
Pyar!!!
Aku menerobos masuk ke kamar Mina dari jendelanya yang masih tertutup rapat. Aku terjun dari atas atap rumah tetangganya dan memecahkan kaca jendelanya menggunakan kedua kakiku. Pecahan kaca menyebar disertai suara teriakan Mina yang sangat kencang. Sial, dia malah menarik pehatian para ninja itu.
"Aaaaaa!!! Ka-Kaito? Gimana bisa?!" Teriak Mina yang hendak mengambil tas tangan di atas meja belajarnya itu.
"Mina! Diem dulu!" Aku segera menarik tangannya supaya ia berdiri di belakang ku.
"Kaito?! Ada apa?!" Tanya Mina kebingungan sekaligus takut.
"Ceritanya panjang, tutup mata dan telinga mu kalau bisa!" Aku menarik Kensetsu-ku keluar dari sarungnya.
"Memangnya ada apa sih!?"
Duar!!!
Pintu kamar Mina yang tadinya tertutup rapat tiba tiba terbuka lebar disertai kepulan asap putih yang menghalangi pandanganku. Aku sempat melihat kilatan cahaya dari balik asap itu, dan itu pasti adalah Shuriken yang mereka luncurkan. Dan benar saja, tiga Shuriken melesat tepat ke kepalaku. Tapi tentu aku tidak akan terluka karena mainan anak kecil itu. Aku menangkis ketiga Shuriken itu dengan Katana-ku dan membuat Shuriken itu berjatuhan ke lantai dengan bunyi gemerincing yang khas.
"Mau apa kalian kesini?!" Teriakku sembari terus menggenggam gagang Katana-ku kuat-kuat.
"Itu bukan urusanmu!" Salah satu dari mereka melesat keluar dari kepulan asap itu. Dia berusaha mengayunkan pedangnya itu padaku.
Trank!!!!
Suara pedang kami yang beradu, bunga api keluar dan menyebar ke segala arah. Aku menatap mata ninja itu tajam. Rupanya Shogun hanya mengirim ninja Genin, untunglah kalau begitu. Aku bisa mengatasi mereka dengan cepat dan segera berangkat ke sekolah. Kepulan asap itu memudar dan terlihatlah dua orang ninja dengan ikat kepala yang tak kukenal, mereka hanya memiliki titik di tengah ikat kepala mereka. Berbeda dengan ninja yang sedang berhadapan denganku. Dia memiliki tanda huruf G yang menandakan bahwa dia berpangkat Genin.
Cih, apa peduliku!
"Kalian mau melukai sahabatku?"
"Kalian harus lebih kuat seribu kali!!" Dengan cepat aku melompat dan mendarat di atas punggung Genin itu.
Jrak!!!
Aku menusuk kepalanya tanpa rasa ragu sedikitpun. Darah mencucur keluar dan muncrat ke segala arah. Aku mencabut Katana-ku dari kepalanya dan berlanjut dengan kedua ninja yang ada di belakangku. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam.
"Teknik angin: Hembusan tak terlihat!" Aku melesat maju seperti angin musim semi tanpa suara sedikitpun. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di luar kamar Mina dan kedua kepala ninja yang ada di belakangku sudah lepas dari badannya. Darah menyebar ke segala arah, lantai kamar Mina sudah dibanjiri darah merah yang amis. Dinding kamarnya juga memiliki bercak darah karena pertarungan singkat tadi.
"Cih, akhirnya ...," aku memasukan bilah Kensetsu ke dalam sarungnya yang ada di pinggang kiriku. Perlahan aku melangkahi ketiga mayat yang tergeletak itu untuk menghampiri Mina yang terpaku padaku dengan tatapan kosong. Sial, tenyata dia tidak menutup mata dan telinganya. Pasti dia syok berat melihatku membunuh mereka dengan keji seperti ini.
"Mina?" Panggilku perlahan untuk memastikan keadaannya.
__ADS_1
"Aaaaaaaahhhhh!!!!" Teriakan Mina yang hampir memecahkan gendang telingaku. Air matanya juga ikut mengalir keluar. Ia menutup kedua telinganya dan memejamkan kedua matanya pula. Dan itu semua sudah terlambat, kenapa dia baru menjalankan perintahku sekarang? Dasar *****.
"Mina?! Maaf, banyak hal yang belum kamu ketahui ...," aku memeluk sahabat lamaku itu erat erat untuk menenangkan hatinya.
"Kaito!? Jangan bilang sekarang kamu jadi pembunuh!!?" Pekik Mina sembari terus mengalirkan air matanya keluar.
"Engga, ya, engga salah juga sih ...," aku bingung harus menjelaskan mulai dari mana dulu.
"Aku takut ...," katanya lirih sembari membalas pelukanku.
"Hmm, maaf membuat rumahmu kotor." Aku mengambil ponsel dari dalam saku celana dan langsung menelepon Fumio.
"Halo? Apa Mina sehat?" Tanya Fumio setelah menerima teleponku.
"Hmm, tapi apa ada yang bisa membersihkan rumahnya?" Aku yakin DH memiliki tim khusus yang menangani hal seperti ini.
"Tentu, dan jika kau bingung, lebih baik bawa teman mu itu kesini." Kata kata itulah yang kuharapkan keluar dari mulut sang ketua.
"Hmm makasih," aku memutus sambungan telepon kami dan kembali memasukan ponsel ke dalam saku celanaku.
"Mina, kita ke ...,"
Boom!!!
"Jangan bilang ...," terbelalak saat merasakan ponselku kembali bergetar tanda pesan masuk.
{Kaito!}
{Rumah Raku di bom!!}
{Ternyata}
{Mina hanyalah pengalih!}
{Menurut info, Raku masih ada di dalam rumahnya} Chat beruntun dari Taki, si intel berkacamata itu.
"Gak mungkin ...," tubuh ku membeku setelah membaca pesan yang baru saja di kirim Taki padaku. Mataku terbuka lebar, sangat lebar memandangi kepulan asap hitam itu.
"Ka-Kaito?" Mina kebingungan melihat aku yang terpaku dan tak bergerak sama sekali.
"Raku, dia ...," aku menjatuhkan ponsel ku dan terduduk lemas di lantai.
__ADS_1
Apa takdir kembali merebut seseorang dariku?
Apa aku kalah lagi?
Apa Raku jadi korban karena kesalahan ku?
Apa aku berbuat kesalahan?
Aku, aku tidak berguna ...
"Kaito!! Jangan bilang itu rumah Raku yang meledak!?" Mina langsung berlari keluar dari kamarnya dan tak memikirkan mayat yang bergeletakan di lantai kamarnya itu.
Mina?!
Aku tersadar dan langsung melompat keluar jendela untuk mengejar Mina yang sudah berlari menuju sumber ledakan tadi. Aku meninggalkan Kensetsu-ku di atas ranjang Mina, pasti akan ada orang DH yang mengambilnya nanti. Yang penting sekarang adalah nyawa Mina yang bisa saja berada dalam bahaya.
"Mina!!! Tunggu aku!!!" Teriak ku sembari terus mengejarnya yang berlari sangat cepat itu. Seiring berjalanya waktu, asap itu semakin dekat. Aku terus mengejar Mina sembari berharap bukan rumah Raku yang meledak. Walau aku sudah mendapat pesan dari Taki yang mengatakan Rumah Raku meledak bersama dengan pemiliknya di dalam. Semakin dekat kami dengan sumber ledakan, kerumunan orang mulai terlihat di tengah jalanan.
Mina menerobos masuk melewati keramaian itu dan aku terus mengikuti jejaknya. Aku terus maju tak peduli seberapa banyak orang yang menghalangi langkahku.
"Raku!!!" Teriakan Mina yang masuk ke lubang telingaku. Sesaat setelah aku keluar dari kerumunan orang banyak itu, aku melihat Mina yang berlutut memandangi rumah Raku yang hancur dan termakan kobaran api besar. Aku langsung menghampirinya dan memeluknya dengan hangat. Aku tahu hatinya pasti sangat hancur menyadari orang yang ia sukai lenyap entah kemana.
"Mina, maafkan aku!" Ucapku sembari terus memeluknya.
"Tidak, Raku pasti masih ada di dalam! Aku akan masuk!!" Ia mulai kehilangan akal sehatnya. Aku menahannya walau dia meronta ingin lepas dari pelukanku.
"Kaito!!! Biarkan aku masuk!!!" Teriak Mina dengan tatapan kosong disertai air matanya yang sudah mengering.
"Mina!!! Jangan bodoh, Raku bisa saja masih hidup!"
"Jika kau masuk, kau bisa mati sia sia, aku tak ingin kedua sahabatku lenyap dari dunia ini tau!!"
"Aku tidak ingin kehilangan temanku lagi!!!" Bentakanku itu menghentikan niatannya dan membuatnya kembali menangis di pelukanku.
"Maaf Kaito ... aku ... aku cuma ...,"
"Aku tau, kamu pasti takut dan bingung. Tapi jangan sampai kehilangan akal!"
-------------------
__ADS_1
Agak telat tapi ya sudahlah ...
Leona Emilia alias Ema