Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 63


__ADS_3

Kaito


Cahaya lampu lampu yang menerangi ruangan. Dinding warna putih yang membuat kesan bercahaya di ruangan ini. Meja besi bundar warna hitam yang ada di tengah ruangan. Logo Demon Hunter yang terpajang di dinding belakang tempat duduk Fumio.


Aku, Kakume, Haru, dan Fumio kembali berkumpul di ruang rahasia markas ini. Kami duduk di atas kursi mengelilingi meja yang ada di tengah ruangan ini.


Walau kepalaku masih di balut dengan perban putih, tapi tubuhku merasa jauh lebih baik hari ini. Mata kiriku juga masih terasa sakit dan tertutup dengan perban ini juga. Walau begitu aku harus menjalankan misiku hari ini, tanpaku, teman teman pasti sangat kesulitan.


"Kaito? ... apa tak masalah kalau kamu ikut hari ini?" Tanya Haru khawatir.


"Hmm ...," aku hanya mengangguk.


"Tak ku sangka teman satu tim kita ini masuk ke daftar Tenshi terkuat ...," ujar Kakume.


"Ha? ... Tenshi terkuat?"


"Oh ... iya aku akan menjelaskan satu hal lagi padamu anak baru," kata Fumio sembari melepas kacamatanya.


"Apa?"


Para petinggi Demon Hunter juga membuat daftar Tenshi terkuat yang ada di dunia ini. Tidak kusangka, namaku ada di nomor dua di daftar itu. Aku juga tak terlalu terkejut, lagi pula dari awal sang peramal di Demon Hunter menjulukiku dengan nama sang terpilih.


"Tenshi yang berada di peringkat pertama namanya adalah Akiba Takumi"


"Aku bahkan tak tahu kekuatan apa yang sebenarnya dia miliki ..."


"Setahu ku ... dia tak pernah menggunakan tangannya sama sekali dalam pertempuran ..."


"Artinya ... dia belum pernah serius dan mengeluarkan semua kekuatannya", jelas Fumio.

__ADS_1


"Beruntung juga kalian punya anggota sepertinya ..."


"Itu dia masalahnya ...," Fumio memejamkan matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Takumi ... sudah keluar dari Demon Hunter ...," kata Kakume lemas.


"Dan yang lebih mengejutkan ... dia bergabung dengan Enjeruhanta," timpal Haru.


"Ha? ... Tenshi masuk ke Enjeruhanta? ..."


Apapun yang dia lakukan, pasti memiliki alasan. Sang Tenshi terkuat berbalik melawan teman temannya sendiri. Tak lain dan tak bukan, pasti ini karena ulah takdir.


"Cih ... sudahlah ... dimana misi kita malam ini?" Aku segera ingin mengakhiri malam ini dan pulang ke rumah secepatnya.


"Hutan Hagume ... hutan lebat yang ada di sekitar wilayah Chizu," jelas Fumio.


Wilayah Chizu adalah nama wilayah dimana kami berada sekarang. Wilayah ini berisi pemukiman dan sekolah. Wilayah ini berada di pinggiran kota Natsu. Chizu tidak terlalu ramai seperti pusat kota. Tapi hal itu lah yang membuat Chizu cocok bagi tempat tinggal dan tempat sekolah.


Malam ini, kami akan menuju hutan itu untuk menyelesaikan misi malam ini. Entah kenapa perasaanku sedikit tidak enak malam ini. Meski begitu, aku akan tetap menjalankan misi malam ini bersama mereka. Tak peduli apapun rintangan yang ada di depan, aku pasti akan melindungi mereka.


"Baiklah ... dengan ini aku nyatakan misi di mulai!" Seru Fumio.


"Oke Fumio-chan ... ayo Haru!"


"Kaito ... kami tunggu di depan pintu ya?"


Haru dan Kakume melangkah masuk ke lift rahasia dan kembali naik ke atas. Fumio memintaku untuk tetap di sini sejenak. Sepertinya dia akan mengatakan suatu hal penting lagi.


"Kaito ... dia di sini ...," kata Fumio setelah menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Siapa? ... jangan bilang ..."


"Hmm ... Akiba Takumi," ucapnya mengangguk perlahan dengan mata terpejam.


"Tolong jaga Yuriru dan si payah itu ya ..."


"Hmm ... pasti", aku berdiri dari tempat dudukku.


"Yang dia incar hanya aku ... aku tak akan biarkan dia menyentuh Haru atau Kakume ..."


"Dan juga ... tak peduli seberapa kuatnya dia ... aku tetap akan melindungi kalian," kata kata terakhir yang kuucapkan sebelum aku masuk ke lift dan kembali berada di lantai dua rumah yang digunakan sebagai markas rahasia ini.


Aku menuruni tangga perlahan menuju ke pintu depan rumah. Haru dan Kakume sudah menungguku di depan pintu yang terbuka lebar itu.


"Hua ... sang pahlawan sudah muncul", ujar Kakume dengan senyuman ejekannya itu.


"Apa kamu siap Kaito?" Tanya Haru dengan senyumannya itu.


"Hmm ...," aku hanya mengangguk.


"Sebelum kita berangkat ... aku minta kalian harus hati hati ..."


"Terutama kamu si pikun ... kamu harus jaga Haru apapun yang terjadi nanti ..."


"Aku akan menjaga kalian berdua sekuat tenaga," lanjutku.


"Wah ... Kaito sekarang seperti pahlawan sungguhan ...," ejek Kakume.


"Dan Haru ... aku minta kamu percaya pada kekuatan mu sendiri ...," ucapku menepuk pundak Haru.

__ADS_1


Tuhan, tolong lindungi kami malam ini. Berikan aku kekuatan untuk melindungi senyuman itu di wajah mereka.


__ADS_2