat dan berlindung di balik punggung ku.
"Gak suka sama aku ya?"
"Ya udah, Kaito! Aku suka sama kamu!" Mina menutup matanya dan memberikan sekotak cokelat untuk ku.
He? Ohhh, jebakan ...
Aku tahu ini cuma akal-akalan Mina saja untuk menggoda Raku. Lagipula Mina sudah berkali-kali cerita tentang seberapa besar perasaannya terhadap Raku. Dari curhatannya aku tahu, Mina sangat menyukai Raku, hanya saja Mina tak berani mengungkapkan hal itu pada orang yang ada di belakang ku sekarang ini.
"Hmm," aku menerima sekotak bekal berisi kue cokelat buatannya itu tanpa sepatah kata pun.
"Tu-tunggu!!! Kaito! Kau menerimanya?!!" Teriakan Raku yang mengambil perhatian seisi kelas.
"Heeee!!!! Tapi kan?! Anu ... Itu ...," Pipinya memerah dan ia pasti kehabisan kata kata. Bukan hanya Mina yang sering curhat padaku, Raku juga sering cerita tentang perasaanya ke gadis yang ada di depan ku saat ini. Aku ini hanya semacam kabel penghubung yang dialiri aliran cinta. Tapi aku bersyukur tidak ada cinta segitiga dalam segitiga persahabatan kami. Lebih baik seperti ini, karena mereka cocok menurutku.
"Raku? Kenapa?" Tanya Mina menahan tawanya saat melihat mulut Raku mengangah tanpa gerakan sedikit pun.
"Cih, Rakun payah ...," Aku mengambil sepotong kue cokelat dari dalam kotak bekal Mina yang ada di tangan ku ini. Aku menyumpalkannya kedalam mulut Raku sampai ia tersentak.
"Hoii!! Apa apaan ini?" Ujarnya dengan mulutnya yang penuh dengan kue cokelat.
"Hadiah dari kekasih mu ...," kata ku santai.
"He?!" Mereka berdua saling menatap dengan rona merah di pipi mereka.
"Hmm, sebaiknya kalian berdua mengaku saja ...," aku menyandarkan punggung ku ke dinding yang ada di sebelah kiri ku.
"Haaa?? Gak sudi!!!" Pekik mereka berdua serentak.
__ADS_1
"Tuh kan ... kalian memang cocok." Aku memejamkan mata ku dan terus menggoda mereka berdua dengan santai.
"Mana ada!!" Lagi lagi mereka menyangkal dengan kekompakan yang tak terbatas.
"Udah udah ... Raku, semua tadi cuma bercanda loh ... aku juga gak akan nikung kamu ...," jelas ku memutus kesalah pahaman ini.
"La-lagian aku juga gak masalah kok!" Raku memalingkan pandangannya dan terus mengunyah sisa kue cokelat yang ada di dalam mulutnya
"Ya ya, terserah kalian ... ngomong ngomong makasih cokelatnya Mina ...," aku mengambil sepotong bagian ku dan menikmatinya.
"Ohh, sama sama ...," Mina pasti tersipu malu karenaku tadi. Seru juga menggoda mereka berdua seperti ini. Jujur aku sedikit merasakan kebahagiaan ketika berada di antara mereka.
Tapi, apa ini akan bertahan selamanya?
"Ne, kalian berdua ... apa kita bisa terus seperti ini?" Tanya ku sembari memandang keluar jendela.
"Maksudmu?" Mina mengernyit heran.
"Hmm, yah ... kalau ada pertemuan pasti ada perpisahan kan?" Ujar ku lemas sembari menelan sisa kue cokelat yang lezat ini.
"Oi!! Okino Kaito! Jangan bilang gitu napa?!" Sergah Raku sembari memukul meja dengan kedua telapak tangannya. Dan itu berhasil mengambil perhatian ku dan Mina bersamaan.
"Hideko Raku, Okino Kaito, Hanabi Mina!"
"Kita adalah tiga orang yang tak terpisahkan oleh apapun!"
"Kita akan terus bersama sampai selama lamanya!"
"Sampai kita bertiga dewasa, sampai kita punya anak, sampai kita sudah punya cucu, selamanya kita akan tetap seperti ini!"
"Kalian berdua harus berjanji, kita akan selalu seperti ini selamanya ...," Kata kata Raku dengan penuh kepercayaan diri yang entah datang dari mana.
"Ohh ... Hmm ...," aku dan Mina hanya bisa mengangguk dan terdiam menanggapi ucapan Raku itu.
Ku harap juga begitu, Raku ... tak ku sangka kau adalah orang yang luar biasa ...
-----------------
__ADS_1
Dan sekarang semua itu tinggal kenangan. Kami bertiga telah membuat janji yang mustahil untuk ditepati. Tetap bersama selamaya ya? Itu sama saja melawan takdir. Tentu saja sang takdir tak akan suka jika orang yang ada hubungannya denganku merasakan kebahagiaan bersamaku.