
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanyaku sembari terus berpikir keras.
"Hmm, benar juga ..."
"Kalau kamu teleportasi bareng mereka, mungkin Shogun bisa melacakmu dengan mudah."
"Mereka punya alat yang bisa mendeteksi sisa sisa sihir Tenshi." Takumi menunduk lemas dan memejamkan matanya.
"Takumi, apa kau butuh bantuan?" Dan akhirnya keajaiban terjadi, laki laki yang tak kukenal berdiri bersandar di batang pohon samping kananku. Kami berempat dibuat terkejut karena kehadirannya yang tiba tiba.
Laki laki rambut hitam sedikit panjang yang di sisir ke belakang dengan poni di kedua pelipisnya. Kacamata bundar di wajahnya yang membuat ia terlihat sedikit culun, dan juga dagu lancipnya itu sedikit menarik perhatianku. Dan yang lebih mengejutkan adalah, dia memakai seragam SMA Asakura. Dia satu sekolah denganku, tapi aneh, aku tak pernah melihatnya sama sekali.
"Tunggu, sejak kapan kau di situ payah?" Takumi memasang wajah datarnya.
"Hmm, kebetulan aku lewat." Jawabnya memejamkan mata dan membenarkan posisi kacamata dengan jari telunjuknya.
"Tapi, untunglah kau di sini, kami sedikit terbantu." Takumi menghela nafas seakan bebannya sedikit berkurang.
"Siapa lagi dia?" Tanyaku bosan.
"Ohh, namanya Takiro Carole ... nama yang aneh, tapi aku biasa memanggilnya Taki." Ujar Takumi dengan senyuman ejekan.
"Cih, oke oke namaku memang aneh ...," Taki seperti sudah lelah mendengar ejekan yang dilontarkan Takumi barusan.
"Dan Kaito, aku adalah intelejen DH ... jangan heran kalau kau tak pernah melihatku di sekolah."
"Aku kelas tiga E, dan aku sering bolos karena misi." Kata Taki menjawab pertanyaan dalam hatiku ini.
"Etto, ngomong ngomong ... apa bedanya Tenshi dan Intel di DH?" Pertanyaan yang tiba tiba terlintas di benakku.
"Hadeh, dasar bocah *****." Takumi menepuk keningnya sendiri.
Ternyata, Taki masuk dalam jajaran Tenshi terkuat di dunia. Julukannya adalah The Assassin. Kemampuan spesial Taki bisa di bilang mirip dengan Kakume. Taki bisa menghilangkan hawa keberadaannya. Hanya saja dia tetap bisa terlihat oleh mata telanjang. Kekuatannya hanya itu, aku sangat terkejut kenapa dia bisa berada di peringkat lima Tenshi terkuat di dunia. Dan karena kakuatan yang tak sempurna itu, Taki tidak bisa mengalami Lock. Itulah kelebihan kemampuan spesialnya. Tapi tetap saja, aku kagum dia bisa bertengger di peringkat lima dengan kekuatan kecilnya itu. Mungkin aku harus bertarung bersamanya terlebih dulu supaya aku mengerti kenapa si kacamata itu bisa dianggap kuat.
__ADS_1
Dan tugas Taki sebagai intelejen adalah melacak seseorang target. Petinggi Demon Hunter biasanya meneleponya dan memberi tahu siapa sang target itu. Tugas Taki hanyalah melacaknya bukan membunuhnya, tapi ada kalanya situasi berubah jadi rumit dan akhirnya ia terpaksa membunuh targetnya itu. Tak seperti Tenshi biasa yang bekerja dengan timnya. Intelejen hanya bekerja sendirian di lapangan. Walau masing masing mereka memiliki tim tersendiri. Tapi tim mereka bekerja di balik layar dan hanya memandu Intel itu lewat Tphone atau alat komunikasi khusus milik DH.
"Ohh, jelas sekarang." Aku mengangguk paham setelah penjelasan Taki selesai.
"Kebetulan aku bertemu kalian, sebenarnya aku melacak salah satu ninja dari Shogun."
"Dan yang lebih penting, kalian ***** apa gimana seh?! Bawa cewek ke sarang musuh?!" Taki memegang kepalanya sembari menggeleng perlahan.
"Ja-jadi, beneran ini daerah kekuasaan ninja?" Tanyaku memastikan.
"Hmm," Taki mengangguk perlahan.
"Kaito, apa lebih baik aku berubah jadi Ema?" Ai menarik lengan jaketku.
"Tunggu, kalau kamu berubah, mereka pasti bisa melacak kita." Aku menahan keinginan Ai itu.
"Kita harus menyusun rencana terlebih dulu ...," ucap Takumi dengan wajah seriusnya.
Zrat!!!
"Aku akan melindungi Hanabi dan Ai, kalian alihkan perhatian mereka!" Teriak Takumi menggendong Hanabi yang ketakutan itu di punggungnya.
Tapi, tiba tiba Ai sudah berubah menjadi Ema yang berdiri di sampingku dengan wajah dinginnya itu. Aku pun segera menggenggam tangan Ema dan berdiri di depannya agar dia tak terkena serangan mendadak dari ninja yang masih belum terlihat itu.
"Cih, gimana ini?" Gumanku panik sembari melihat ke segala arah untuk menemukan sumber serangan tadi.
"Lari ke utara, disana ada tanah lapang tanpa pepohonan!" Perintah Takumi sembari terus menggendong Hanabi di punggungnya.
"Kaito, maaf aku harus meninggalkan kalian, tempat ini terlalu bahaya untuk adikmu!" Aku mengerti perasaannya, dia akan meninggalkan kami dan mengutamakan keselamatan Hanabi yang sama sekali tak bisa bertarung.
"Hmm, tolong jaga dia." Aku mengangguk dan tetap waspada.
"Terima kasih!" Takumi melompat ke angkasa dan menembus dadaunan lebat yang ada di atas kami.
__ADS_1
"Pertarungan dimulai ya?" Taki tiba tiba membuka koper hitam kecilnya yang datang entah dari mana. Isi dari koper itu adalah dua bilah pisau dan satu buah pistol.
"Okino-sama, apa kita harus lari ke utara?" Pertanyaan dingin dari Ema yang ada di belakangku.
"Hmm, sepertinya gitu ...,"
"Kaito, aku akan menjaga bagian belakang!" Taki selesai mengisi ulang peluru pistol yang ada di tangannya itu.
"Ema, jangan lepaskan tanganku apa pun yang terjadi!" Ucapku sembari mulai berlari ke arah utara seperti yang di perintahkan Takumi. Kami terus berlari menyusuri hutan dan tetap melihat ke segala arah untuk menemukan sesuatu yang mengejar kami. Aku tahu, tapi aku tak melihat sesuatu yang mengejar kami itu. Gelap, hitam, itulah yang ku rasakan. Beberapa saat kemudian secercah cahaya mulai terlihat di sela sela pepohonan.
Semakin terang, kami terus berlari ke arahnya. Semakin terang dan terus membesar. Sesaat kemudian kami berhasil keluar dari hutan lebat yang menyelimuti kami tadi. Benar apa yang dikatakan Takumi, kami bertiga berdiri di tengah tanah lapang dengan pepohonan yang mengelilingi.
"Cih, dengan begini mereka pasti akan keluar!" Ujar si kacamata itu menggenggam pistol dengan kedua tangannya.
"Ema, bersiap!" Pintaku.
"Perintah diterima Okino-sama!" Ema mengeluarkan dua bilah pisau yang masing masing ia sembunyikan dibalik lengan panjang kemeja putihnya itu.
Lebih baik aku pakai Kensetsu dari pada aku terkena Lock!
Pelipis kiriku terluka karena kecelakaan mobil tadi. Dan darahnya belum sepenuhnya berhenti keluar. Aku kembali menggores lukaku ini dengan kuku jariku. Alhasil darah pun kembali mengalir. Darah segarku mengalir turun sampai ke dagu dan tinggal menunggu waktu baginya untuk bisa menetes ke tanah.
Tuan Samurai yang agung, aku berjanji akan melanjutkan impianmu. Tak hanya itu, aku juga akan mewujudkan impianku sendiri.
Aku akan menumbuhkan senyuman kepada semua orang!
"Kensetsu!"
Tepat saat setetes darah dari daguku jatuh ke tanah. Katana beserta sarungnya sudah ada di pinggang kiriku. Dengan ini aku siap untuk kembali bertarung. Aku harus melindungi gadis buta ini juga di sampingku. Apa pun yang terjadi, tak akan ku biarkan mereka menggores kulit Ema!
Crink!!!
Aku menarik Kensetsu keluar dari sarungnya dan menggenggam gagangnya dengan kedua tanganku. Aku bisa merasakan tubuhku mulai berubah jadi ringan. Kekuatan Samurai legendaris ada dalam diriku.
__ADS_1
"Keluarlah!!! Ninja payah!!!"