
Kaito
"Kaito? Apa kamu yakin?" Suara merdunya itu kembali terdengar.
Lampu kamar yang bersinar terang. Tirai jendela yang tertutup rapat. Buku buku yang tertata rapi di atas meja belajarku. Aku duduk di depan meja belajarku dan menggenggam sebuah pulpen. Di atas meja, tepat di depanku ini terdapat satu buku naskah yang masih kosong melompong. Malam ini, aku akan mulai menulis novel untuk menepati janjiku pada si tuli itu. Lebih cepat, lebih baik kan?
Mirai Ai, gadis cantik yang memiliki kekurangan. Ia duduk tepat di sisi kananku. Mengenakan kaos putih dan celana pendek warna ungu. Rambut hitamnya yang terurai, aku bisa mencium aroma parfum dan shampo miliknya.
"Hmm, aku yakin ... apa kamu mau nemenin aku?" Tanyaku tanpa menatapnya sama sekali.
"Iya lah, kamu kan lagi sakit ...," Ai menarik lengan kaos ku berkali kali.
"Hmm, terserah ...," gumamku sembari berpikir keras membuat kerangka novelku ini.
Aaaghh ... dari pada pusing lebih baik ...
Aku mulai menggoreskan ujung pulpen di tanganku ke atas halaman buku naskah di hadapanku. Aku menulis nama nama tokoh yang akan ada di dalam novelku ini. Tentunya aku menggunakan nama nama asli dari orang yang sesungguhnya. Aku memasukan teman teman yang ada di sisiku ke dalam cerita ini. Aku tak ingin berpikir terlalu keras untuk cerita yang tak penting ini.
"Kaito? Apa mau aku ambilin cemilan?" Saat Ai hendak berdiri dari bangkunya, aku menahan tangannya dan membuat ia kembali duduk.
"Jangan, tetaplah di sini ...," aku melepas genggaman tanganku dan kembali lanjut menulis. Setelah selesai membuat daftar tokoh, aku segera memikirkan judul yang pas buat ceritaku ini.
"Ai, Mirai no Ai ... Mirai to Ai ..., Ai no Mirai ...," gumamku terus memutar otak untuk menemukan judul yang cocok. Di saat yang sama Ai meletakan kepalanya di atas meja belajarku, ia menggunakan kedua tangannya sebagai alas untuk kepalanya itu. Dia menoleh ke arahku dan memandangiku dengan kedia bola matanya yang indah itu.
"Unmei to Shiawase ...," suara kecil yang keluar dari si tuli itu.
Takdir dan Kebahagiaan? Mungkin itu judul yang cocok ...
"Ai, makasih ...," aku langsung menulis judul itu, langkah selanjutnya adalah menulis garis besar novelku ini. Mungkin aku akan buat keadaan di cerita sama persis dengan keadaan di duniaku sekarang ini. Tidak, aku akan membuat semua orang merasakan kebahagiaan. Aku akan membuat Mina dan Raku hidup bahagia, aku akan membuat Takumi bahagia bersama tunangan dan adiknya. Aku akan membuat Ai bisa mendengar kembali. Aku akan membuat Ema kembali melihat, aku akan membuat Mirai bisa berbicara dengan normal. Dan juga Fumio dan timnya masih utuh dan tak satu pun dari mereka yang gugur dalam pertempuran. Dan tak lupa juga Saika, aku akan membuatnya mempunyai tubuh yang sempurna dan bisa merasakan kelembutan bulu kucing dengan telapak tangannya. Dunia yang sempurna dan penuh dengan kebahagiaan.
Baiklah, aku sudah menulis setengah bagian dari garis besar ceritaku, sekarang aku mulai menulis
Suara detak jam dinding menemani kami berdua di sini. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Sunyi, sepi, hangat, dan nyaman. Tanpa sadar jarum pendak jam sudah berjalan ke angka berikutnya. Satu jam sudah ku lewati, aku berhasil menulis sekitar tiga halaman saja. Mataku lelah, dan aku baru sadar, pengelihatanku sedikit buram saat melihat tulisanku sendiri. Mungkin ini adalah efek samping Light Chaser, kekuatan sebesar itu pasti juga mengambil sesuatu yang penting dariku. Di dunia ini, kekuatan yang besar juga membutuhkan pengorbanan yang besar pula.
Aku memalingkan pandanganku dan melihat Ai yang tertidur di sampingku. Ia tidur dalam posisi duduk dan kepalanya berada di atas meja belajarku. Dia pasti lelah menungguku, dasar aneh. Untuk apa dia menemaniku coba?
__ADS_1
"Ai? Apa kamu mau tidur?" Aku menggoyangkan bahunya perlahan.
"Hmm?" Ia terbangun dan mengangkat kepalanya. Matanya masih sipit dan terlihat berat baginya untuk menjaga kedua kelopak matanya itu untuk tetap terbuka.
"Ku anter ke kamar Hanabi ya?" Ucapku seraya bangkit berdiri dari kursiku.
"Emm ...," Ai menggenggam tangan kananku. Entah kenapa perasaanku jadi tak enak.
"Kenapa? Kamu sakit?" Tanyaku memastikan keadaanya.
"Aku mau tidur sama kamu ...," permintaan yang sama sekali tak kuharapkan, lagi lagi si tuli itu membuat ku terkejut.
"Ai, kamu tidur di kamar Hanabi aja ya?" Aku berusaha menolaknya dengan halus, aku hanya berharap caraku kali ini berhasil.
"Gak mau," lagi lagi dia memaksakan kehendaknya.
"Ya udah, kamu tidur di sini ... tapi aku tidur si sofa ruang keluarga loh." Aku melangkahkan kaki ke arah pintu keluar kamarku.
"Aku ikut, aku mau nonton film ...," ucap Ai dengan matanya yang sipit karena kantuk. Aku yakin kata katanya barusan hanyalah alasan, dia pasti hanya ingin bersamaku, tapi ya sudahlah.
"Hmm," aku langsung membuka pintu kamar lalu menuruni tangga ke lantai satu rumahku. Setelah sampai di ruang keluarga, aku segera duduk di sofa panjang warna hijau. Aku memperhatikan si tuli itu sampai ia duduk di samping kananku lagi.
"Enggak ah, aku mau nonton ...," Ai mengambil remote yang tergeletak di atas meja kaca kecil di depan sofa. Dia menekan tombol dan layar televisi yang menempel di dinding itu langsung menyala secara otomatis.
"Hmm, terserah ...," aku menyerah mengingatkan si tuli keras kepala itu. Kami berdua pun menyaksikan anime movie yang diputar di salah satu stasiun televisi. Beberapa kali aku melirik ke arahnya, beberapa kali pula aku melihatnya menahan matanya agar tetap terbuka. Segitunya dia menahan kantuknya demi terus berada di sampingku. Ya, sudahlah, aku akan menunggu sampai ia tertidur lalu aku akan menggendongnya ke kamar Hanabi. Berdoa saja semoga rencanaku ini berhasil.
"Kaito? Apa boleh?" Ai menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Dan anehnya, dia meminta persetujuanku. Dasar cewek aneh, tapi itulah yang membuatku semakin jatuh cinta padanya.
"Hmm, boleh," jawabku tanpa menatapnya sama sekali.
"Kaito, apa tahun depan kita pisah?" Pertanyaan yang pasti dia tahu jawabannya.
"Hmm, cuma setahun aja kok, nanti juga aku balik." Ucapku tetap fokus memandang layar televisi.
"Setahun itu lama loh," suara indahnya itu masuk ke lubang telingaku.
__ADS_1
"Hmm, kalo gitu, mungkin setiap musim aku akan berkunjung ke sini." Aku berusaha membuat Ai tetap tenang dan tak terlalu berpikir tentang tahun depan.
"Umm,"
"Kaito, apa kamu lebih memilih Saika dari pada aku?" Aku tak mengharapkan pertanyaan itu keluar sekarang. Jujur aku membenci pertanyaan itu.
" ... "
Aku hanya diam seribu bahasa, aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena pertanyaan itu menyangkut nyawa salah satu dari mereka berdua. Mungkin aku memang lebih mencintai Ai, tapi aku juga tak ingin membunuh Saika dengan kata kataku.
"Kaito?"
"Ai, jangan sekali kali tanya hal itu lagi, kamu membuatku pusing." Ujarku sedikit kesal. Masalahku bukan hanya itu, sekarang aku juga berpikir tentang Mina. Dia pasti hancur karena kehilangan Raku. Aku semakin membenci dunia ini. Masalah selalu saja datang dan mengambil senyuman teman temanku.
"Maaf, aku membuatmu marah." Kata Ai dengan suara lirihnya.
"Hufff ..." aku menghela nafas berusaha melupakan semua masalahku sejenak.
"Besok kita berangkat bareng kan?" Lanjutnya kembali bertanya.
"Hmm," aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya itu. Aku juga berharap sesuatu yang baru terjadi besok. Kejutan yang bisa membuat Mina tidak terlalu memikirkan kepergian Raku. Tolong, aku tak ingin sahabatku terus bersedih.
"Ai, jika kau punya anak, kau ingin memberi nama dia siapa?" Entah kenapa aku teringat dengan Mi-chan dan pertanyaan itu asal keluar saja dari mulutku.
"He?! Kenapa tiba tiba tanya begitu?!" Ai tersentak dan duduk tegak saat mendengar pertanyaanku barusan.
"Emm, maksudku ... cuma semisal aja kok, jangan pikir yang aneh aneh." Aku malah malu sendiri setelah menyadari pertanyaan anehku yang tiba tiba itu.
"Ohh, mungkin ... Mizuka, kalo laki laki mungkin Hiroki." Ucapnya meletakan jari telunjuk di dagu dan sedikit memiringkan kepalanya.
Mizuka? Mi-chan ... apa ini kebetulan? Aaaaa?! Kalau begitu ...
"Kalau kamu?" Ai menarik lengan kaosku.
"He?!" Aku tersentak dan tersadar dari lamunanku.
__ADS_1
"Umm, Miyuki, dan kalau laki laki ... Kai." Entah kenapa aku malah ikut ikutan menambah kebingungan. Aku asal menyebut nama tanpa berpikir terlebih dahulu. Dan hasilnya, dua huruf depan nama perempuannya bisa jadi Mi-chan.
Aaaghh ... kenapa aku menjawabnya?! Bukanya lebih baik aku diam saja?!