
"Kaito, aku mencintaimu ...,"
Ai, suara merdunya itu masuk ke lubang telingaku. Suara itu memadamkan api yang berkobar di dalam hatiku. Dia menyejukanku dengan kedamaian yang tak pernah aku rasakan. Tenang, damai, sejuk, itulah yang kurasakan di dalam kegelapan. Perlahan tapi pasti, aku mulai tersadar dan bisa menggerakan ujung jariku.
Udara hangat nan lembut menerpa wajah ku. Aroma parfum dan shampo yang tidak asing. Kehangatan mulaiku rasakan, aku sadar seseorang sedang berada tepat di depan wajahku. Perlahan aku membuka kedua kelopak mataku. Tunggu, aku melihat paras cantik seorang gadis yang berada beberapa sentimeter di depan mataku.
Matanya terbuka lebar, aku bisa melihat kilauan cahaya di bola mata ungunya itu. Pandangan kami bertemu, pengelihatanku yang buram perlahan menjernih. Suasana ini, tak salah lagi kami berdua berada di atas ranjang kamarku. Kami berbaring berhadapan satu sama lain. Dan yang membuatku sangat terkejut adalah Ai sepertinya sedang telanjang bulat dan tak memakai pakaian apapun. Tapi untung saja, dari ujung kaki sampai atas dadanya tertutup oleh selimutku.
Tunggu!?
"Uaaahhh!!! Maaf maaf maaf!!" Aku terperanjat dan langsung melompat turun dari atas kasurku.
"Tu-tunggu! Apa yang kau lakukan di kamarku!?" Aku berjongkok di depan pintu membelakanginya dan menutup mataku dengan kedua tangan.
"Ma-mana aku tau!? Dan juga ... kenapa aku telanjang begini?!" Wajahnya memerah dan ia berusaha menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut warna putih milikku.
"Ma-mana kutau! Aku gak macem macem sama kamu ... jangan salah paham!" Aku bahkan tak sanggup menoleh ke belakang sekarang. Keringat dingin mulai keluar di pelipisku. Wajahku memerah dan seakan mau meledak.
Apa ini?! Semalam aku tidak berbuat mesum kan?!
Tidak tidak tidak!!! Tidak mungkin!
__ADS_1
Bruak!!!
"Aduh!"
Seseorang membuka pintu dan kepala ku pun terantuk sampai membuatku terjatuh ke belakang. Pagi yang menyebalkan, kepalaku sudah benjol terlebih dahulu sebelum aku bisa menghirup nafas dengan lega. Dan lihat siapa yang baru saja membuka pintu itu. Takumi, si setan itu datang membawa adik mesumku itu di belakangnya.
"Hehe, kalian habis ena ena kan?" Ujar Takumi menyipitkan matanya padaku.
"Halo Kaito! Lama tak berjumpa *****." Haru tiba tiba ikut masuk kedalam kamarku.
"Tu-tunggu! Kenapa rame rame di sini?" Tanya ku bingung sembari terus mengelus keningku yang sakit ini.
"Senpai ena ena ya?" Kepala Saika mengintip dari pinggiran pintu dan membuatku semakin malas menjalani hari ini.
"Kaito, ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu." Kata Takumi dengan wajah seriusnya.
"Apa itu?" Aku bangkit berdiri.
"Ayo keluar, biarkan para gadis di sini ...," Takumi melangkah keluar dari kamarku. Tanpa basa basi aku langsung mengikutinya. Lega rasanya bisa keluar dari situasi yang menegangkan itu. Entah kenapa pagi ini banyak orang yang datang ke rumahku. Sekarang aku melihat Taki duduk di kursi meja makanku dengan santai.
"Yow ... selamat pagi kalian ...," Taki melambai santai dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Hadeh, makin banyak aja orang yang dateng ...," ujarku lemas dan pasrah dengan keadaan ini. Kami bertiga duduk di kursi mengelilingi meja makanku. Entah kenapa mereka berdua memasang tatapan tajamnya padaku.
"Kenapa? Apa aku salah?" Tanyaku bingung.
"Apa kau tahu tentang Fate Stone?" Takumi melipat tangannya di depan dada dan memejamkan matanya.
"Tentu, ada apa?" Aku dibuat tegang oleh mereka berdua.
"Batu itu ada di dalam tubuh Ai, dan juga Saika." Kata kata Taki yang menghancurkan pikiranku
Batu permata yang memiliki kekuatan untuk mengulang takdir dari alam semesta ternyata ada di dalam tubuh Ai, dan juga Saika. Taki menjelaskan bahwa sang peramal dari DH telah melihat kemungkinan terjadinya masa depan. Kemungkinan pertama aku akan mati karena melawan The Key, dan kemungkinan kedua, aku akan lenyap karena berusaha menyentuh Fate Stone. Dan fakta yang tak ingin kudengar adalah, salah satu dari mereka harus mati untuk mengeluarkan kedua pecahan batu itu dari dalam tubuh mereka.
"Jangan bercanda?!" Teriakku tak percaya sembari memukul meja dengan kedua tanganku.
"Dengar dulu, ada sesuatu yang lebih penting!" Takumi menepuk pundakku.
Saat ini aura Fate Stone itu memancar sangat kuat. Kalau begini terus, dengan mudah The Key akan menemukan batu permata itu. Tujuan satu satunya The Key adalah menggunakan batu itu. Jika dia menemukan keberadaan kami, pasti akan jadi masalah yang sangat besar. Aku tak sangaja membuka segel Ai karena tak sengaja menciumnya pagi itu. Jika tak ingin energi Fate Stone itu memancar terus menerus. Ada sebuah cara yang ditemukan oleh sang peramal DH yang bekerja di balik layar itu.
Ada satu cara, dan hanya itulah cara yang bisa menekan aura Fate Stone yang terus memancar. Dan cara itulah yang paling tak masuk akal. Aku harus membuat mereka jatuh cinta sepenuhnya denganku. Tunggu, jika itu terjadi. Apa takdir akan kembali memenangkan pertarungan ini?
"Kaito, cepat kencani mereka ...," Ucapan santai dari Takumi yang membuatku kesal.
__ADS_1
"Hoi?! Apa kau pikir aku playboy?! Dua gadis sekaligus?!" Ujarku memasang wajah kesalku.
"Playboy atau bukan, sekarang yang lebih penting adalah nyawa mereka berdua kan?" Kata kata Taki yang meredam amarahku.