Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 78


__ADS_3

Tak~


Setelah keluar dari ruang komputer kami melakukan tos. Kakume terlihat sangat senang dan geli setelah melihat reaksi si gendut itu tadi. Kami berdua melangkah kembali ke ruang klub sastra.


"Hahaha ... kau lihat reaksinya tadi? ...", ucap Kakume terpingkal pingkal.


"Tak ku sangka kemampuan mu itu sangat berguna ...", ucap ku dengan wajah datar.


"Ya sudah selesaikan urusan mu dengan pacar mu ... aku akan menghibur diri ku hehe ...", ujarnya tersenyum jahat.


"Kakume ... jangan bilang ..."


"Betul sekali ... aku akan ke kemar mandi menggunakan Stealth ku mwehehe", kata Kakume lalu menghilang ditelan bumi.


Kakume tetaplah Kakume. Dia hanya kesini untuk mengintip para gadis di toilet. Entah kenapa aku mulai terbiasa dengan otak kotornya itu. Aku pun kembali masuk ke ruang klub sastra. Si tuli itu masih duduk dan asyik membaca novelnya.


"Ohh ... Kaito", dia kembali melempar senyuman indahnya itu pada ku.


Aku hanya diam dan kembali duduk di bangku yang ada sampingnya. Aku menarik ponsel dari saku celana ku dan berpura pura sibuk di depannya.


"Ano ... Kaito ... apa malam ini kamu akan pergi lagi?", tanya Ai menarik lengan seragam ku berkali kali.


"Iya ..."


"Ohhh ... gak bisa makan malem bareng ya? ...", Ai menutup halaman novel nya dan menatap ku.


"Hmm ... aku bakal pulang lebih awal malam ini ... masih belum ada misi kok ..."


"Haa? ... beneran kah? ... kalo gitu aku dan Hanabi bakal masakin masakan spesial!", ujarnya dengan senyum lebar dan kedua matanya yang berbinar itu.

__ADS_1


"Ohh ... gak perlu repot repot ...", aku merasa bersalah karena membuat si tuli itu harus menunggu ku sampai larut malam.


"Eh? ... enggak kok ... Itung itung buat bales kebaikan mu tau ... masa aku tinggal di rumah mu tapi gak ngapa ngapain ...", Ai nampak senang dan sangat menantikan malam nanti tiba.


"Ai, apa Hanabi sering merepotkan mu?", tanya ku menyadari sifat adik ku yang memang suka membuat ulah.


"He? ... enggak kok ... justru aku yang ngerepotin, kadang kadang dia sampai kesel karena aku gak bisa denger dia ngomong apa ...",


"Ohh ... ya udah ... ayo pulang bareng ... sekalian aku mau berangkat ke markas", aku berdiri dan menggendong ransel ku.


"Ohh ... iya iya!", Ai mengambil tasnya dan membereskan barang barangnya.


-----------------------


Setelah mengantar Ai pulang ke rumah ku. Aku kembali ke markas tim ku yang tak jauh dari rumah ku. Aku masuk dan sudah di sambut oleh si pirang mesum itu.


"Hoi ... selamat datang!", Kakume membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk.


"Eh eh ... anggota barunya udah dateng loh ... kata Haru ada dua cewek cantik yang ada di dalam ruang rahasia ...", ujar Kakume menyenggol ku dengan sikunya.


"Kata Haru? ... kok kamu belum masuk?", tanya ku mengernyit heran.


"Aku nungguin kamu ... hehe ... masa aku cowok sendirian di dalem ...", Kakume terkekeh dan langsung menaiki tangga menuju ruang lift.


Kami berdua pun masuk ke lift dan turun ke bawah tanah. Setelah lift berbunyi, pintu pun terbuka lebar. Dan terlihatlah dua orang yang tak ku kenal berdiri dan berbincang bincang dengan Fumio. Salah seorang dari mereka adalah gadis dengan setelan jas merah. Gadis yang satunya memakai jubah warna putih.


"Ohh ... Kaito ... salam kenal ... Aku Shizuta Renai ... agen intelejen dari Demon Hunter", kata gadis yang mengenakan jubah warna putih itu.


"Aku adalah The Dark Shield", kata gadis rambut putih dengan panjang tak sampai sebahu yang memakai setelan jas merah itu.

__ADS_1


"Saika!! ...", Renai memukul kepala gadis yang bernama Saika itu.


"Maaf Kaito ... namanya adalah Hikaru Saika ... dia adalah murid ku ...", ucap Renai.


"Hoi hoi ... Kaito ... Saika lumayan ya? ... lihat itunya ... besar juga ...", Kakume berbisik perlahan kepada ku.


Hikaru Saika, gadis yang memiliki tubuh yang bisa di bilang indah. Kulitnya yang putih mulus itu pasti membuat mata Kakume tertarik. Warna matanya hampir mirip seperti Ai, hanya saja mata Saika tidak terlalu memantulkan cahaya. Wajahnya yang datar itu mengingatkan ku pada Ema.


Sedangkan Renai memiliki kulit yang kecoklatan. Warna rambutnya putih, sama seperti Saika. Matanya yang coklat itu menambah kesan eksotis dalam dirinya. Dan dilihat dari jubah putihnya itu, dia sepertinya memiliki pangkat yang tinggi di DH.


"Saika ... mulai sekarang ... kamu adalah bagian dari mereka ... kamu harus sopan ya?", kata Renai melempar senyumnya pada Saika yang selalu memasang wajah dinginya itu.


"Aku gak akan sopan sama orang mesum yang ada di samping Kaito senpai itu ...", Saika menunjuk Kakume dengan tatapan dingin nya.


"Ha?! ... Aku?!", Kakume terbelalak karena kata kata Saika barusan.


"Mampus kamu Kakume ... tertolak sebelum memulai ...", ejek ku dengan senyuman lebar.


"Kaito ...panggil saja aku Ren ... aku ingin bicara satu hal dengan mu ...", ucap Ren melangkah mendekati ku.


"Ada apa?", tanya ku bingung.


"Sudah ... ayo ... kita duduk di meja makan aja ...", Ren menarik tangan ku dan memaksa ku kembali masuk ke dalam lift.


"Haa ... kenapa Kaito yang selalu di pilih seh?! ...", ujar Kakume lemas.


"Karena kamu mesum ... dasar tolol!!?", Fumio menarik daun telinga Kakume dengan kasar.


__ADS_1


Hikaru Saika


__ADS_2