
"Oi? Kenapa bisa luka parah gini?" Suara laki laki yang sangat aku kenal.
Raku?!
Aku tersentak dan langsung bangun terduduk. Setelah menoleh ke segala arah aku sadar sedang berada di atas ranjang ruangan rumah sakit. Dan selain Ai yang berdiri di sisi kiriku, ada Raku dan seorang gadis kecil yang tak aku kenali. Tunggu, jangan bilang Raku sudah punya anak.
"Oi? Loli dari mana itu?" Tanyaku dengan wajah datar.
"Bhwaaa?! Oi!! Jangan sembarangan kalo ngomong!" Raku menunjukku dengan wajah kesalnya.
"Kak Kaito, apa kakak ga apa apa?" Tanya gadis lima tahunan dengan rambut merah muda sebahu itu, bola mata hijau jernihnya itu membuatnya terlihat imut.
"Ohh, iya, namamu?" Tanyaku dengan suara lembut.
"He? Bukanya kakak sudah tau?" Gadis itu meletakan jari telunjuk di dagunya.
"Yukki, dia itu pikun parah ...," ejek Raku dengan wajah datarnya.
"Huoi?! Palamu ya?!" Aku memamerkan tinjuku padanya.
"Kak Kaito jangan marah, namaku Mizuka Yukki, aku tinggal bareng sama kak Raku." Ujar Yukki menarik tanganku berkali kali dengan wajah imutnya.
"Heee?! Tinggal bareng?! Raku?!" Aku langsung berpikiran aneh aneh tentang mereka berdua.
"Hoi, dasar mesum!" Timpal Raku tanpa ekspresi sama sekali.
"Umm, kenapa kalian selalu berantem? Apa aku salah?" Tanya Yukki dengan wajah cemberutnya.
"Ehhh?! Engga engga!" Kataku dan Raku di saat yang sama.
"Oh ya, Ai, siapa yang nganter kamu ke sini?" Tanyaku pada si tuli itu.
"Umm, aku minta Hanabi telepon Pak Fuyu karena perasaanku tak enak." Jawab Ai.
Aku baru sadar, aku hanya mengenakan celana panjang saja. Aku telanjang dada dengan perban yang membalut perut sampai dadaku. Ternyata luka bekas pertarungan tadi cukup parah. Rasa sakitnya bahkan bisa kurasakan sampai sekarang.
Benar juga, malam ini aku ada kencan dengan Ai!
"Ano, Ai? Nanti malam, kita pergi ke festival ya?" Ajakku sembari melempar senyum tipis.
"He? Apa gak masalah?" Pipinya yang memancarkan sedikit rona merah itu selalu mengambil perhatianku.
"Oh iya, kalian mau ikut? Kita ajak Mina sekalian." Raku langsung tersentak saat mendengarku mengeluarkan kata kata itu.
"Ta-tapi," Raku sepertinya masih merasa bersalah telah mrninggalkan Mina tanpa kabar.
"Tenanglah," ujarku santai.
"Oh ya, Ai, apa aku boleh pinjam ponselmu?" Aku baru ingat ponselku hilang dirampas polisi sialan itu.
Dan juga?! Sora?!
"Tunggu, apa kalian tau kabar tentang Sora?!" Aku menerima ponsel Ai dan mulai panik.
__ADS_1
"Ohh, Sora baik baik saja, dia ada di ruangan sebelah." Kata-kata Ai yang membuatku sedikit merasa tenang.
"Dia masih hidup kan?" Aku memastikan bahwa asisten pribadiku itu baik baik saja.
"Iya, dia punya kekuatan regenerasi," Tiba-tiba Fumio ikut masuk ke ruanganku ini.
"Oi? Banyak banget cewemu Kaito?!" Ejek Raku sembari menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Diam kau lolicon," Fumio langsung menyumbat mulut Raku dengan wajah kejamnya itu.
"Kaito, Ai memberitahuku semuanya."
"Jadi yang kita hadapi sekarang adalah dewa kematian kan?"
"Lalu, kau adalah reingkarnasi dewa keabadian yang ia incar." Sontak Raku pun terkejut setelah mendengar semua kata kata Fumio itu.
"Haaaaa?! Si mesum itu dewa keabadian?!" Raku terperanga dan kehabisan kata katanya.
"Aku akan segera membicarakan semua ini pada Arin," ujar Fumio lalu membalikan badannya.
"Siapa itu Arin?"
"Peramal yang selama ini membantu kita." kata-kata terakhirnya lalu keluar dari ruanganku begitu saja.
Aku sangat bersyukur Sora masih hidup setelah kejadian mengerikan tadi. Untung saja dia memiliki kemampuan regenerasi. Tak kusangka ia menyembunyikan kekuatan sehebat itu.
"Kaito, lebih baik kamu istirahat aja malam ini," ucap Ai dengan wajah khawatirnya padaku.
"Ano Kak Raku, aku laper hehe!" Ujar Yukki terkekeh sembari menggaruk kepalanya.
"Ohh, ya udah ayo kita cari makanan," Raku menggandeng Yukki keluar dari ruanganku.
"Oi, Raku! Lebih baik kau langsung ke rumah Mina, kita semua ketemu di sana!" Aku juga butuh penjelasan siapa anak itu dan kenapa ia sudah terlihat bebas dari kejaran Shogun.
"Kaito, jangan berdiri dulu, badanmu masih sakit kan?" Ai menggenggam kedua tanganku dan memintaku duduk di ranjang lagi.
"Ini aku bawain pakaian!" Ai merogoh tas tangan miliknya dan mengambil sebuah kemeja putih bersih.
"Ohh, makasih," ucapku lalu segera memakai kemeja itu dan menutup semua kancingnya.
Dan sekarang aku kehabisan kata kata. Aku masih bingung dengan kejadian yang aku alami barusan. Mulai dari kenyataan bahwa Yume sudah tiada, dan juga aku baru saja bertarung dengan Gillbert. Aku bertarung dengan diriku yang dulu, tapi pertanyaannya adalah, kenapa dia bisa ada di sini?
Tunggu! Aku meraskan aura Tenshi yang asing, aku bisa merasakan ia berada di depanku sekarang ini. Tapi dimana?!
Perasaanku kok ga enak ya.
"Kamu kenapa ada yang salah?" Tanya Ai seraya duduk di kursi yang ada di sisi kiri ranjangku ini.
"Ada sesuatu, yang akan terjadi," aku tetap memasang mata dan telingaku bersiap akan sesuatu yang tak terduga.
Dan benar saja, butiran-butiran cahaya perlahan berkumpul di depan pintu masuk ruanganku ini. Tentu aku langsung berdiri dan meminta Ai berlindung di balik punggungku. Perlahan tapi pasti butiran cahaya tadi membentuk seperti tubuh manusia. Mulai dari tangan, kaki, lalu kepala. Setelah semua terbentuk sempurna, cahaya itu berubah menjadi manusia seutuhnya.
Laki-laki seumuran denganku. Rambut hitam, dan mata kecoklatan. Ia mengenakan seragam SMA yang sudah compang camping dan penuh bekas darah. Terlihat dari beberapa luka goresan dan tusukan. Sepertinya dia baru saja bertarung dengan seseorang. Dia bukan orang jahat, aku yakin itu.
__ADS_1
"Akhirnya," ucapnya dengan senyum tipis.
"Oi?!" Ketika melihatnya hendak jatuh tersungkur, aku segera menangkapnya dan membantu menopang tubuh lemas tak berdaya itu.
"Ada apa?! Siapa kamu?!" Tanyaku bingung dan panik.
"Aku ... aku Kazuma ...," ucapnya lemas.
Dan sontak aku pun terbelalak mendengar namanya. Dia adalah penjelajah takdir yang diceritakan Yume beberapa waktu lalu. Kazuma adalah reingkarnasiku yang bisa menghubungkan Earth satu dengan yang lain. Singkatnya dia bisa pergi ke dunia paralel dengan kekuatanya.
Kenapa dia ada di sini?!
"Namamu?" Tanyannya sembari meringis kesakitan karena luka-luka di sekujur tubuhnya itu.
"Kaito!"
"Ohh, kuharap kali ini aku pergi ke tempat yang tepat." Aku bisa merasakan kesadarannya mulai menghilang, aku pun membantunya untuk duduk di lantai. Aku menyandarkan punggungnya ke dinding yang ada di samping pintu masuk ruangan ini.
"Ada apa?! Apa ada sesuatu yang terjadi?!"
"Shinjiro, dia berhasil mengalahkanku, dan aku ingin memberi tahumu sesuatu." Ia mulai menutup kedua kelopak matanya.
"Apa itu?!"
"Jika dia berhasil mengalahkan diri kita ... dia akan mendapatkan kekuatan yang kita miliki." Fakta mengejutkan yang baru aku tahu sekarang ini.
Itu berarti! Jika Ia berhasil mengalahkan Kazuma, Shinjiro bisa menggunakan Parallel Fate?!
"Nee, Kaito, kuharap kau bisa menghentikan semua ini, segera!"
"Aku tak ingin melihat Munmei menderita ...,"
"Berjanjilah padaku ...,"
"Berjuanglah!"
Bwush!!!
Setelah Kazuma mengatakan pesan terakhirnya, tubuhnya langsung pecah menjadi butiran cahaya lalu lenyap begitu saja. Kepalaku semakin pusing dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa tanda tanda Kazuma muncul dan menghilang meninggalkan berjuta juta pertanyaan di kepalaku ini.
"Haaaaghh!!!" Aku memukul dinding dan menempelkan keningku disana.
"Kenapa hidupku semakin membingungkan!!??"
"Apa aku tak bisa tenang sehari saja!!?"
"Kaito, apa kamu ga apa apa?!" Ai menghampiriku dan menyentuh pundakku dengan tangannya.
"Hmm, cuma pusing sedikit," aku berbalik dan menyandarkan punggungku ke dinding.
Jika Shinjiro bisa menggunakan Parallel Fate maka jelas sudah kenapa aku bisa berhadapaan dengan Gillbert. Dia memanfaatkan diriku di masa lalu untuk membunuh diriku sendiri?!
Astaga!! Apa lagi yang akan terjadi?!
__ADS_1