Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 34


__ADS_3

Kegelapan sudah mengambil alih langit. Warna biru yang ku kagumi itu tak pernah ku lihat lagi. Ditambah awan hitam tebal yang menutupi cahaya sang rembulan. Tetesan air hujan pun ikut turun dan membuat malam ini semakin terasa mencekam.


Rambut ku mulai basah karena tetesan air hujan. Seragam sekolah ku pun tak luput menjadi korban nya. Gerbang sekolah yang tertutup rapat. Gedung sekolah yang sudah terkunci dan tak ada seorang pun di dalam nya.


Hanya suara gemericih air hujan lah yang terdengar di telinga ku. Rumput rumput hijau yang ada di lapangan sepak bola yang ku injak ini terasa sangat lembut. Aku berdiri di dalam diam di tengah lapangan sepak bola.


Dengan cahaya aku menghukum mu ... dengan kegelapan aku membuat mu menderita ...


Jrat!!! Buk!


Aku menebas leher Akame dan membuat kepala nya melayang lalu jatuh di atas rumput lapangan sepak bola sekolah ku. Bilah pedang berwarna merah darah, retakan retakan di lengan kiri ku. Mata kiri ku yang berubah menjadi mata iblis.


Aku ... aku kembali meminjam kekuatan iblis ...


Aku adalah iblis ...


Aku menjatuhkan pedang ku yang sudah berubah kembali menjadi pisau itu di atas rumput. Aku hanya bisa terpaku melihat tangan kiri ku yang tak ada beda nya dengan mereka. Malam ini aku berhasil membunuh tiga Akame yang berkeliaran di sekolah.


Tetesan air hujan dari poni rambut ku. Rasa dingin bercampur dengan bau darah hitam Akame. Aku bisa melihat tangan kiri ku kembali seperti semula.


"Ukhuk!!!", aku batuk dan mengeluarkan darah dari mulut ku.


Aku pun berlutut karena kaki ku tak sanggup lagi menopang tubuh ku untuk berdiri. Ternyata hanya ini batas kekuatan seorang manusia terkutuk. Tak lama kemudian aku tersungkur dan tak bisa lagi merasakan tubuh ku.

__ADS_1


Lelah, basah, dingin, rumput yang menempel diwajah bagian kanan ku. Aku semakin kehilangan kesadaran ku dan pandangan ku semakin kabur. Aku ... hanya berakhir di sini. Bukanya ini belum cukup?


Tunggu ...


Aku melihat satu lagi Akame yang berdiri di depan mata ku. Dia bersiap untuk menerkam ku dan mencabik cabik tubuh ku dengan gigi nya yang tajam itu. Aku tersungkur tak berdaya di sini, aku hanya bisa menatap sesuatu yang akan mengambil nyawa ku itu.


"Maaf Hanabi ... kayak nya kakak gak pulang hari ini"


Mata ku perlahan menutup dengan sendiri nya. Seperti nya cerita ku tamat sampai di sini saja. Aku tak bisa melihat apa pun kecuali warna hitam sekarang. Aku sepenuh nya kehilangan kesadaran ku.


Siapa itu?


Aku melihat gadis rambut pirang keemasan, seragam putih dan rok warna biru muda. Dia sedang menghadap ke luar jendela dengan cahaya oranye yang memancar kedalam. Ini adalah ruang klub sastra, tapi kenapa rasa nya ada yang berbeda.


Dia berbalik, dia tersenyum pada ku. Mata biru seperti berlian dengan senyuman seindah pelangi. Rasa nya aku pernah melihat senyuman nya, tapi aku tak tahu dimana dan kapan. Rambut pirang keemasan yang terombang ambing karena angin dari luar jendela.


'Mirai Ai'


Dia menunjukan tulisan di buku tulis nya itu. Aku tak mengerti, apa itu nama nya?


Bukan ... Mirai Ai adalah gadis tuli yang ku kenal ...


Eh?! ... dia mendekat ke arah ku.

__ADS_1


Sekarang dia memeluk ku dengan erat tanpa sepatah kata pun. Aku bisa merasakan kehangatan tubuh nya. Apa aku benar benar sudah mati?


Tunggu?!


Hati ku merasa gadis yang memeluk ku ini meminta maaf pada ku. Untuk apa?, apa salah mu?


Di saat yang sama aku kembali mendengar suara gemericih air hujan. Aku bisa merasakan tetesan air yang jatuh di atas kepala ku. Aku kembali bisa merasakan tubuh ku. Hanya warna hitam yang bisa ku lihat lagi sekarang.


Aku merasakan tangan kiri ku sedang digenggam oleh seseorang. Dan tangan kanan ku menggenggam pedang dengan kuat. Aku membuka mata ku kembali dan terkejut.


Gadis rambut pirang keemasan yang tadi ada di mimpi ku sekarang berada di samping ku dan menggenggam tangan kiri ku dengan kuat. Aku ingat sekarang, aku pernah bertemu dia di sungai mabuta saat menghadapi bocah yang kerasukan iblis itu.


Akame yang seharus nya menerkam ku tadi, sekarang masih berdiri di depan mata ku dan tepat di posisi nya, seperti saat aku melihat nya sebelum aku kehilangan kesadaran tadi.


Apa ini?


Mirai menyelamatkan ku?


Tunggu apa nama nya memang Mirai Ai?


"Graaarghh!!!"


Akame itu berlari ke arah kami berdua dan bersiap menerkam kami. Dengan santai aku hanya mengarahkan bilah pedang iblis yang ada di tangan kanan ku ke arah jantung nya yang bersinar itu.

__ADS_1


Jrak!!!


Akame itu memang sudah tak punya pikiran. Mereka hanya berniat untuk membunuh setiap manusia yang ada di depan nya, bahkan mereka tak mempedulikan nyawa nya sendiri.


__ADS_2