
Fuyuka
Aku adalah orang lemah, bahkan terlalu lemah untuk disebut sebagai penyihir. Jika kalian berpikir aku pantang menyerah, maka kalian salah. Hampir setiap detik aku menyerah menghadapi kenyataan dunia yang layak disebut sebagai tempat sampah ini.
Tempat dimana kekuatan dan harta, tak lupa juga kedudukan adalah dewa di sini. Yang kuat akan mendapat apa pun, dan yang lemah akan kehilangan semuanya. Bahkan harapannya, impiannya, orang yang dikasihinya.
Aku menyerah ...
Itu adalah kalimat yang selalu menggema di dalam hatiku ini. Tapi, menyerah dalam kamusku bukan berarti diam dan kehilangan seluruh harapan. Arti dari menyerah menurutku adalah, menerima keadaan ini, tapi berharap pada keajaiban untuk segera datang dan merubahnya.
"Hmm, aku akan menggunakan keberuntunganku!" Seruku membakar api semangatku yang hilang.
Seperti yang kalian baca, aku sedang berdiri di medan tempur yang dulunya adalah pemukiman damai. Gadis rambut ungu bergaun putih itu adalah Kurai Munmei. Reingkarnasi dewi yang jatuh terlalu jauh kedalam kegelapan. Itu mengingatkan diriku di masa lalu. Ya, tapi tak ada waktu untuk membahas itu.
"Mei, atasi Kurai, biar aku hadapi diriku yang lain." Ujarku tanpa ekspresi sama sekali.
"A-apa? Ohh oke, tatapanmu itu hampir membunuhku tau?!" Mei malah gugup saat melihat tatapan tajam dari mataku ini.
Jujur saja, sejak lahir sifat dasar yang tertanam dalam diriku adalah pembunuh darah dingin. Sifat sedingin es, dan tak pandang bulu. Aku akan menghabisi siapa pun yang menghalangiku. Tapi perjalanan panjang kisahku sudah mengubah diriku. Aku malah jadi remaja yang ceroboh dan tak pikir panjang.
Tapi, ini saatnya menunjukan diriku yang sebenarnya, alasan mengapa ada kata Fuyu di dalam namaku.
"Hmm, aku maju duluan." Ucapku santai sembari melangkah maju perlahan.
"He?! Kau ingin mati ya?!" Kurai mengarahkan tangan kanannya padaku.
Jrak!!!!
Tanpa kusadari ada benda tajam tak terlihat menembus dadaku. Hasilnya lubang bulat sempurna terbentuk tepat di tengah dadaku ini. Langkahku terhenti sejenak, tapi tak selamanya. Sihir es abadiku bekerja seperti yang seharusnya. Setelah lubang di dadaku ini tertutup oleh air yang membeku jadi es, tubuhku kembali ke bentuk semula. Tanpa luka atau cacat sedikit pun.
"Kemampuan macam apa itu?!" Yuuta hanya bisa terbelalak melihat kemampuanku ini.
Sihir yang menentang dewa, tidak, akulah dewa keabadian itu. Seharusnya dengan kekuatan ini aku bisa membantu Kaito memperbaiki ceritanya yang berantakan.
"Kalian tak akan bisa merusak cerita Kaito seenaknya!" Aku melanjutkan langkah santai sembari menggenggam kuat tombak suci di tangan kananku.
"Munmei, biar aku atasi laki laki itu! Fokus pada perempuan satunya!" Seru Yuuta seraya berlari ke arahku membawa pedang kegelapan dan cahaya di kedua sisi tangannya.
Trank!!!
Benturan hebat terjadi, amukan angin menyebar ke segala arah. Dengan mudah aku bisa menahan serangan Yuuta. Aku tak akan berdiam diri saja, setelah itu aku memutar tombakku lalu menusukan mata tombakku yang bersinar terang itu ke arah dadanya.
__ADS_1
Tapi sebelum aku berhasil menyentuh Yuuta. Serangan tak terlihat milik Kurai berhasil melubangi pergelangan kakiku. Lagi lagi aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi dalam sekejap aku bisa pulih menggunakan sihir es abadiku. Sebelum pemyembuhanku selesai, Yuuta berhasil melemparku jauh kebelakang dengan tendangan kakinya itu.
Setelah berguling-guling beberapa saat aku berakhir di samping Mei yang masih berdiri di tempat awalnya.
"Fuyuka? Masih sehat?" Tanya Mei sembari membantuku berdiri.
"Kalau gitu sekarang ..."
"Hmm, jangan maju, Kurai lebih berbahaya dari yang kukira." Aku menahan kehendak Mei yang ingin menerjang maju ke arah reingkarnasinya itu.
"Cih, kalau gitu, kita harus gimana?" Tanya Mei bingung.
"Aku akan gunakan ini!" Saat aku mengangkat tangan kananku ke atas, uap putih mengepul dan segera menyelimuti tempat ini.
"Hua, cerdas, dengan begini setidaknya aku tahu dari mana serangan si Kurai itu!" Mei langsung melesat maju setelah melempar pujian padaku.
Aku yakin serangan Kurai itu berupa senjata yang tak bisa dilihat oleh mata telajang. Saat merasakan serangan pertama yang melubangi dadaku itu, aku merasakan sesuatu seperti tongkat menembus dadaku. Dengan kabut ini Mei pasti bisa membaca seranganya.
Eh?!
Aku baru sadar Yuuta sudah siap menusukku dari belakang. Untung saja aku sadar akan hal itu, dan tentu saja aku berbalik untuk menahan serangannya dengan tombakku.
"Kalian jatuh dalam perangkap!" Ucap Yuuta diiringi seringai senyum kejam di wajahnya.
Tak kusangka Yuuta berhasil mengelabuhiku dengan trik murahan. Setelah aku berbalik dia ternyata masih berada di belakang punggungku. Dan tentu saja ia segera menusukan salah satu dari pedangnya. Aku bisa melihat bilah pedangnya yang bersinar biru terang menembus perutku ini.
"Sial!"
Mendadak jantungku seperti ditusuk pisau yang bahkan terasa lebih sakit dari tusukan pedang Yuuta. Kesadaranku seperti dicabut oleh malaikat pencabut nyawa. Pandanganku mendadak jadi hitam dan gelap gulita.
"Entah kenapa damai rasanya ...,"
"Ohh apa aku mati lagi? Aku kan pernah mati, apa seperti ini?" Gumamku heran.
"Kakak!" Suara gadis yang sangat kukenal itu menggema di sekitarku.
Aku membuka mataku lebar lebar dan sadar akan siapa gadis yang ada di depanku itu. Kami berdua berada ditengah taman Sakura yang sangat indah. Udara sejuk dilengkapi angin sepoi sepoi yang melewatiku. Ini adalah, ingatanku di masa lalu. Lebih tepatnya kenangan bersama adik perempuanku sendiri. Okino Minami, putri es yang sangat dihormati di duniaku. Bukan saatnya untuk membahas ceritaku sekarang ini.
Minami, gadis super duper cantik yang punya rambut putih panjang seperti salju. Poni rambut yang sedikit menutup mata kanannya itu mengingatkanku pada Saika. Bola mata hijau kebiruan mirip seperti milikku, dan gaun putih yang membuatnya terlihat seperti malaikat.
"Mi-na-mi ...," aku bingung sekaligus gugup menyadari adikku sendiri sedang ada di hadapanku.
__ADS_1
"Hee? Minami? Kenapa kakak panggil aku gitu?" Ia berlari ke arahku lalu mendekatkan wajah cantiknya itu padaku.
Aku ... aku memiliki cerita rumit bersama adikku sendiri. Jangan anggap aku siscon atau semacamnya. Tapi kami benar benar saling mencintai lebih dari sekedar saudara, tapi cinta yang lain.
"Min-chan," aku malah terpancing untuk menggunakan panggilan yang selalu aku gunakan.
"Naahh, gitu dong kakak, ngomong ngomong ... aku kangen loh!" Ujarnya dengan senyuman seindah bunga mawar putih yang mekar di tengah pelangi.
"Min-chan, kenapa kamu di sini?" Aku langsung saja bertanya karena tak ada waktu lagi untuk basa-basi.
"Huuh, kakak terus aja dingin sama aku!" Kata Minami seraya membalikan badannya. Ia menggelembungkan pipinya dan membuatnya semakin manis.
"Min-chan, maaf ... tapi kakak ga punya waktu," Aku menggenggam tangan kanannya dan mengambil seluruh perhatiannya.
"Setelah semua ini berakhir, kakak juga akan berada di sini kan? Menemanimu?" Aku mengusap kepalanya lembut seperti yang biasa aku lakukan.
"Ka-kak ... baiklah! Janji ya pasti balik ke sini!" Ia memelukku erat disertai rona merah yang muncul di kedua belah pipinya itu.
"Iya!" Jawabku penuh percaya diri.
"Aku cuma ingin mengatakan, aku mencintaimu!" Serunya dengan suara lantang lalu aku pun kembali tersadar ke dunia nyata.
Kabut asap yang kubuat sendiri malah jadi senjata makan tuan. Udara dingin walau ini pagi hari di musim panas, itu dia! Aku harus membawanya keluar dari kabut ini.
"Yuuta, kau ada di pihak yang salah!" Setelah ucapan itu keluar perlahan bilah pedangnya yang menancap di perutku ini membeku. Dan inilah kesempatanku.
Prak!!
Dengan satu pukulan aku menghancurkan bilah cahaya itu dan membalikan keadaan. Tak berhenti di sini saja, aku berbalik dan menendang Yuuta sampai ia terlempar ke atas awan.
"Cahaya dari surga! Bantu aku menghentikan gerakan lawanku!" Rantai surga bermunculan keluar dari tanah dan mengikat Yuuta yang melayang di udara itu.
Dengan ini selesai ...
"Cahaya dari surga, bantu aku menyelesaikan pertarungan ini." Magic Circle yang lumayan besar muncul di atas kepalaku. Aku berencana menembakan serangan akhir padanya.
"Heaven Light Shoot!"
-------------------
__ADS_1
Okino Minami