Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 77


__ADS_3

Bau debu bercampur kertas kertas tua. Dua rak buku besar yang ada di kedua sisi ruangan itu masih saja berdebu. Meja besar yang ada di tengah ruangan. Sinar mentari sore yang ikut masuk melalui jendela yang terbuka. Tirai yang terkadang bergerak tertiup angin.


Aku kembali duduk di samping gadis tuli yang sibuk membaca novel yang ada di tangannya itu. Senyum tipis pada bibir merah meronanya itu, berapa kali pun aku berusaha mengalihkan pandanganku. Mataku selalu kembali tertuju padanya.


"Kaito ... makasih ya ...," ucap Ai tetap fokus membaca novel yang ada di tangannya itu.


"Buat apa?"


"Walaupun aku gak denger ... tadi pagi, mereka semua ngejek aku kan?",


Aku pun hanya diam dan kehabisan kata kata. Aku tak tahu harus berbuat atau berkata apa lagi padanya.


"Sejak kecil ... aku sudah terbiasa kok ... gak perlu mikirin aku ..."


Dia pasti sudah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari pada kejadian pagi tadi. Dan mungkin berkali kali, aku tak tahu apa yang si tuli ini lewati dalam hidupnya. Tapi melihatnya tinggal sendiri di rumah dan mengalami hal buruk di sekolahnya. Aku, hatiku sedikit merasa sakit.


"Aku akan membalasnya ...," gumamku sangat perlahan.


"Tolong jangan cari masalah ya ... gak perlu cari orang yang fitnah aku ...," ucapannya itu membuatku langsung menoleh kepadanya.


"Ai?"


"Ano ne ... Kaito ... sebenernya ... alat bantu dengarku ini gak pernah berfungsi ..."


"Aku gak tau ... tapi aku hanya bisa mendengar suaramu aja ...," Ai menutup novel yang ada di tangannya.


"Aku senang ... akhirnya aku bisa mendengar suara mu ...," Ai membendung air matanya.


Apa?! ... jadi selama ini dia hanya bisa mendengar suara ku?!


"Kaito ... makasih ya ...," Ai tersenyum walau air matanya mulai mengalir keluar.


"Untuk apa?"


"makasih udah mau jadi temanku," kata kata itu, sama seperti yang ka katakan saat hari pertama kami bertemu.


Waktu seolah olah membeku di sini. Aku hanya bisa melihat senyuman di wajahnya itu. Aku tak lagi bisa membuka mulutku. Mataku sedikit terbelalak setelah mendengar kata katanya tadi.


"Ne ... Kaito ... kata terima kasih itu bukan hanya dariku ... Ema dan Mirai juga ikut berterima kasih pada mu ..."

__ADS_1


"Ya ... udah lah ...," Ai mengusap air matanya sendiri.


"Ai ... aku mau ke toilet dulu ya?" Aku berdiri dari bangku ku dan melangkah keluar dari ruang klub sastra.


Saat aku kembali menutup pintu ruangan klub. Seseorang menepuk pundakku. Saat aku menoleh, tak ada orang sama sekali. Seketika aku tahu siapa pelakunya.


"Kakume ... keluarlah ...," ucapku dengan wajah datar.


"Hua ... ternyata kau hebat juga ...," benar saja, dia tiba tiba muncul di hadapanku dengan jubah anehnya itu.


"Kenapa kamu di sini?"


"Tentu saja untuk membantumu ... kamu mau balas dendam ke orang yang fitnah pacarmu kan?" Aku tak terkejut dia sudah tahu semua hal itu.


"Dasar pengintai profesional ...",


"Hahaha ... Stealth-ku ini berguna untuk menjahili bocah igusan tau ...," ujarnya dengan senyuman sombongnya itu.


"Ternyata kamu tahu apa yang aku pikirkan ya ..."


"Hehehe ... tentu saja temanku ...," Kakume terkekeh sembari menyenggolku dengan sikunya.


Hanya dia yang bisa mengedit foto sesempurna itu. Aku akui dia berbakat, tapi caranya menyalurkan bakatnya itu salah. Diam diam aku mengamatinya sejak aku masih duduk di kelas satu. Si gendut itu selalu saja membuat masalah dengan foto editannya.


Meja meja komputer yang berbaris rapi. Ruangan yang lampunya sedikit redup. Aku melihat si gendut itu duduk di dapan salah satu komputer. Aku hanya diam dan berdiri di depan pintu masuk.


"Senpai ... apa akhir akhir ini senpai yang edit foto cewe tuli itu?" Aku bertanya dengan wajah datar dan nada datar pula.


"Ha? ... bukan urusanmu ...", dia bahkan tak menoleh ke arahku.


Jeglek~


Tiba tiba layar monitor kumputernya mati dan membuat si gendut itu bingung. Tak kusangka Stealth Kakume berguna di saat saat seperti ini.


"Senpai ... aku itu bukan manusia loh," aku tetap memasang wajah datarku dan sedikit memiringkan kepalaku. Aku berusaha membuat kesan yang menyeramkan.


"Apa makusud mu?! ... dasar bocah gak guna ...," Si gendut itu berdiri dari bangkunya dan menunjuk ke arahku.


Di saat yang sama Kakume mematikan lampu ruangan ini. Aku yakin si gendut itu pasti ketakutan sekarang. Beberapa saat kemudian Kakume kembali menghidupkan lampu ruangan ini.

__ADS_1


Si gendut itu menoleh ke segala arah dan mencoba menemukan orang yang menekan saklar lampu yang ada di ujung ruangan. Tapi sia sia saja, Stealth Kakume itu sangat sempurna.


"Jawab saja gendut ... apa kamu pelaku di balik gosip cewek tuli itu?" Aku menunjuk nya dengan jari telunjukku.


"Bukan urusanmu payah!" Keringat dingin mulai keluar di wajahnya.


Bruak~


Di saat yang sama tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk ini melayang ke arahnya.


"Kamu ini apa?! ...," Si gendut itu mulai ketakutan.


"Aku? ... aku malaikat pencabut nyawa ...", aku membuka mataku dengan lebar dan tersenyum tipis.


Di saat yang sama sebuah pisau melayang di sampingku. Sebenarnya itu hanya Kakume yang berdiri dan memengang pisau itu di sampingku. Perlahan tapi pasti pisau itu mendekat ke arah si gendut itu.


"Aaaaahggg ... tolong!!!" Si gendut itu berlari ke pojok ruangan dan tak bisa berbuat apa apa.


"Aku ingin kau mengakui perbuatanmu itu ... jika tidak ... pisau ini akan menancap di matamu itu", ancamku tersenyum lebar.


"Oke oke!!! ... Aku lah yang mengedit foto foto itu!!" Teriaknya ketakutan sembari menutup matanya.


"Ohh ... begitu?!"


"Ta-tapi .... aku di minta oleh temanku!", si gendut itu akhirnya membeberkan rahasianya.


"Namanya?"


"Shiyuke Saki ... dia tukang bully dari kelas tiga F ... tolong jangan bunuh aku ...," si gendut itu berlutut memohon.


"Ohh ... aku gak mau tau gimana caranya ..."


"Besok gosip itu sudah tidak ada ... kalau tidak ... aku akan menusukmu dengan lima puluh pedang ...," ancamku dengan wajah seram.


"Ampun!!! ... oke ... hari ini aku akan membereskan masalah ini ...," si gendut itu bersujud memohon ampun.


"Sekali lagi kau ulangi ... aku akan datang lagi padamu ...", kata kata terakhirku lalu keluar dari ruang komputer.


Dengan ini masalah selesai ...

__ADS_1


__ADS_2