Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 35


__ADS_3

"Kaito?"


Lagi lagi Yume berdiri di depanku. Kami berada di ruangan putih tak berujung ini. Entah kenapa sekarang aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Sekarang aku tinggal mendengarkan ocehannya lagi.


"Hmm ..."


"Ini semua salahmu!" Ucapan Yume yang membuat mataku terbelalak.


"Ke-kenapa?"


"Karena kamu ... dunia ini kembali dalam bahaya ...," kata Yume lalu menghilang begitu saja.


"Hoi ... Yume! ... apa maksudmu?!"


"Kaito? ... kamu gak apa apa kan?", suara Ai yang menyadarkannya.


Rambut hitam panjang dan bola mata warna ungu. Ini lah Ai yang aku kenal. Lalu, jangan jangan nama Ai yang bisu itu memang sama dengan Ai yang tuli ini. Kepalaku sangat pusing. Aku hampir tak bisa berpikir jernih.


Aku melirik ke segala arah dan menyadari aku sedang berada di dalam kamar Ai. Aku tidur di ranjang besarnya dengan selimut tebal yang membuat badanku hangat. Aku terkejut dan langsung duduk di ranjang saat melihat pancaran cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar Ai.


"Ai? ... kok kamu gak sekolah?" Tanyaku bingung.


"Ano ... aku ...,"


Ai tak tahu harus berkata apa dan hanya duduk di kursi yang ada di samping ranjang yang aku tempati ini. Pasti dia bingung karena tak bisa mendengarku. Dia bahkan sudah memakai seragam sekolahnya.


"Hmm ... maaf ngerepotin ...," aku merasa tak enak, hanya karena aku dia rela tak masuk ke sekolah.

__ADS_1


"Kaito! ... aku denger teriakan!" Ai langsung berlari ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar.


Teriakan?! ... jangan jangan ...


Aku langsung menapakkan kakikukelantai dan berdiri. Di saat yang sama aku melihat layar monitor komputer Ai menyala di meja komputer nya. Meja komputer itu tepat berada di samping meja belajarnya di ujung kamar ini.


Tanpa basa basi aku segera duduk di kursi meja komputernya dan mencari berita di internet.


"Kaito? ... kenapa?" Tanya Ai bingung lalu berlari ke belakangku.


Aku hanya diam dan mencari informasi di internet mengenai Akame. Aku terkejut saat melihat hasil pencarian teratas.


'Live: Zombie itu ada!! mereka menyerang SMA Asakura'


Terdapat siaran langsung di channel berita lokal. Dan bukan main main. Saat kami melihat siaran langsungnya, beberapa Akame berusaha mendobrak pintu gedung sekolah yang sengaja di kunci dari dalam.


Aku pun menggali informasi lebih dalam dan menemukan sebuah artikel dimana Negara Hatsu yaitu negara ini. Sudah di isolasi oleh pemerintah, artinya kabar tentang Akame sampai ke telinga pada pemerintah.


Sial!!! ... kenapa masalahnya jadi runyam gini sih?!


"Sekarang kau harus berjuang sendiri ... ini semua karenamu!" Suara Yume yang membuatku semakin panik.


"Sial!!! ..."


"Kaito? ... apa makhluk itu nyerang sekolah kita?" Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya itu.


"Ne ... Kaito ... sebenernya aku punya rahasia ...," ucapan Ai yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Ai mundur satu langkah dan memejamkan matanya. Dia menyatukan kedua tangannya dan meletakannya di depan dadanya layaknya orang yang sedang berdoa. Tak lama kemudian Ai berubah menjadi cahaya yang sangat terang.


Aku memalingkan wajahku karena cahaya itu sangat menyilaukan mata.


"Dengan kekuatan cahaya aku memanggilmu ... Diriku yang hidup di masa lalu ... Leona Emilia ...," kata-kata yang ia ucapkan itu menjelaskan semuanya sekaligus mengejutkanku.


Sesaat kemudian cahaya itu menghilang. Yang berdiri di hadapanku sekarang bukanlah Ai. Melainkan Ema yang mengenakan kemeja putih dan rok hitam panjang yang hampir menyentuh lantai itu.


Pita merah di kerahnya itu membuat penampilannya sama seperti boneka. Apa lagi wajah datarnya itu, dan tatapan kosong yang keluar dari mata birunya yang seperti air laut yang memantulkan sinar matahari.


"Okino-sama?"


"A-ai?" Aku langsung berdiri dan mengusap mataku.


"Siapa Ai? ... Aku Ema," wajah datarnya itu, aku tak tahu harus berkata apa.


"Gi-gimana? ... aagh ... ya udah ... sekarang yang penting kita harus ke sekolahku," aku langsung menggenggam tangan Ema dan membawanya keluar dari kamar.


"Okino-sama ... tunggu," aku pun menghentikan langkahku di tengah koridor lantai dua rumah Ai yang besar ini.


"Aku mau ambil sesuatu ...," ucapnya lalu melangkah ke depan lukisan yang ada di dinding koridor.


Lukisan pemandangan itu ternyata hanyalah sebuah pintu. Saat Ema menekan satu tombol rahasia yanga da di bingkai kayu besar itu. Lukisan itu otomatis bergerak naik ke atas dan aku melihat hal yang lebih mengejutkan dari lukisan itu.


Di balik lukisan itu ternyata seperti sebuah rak yang berisi persenjataan lengkap layaknya film film detektif di televisi.


Rak paling bawah terdapat belasan pisau yang di tata rapi seperti buku yang ada di perpustakaan. Rak kedua berisi lima pistol, rak paling atas terpajang senapan laras panjang dan satu sniper.

__ADS_1


"Ema? ... apa ini?" Aku hanya bisa terpaku dan bertanya padanya.


__ADS_2