Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 153


__ADS_3

"Sebaiknya kamu tidak di rumah dulu." Ucap Fumio dengan tatapan tajamnya.


Aku, Hanabi, Ai, dan Fumio duduk di kursi melingkari meja bundar kecil yang ada di dalam minimarket pinggir jalan ini. Di atas meja terdapat empat botol teh dingin yang kami beli. Aku sudah menghabiskan milikku untuk menghilangkan dahaga sehabis kejar kejaran tadi. Aku memang tak pernah berolahraga, fisikku memang sangat lemah. Berlari sedikit saja, nafasku langsung tak berantakan. Tapi, ya sudahlah, lupakan soal itu. Masalah yang sebenarnya ada di depan mataku.


Fumio bisa sampai ke sini adalah ulah si tuli itu. Ia membawa Sora ke markas tim Fumio dan di sanalah Sora menjelaskan situasi ini kepada Si loli ganas. Fumio masih bingung kenapa Shogun tak lagi mengejar kami, jangankan dia, aku pun tak mengerti tujuan utama mereka. Dan sekarang Shogun sudah mengetahui rumahku, itu artinya kami tak bisa lagi hidup tenang di sana.


"Lalu, kami harus kemana?" Tamyaku menyangga dagu dengan tangan kananku yang ada di atas meja.


"Hmm, hotel, minta saja Sora memesan satu kamar hotel." Ucapan Fumio yang sedikit membantu.


"Lalu ...," sebelum aku menyelesaikan kalimatku, ponselku berdering tanda telepon masuk.


"Halo, Kaito ... tinggal saja di rumah Ai ... apa masih kurang besar?" Suara ini, Kazuki, ayah dari si tuli di sampingku ini. Aku hampir lupa kalau rumah, bukan, kastil milik Ai tidak ditempati semenjak ia pindah ke rumahku.


"He?! Apa gak masalah?" Aku juga sangat terkejut kenapa Kazuki bisa langsung tahu kejadian yang kami alami. Mungkin dia selalu mengawasi Ai, ayah yang baik.


"Kenapa tidak? Aku sudah mengirim supirku untuk menjemput kalian." Kata kata terakhir Kazuki lalu ia memutus sambungan telepon kami.


"Siapa kak?" tanya Hanabi.


"Ayahnya Ai, dia minta kita tinggal di rumah Ai." Jawabku sembari mengembalikan ponsel ke dalam saku celanaku.


"Hmm, Kazuki? Ya sudah ... masalah kalian selesai. Aku kembali ke markas dulu." Fumio bangkit berdiri dari kursinya.


"Mio-chan! Sampai jumpa ya!!" Pekik Hanabi melambaikan tangannya pada Fumio.


"Iya Hanabi, sampai jumpa ...," tak kusangka Fumio melempar senyum tipis kepada adik perempuanku itu. Si loli ganas itu bahkan bisa ditaklukan oleh Hanabi. Adik perempuanku itu memang luar biasa.


"Ayah ... dia ada di rumah?" Kata si tuli itu lirih sembari menundukan kepalanya.


"Hmm? Kenapa?" Tanyaku bingung. Dan di saat yang sama sebuah mobil sedan mewah empat pintu berhenti di pinggir jalan raya depan minimarket ini.


"Itu supir ayahmu?" Tanyaku saat melihat pria tua yang melambai dari dalam mobil sedan itu.


"Oh iya ...," jawab Ai.


"Ya udah ... tunggu apa lagi?" Kami bertiga pun segera keluar dari minimarket dan masuk ke dalam mobil yang menjemput kami itu. Ai dan Hanabi duduk di kursi penumpang, sedangkan aku duduk di samping kiri pengemudi. Pria tua rambut putih karena uban dan kacamata di wajahnya. Pria itu terlihat berwibawa karena memakai setelan jas hitam yang dilengkapi dasi kupu kupu merah.

__ADS_1


"Okino-sama, Hanabi-sama, Ai-sama ... senang bisa bertemu kalian." Sapa pria tua itu menyebut nama kami satu per satu.


"Salam kenal pak supir!!" Ujar Hanabi dengan senyuman manisnya.


"Etto, gak perlu manggil Okino-sama ... Kaito aja cukup ...," aku merasa canggung ketika mendengar panggilan aneh itu lagi.


"Maaf Kaito-sama ... itu sudah aturan tetap ... saya harus memanggil kalian dengan hormat." Pak tua itu kembali melajukan mobil yang kami tumpangi ini. Sepertinya dia sudah sangat terlatih menjadi pegawai orang kaya, terlihat dari nada bicaranya dan kata katanya tadi.


"Perkenalkan, nama saya Taiyou Fuyuki. Panggil saja Fuyu Saya siap melayani kalian kapan pun." Pak Fuyu punya nama yang sangat bagus menurutku. Matahari di musim dingin, itylah arti namanya.


"Hmm, sudah berapa lama Pak Fuyu bekerja dengan ayah Ai?" Lanjutku bertanya sembari menikmati pemandangan di luar jendela mobil.


"Dua puluh tahun lebih ...," ternyata dia sudah bekerja sangat lama. Mungkin saja dia sudah jadi orang kepercayaan Kazuki.


"Pak Fuyu, apa ayah ada di rumah?" Tiba tiba Ai bertanya dengan kepalanya yang terus menunduk. Dia membuatku penasaran.


"Tentu Ai-sama." Jawab Pak Fuyu tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali dari jalanan.


"Kaito, apa katanya?" Tentu saja dia tidak mendengarnya. Dia harus bekerja dua kali, sungguh repot menjadi orang tuli.


"Memangnya, kenapa kalau ayahnya ada di rumah, Pak Fuyu?" Aku memutuskan untuk menanyakan hal ini langsung ke Pak Fuyu.


"Kaito-sama akan mengerti nanti." Setelah kata kata itu, hanya terdengar suara mesin mobil ini. Kami tak lagi berkomunikasi sampai beberapa menit. Pada akhirnya kami sampai di gerbang besi depan rumah mewah Ai. Setelah pagar raksasa itu bergeser secara otomatis, mobil ini maju perlahan di tengah jalan kecil yang membelah taman besar itu.


Rumah besar dua tingkat dengan gaya eropa. Cat putih bersih dan lampu lampu yang bersinar terang. Suasana baru yang sulit aku jelaskan. Kami berempat turun dari mobil dan melangkah ke depan pintu depan rumah yang cukup besar. Dua pintu kayu besar dengan ukiran bunga. Aku tak bisa berhenti mengagumi rumah si tuli itu.


Glek!!!


"Silahkan masuk ...," Pak Fuyu membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.


"Wahh, rumah kak Ai besar banget!!" Kata Hanabi dengan kedua bola matanya yang berbinar.


"Ohhh, kalian sudah datang ...," ujar Kazuki duduk santai di sofa ruang tamu. Karpet merah yang ada di atas lantai menuju ke meja bundar ruang tamu itu tak pernah kulupakan sejak pengalaman pertamaku ke sini. Kami bertiga duduk di sofa mewah panjang warna hitam, sisi lain meja bundar itu. Entah kenapa dari tadi Ai hanya menunduk tanpa sepatah kata pun padahal ayahnya ada di hadapan matanya.


"Ya, anggap saja rumah sendiri ya? Aku ada urusan di luar kota." Kazuki berdiri dari sofa dan langsung melangkah menuju pintu keluar.


"Tunggu!" Aku menghentikan langkahnya. Kali ini aku mengerti, sejak pertemuan awal kami, aku tak pernah melihat atau bahkan mendengar ia berbicara pada putrinya.

__ADS_1


"Hmm?" Kazuki menoleh ke arahku.


"Apa kau menganggap Ai anakmu?" Aku memberanikan diriku untuk bertanya.


"Oooh ... tentu ... tapi aku sama sekali tidak menyayanginya ...," Kazuki melangkah keluar dari pintu diiringi Pak Fuyu yang menutup pintu dan ikut bersama majikannya itu.


"Kak Ai?" Hanabi mengenggam tangan Ai karena melihatnya mengeluarkan air matanya.


Jadi itu sebabnya Ai terlihat murung ... ternyata aku salah ... Kazuki sama sekali bukan ayah yang baik.


"Cih, Ai ... kenapa kamu gak cerita sama aku?" Aku mengusap air matanya dengan ibu jariku.


"Maaf ...," Ai hanya bisa tertunduk lemas.


"Ya sudah, ano ... bisa kamu tunjukin dimana kamarku?" Aku menggaruk rambutku dan tersenyum tipis.


"Ohh ... Ayo!" Ai langsung mengusap air matanya lalu bangkit berdiri.


"Aku tidur sama kakak ya?" Hanabi menarik lengan kaosku.


"Hanabi, aku pukul kamu loh?" Aku memasang wajah kejamku dan memamerkan kepalan tanganku.


"Hwaaa!!! Kak Ai, aku sama kamu aja!" Pekik Hanabi ketakutan lalu memeluk Ai.


"Hanabi? Apa kamu mau tidur sama kakakmu?" Ai memasang wajah polosnya.


"Ai, dia tidur sama kamu, biar aku sendiri ... aku lagi capek nih." Keluhku memasang wajah malas.


"Umm ... ya udah ...," Ai pun mengajak kami menaiki tangga dan menuju ke lantai dua. Lagi lagi ada karpet merah di tengah jalan koridor ini. Ada beberapa pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Kami berhenti di tengah dua pintu yang saling berseberangan.


"Ini kamarmu ... anggep rumah sendiri ya ...," ucapnya dengan senyum ramah menunjuk ke pintu sebelah kiriku.


"Ya udah, makasih." aku langsung masuk dan menutup pintu kamarku rapat rapat. Ruangan yang lebih besar dari ruang tamu rumahku, rak buku besar yang ada di sisi kananku. Ranjang besar dengan selimut mewah ada di sisi kiriku. Di depanku ada meja belajar dan meja komputer yang berhimpitan. Dan di deoan meja belajar itu ada jendela besar yang tertutup tirai putih. Tak lupa ada pintu kamar mandi di pojok ruangan ini.


"Woah, mimpi apa aku tidur di istana gini?" Aku melepas sepatu dan langsung menjatuhkan badanku ke atas ranjang.


"Akhirnya ... selamat malam semua ..." aku menutup kedua mataku dan mulai memasuki alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2