
Hari ini adalah hari yang tak terduga. Takku sangka Ema menginap di rumahku. Karena dia aku menjadi sasaran pukulan Hanabi. Ema masih bersikeras menganggapku sebagai Okino Gilbert yang ia kenal.
Karena aku termakan rasa penasaranku. Aku pun membuka album album lama keluarga Okino yang ada di gudang. Gudang rumahku adalah ruangan yang tepat berada di depan kamarku.
Setelah Ema masuk ke kamar dan tidur bersama Hanabi. Aku menyempatkan diriku untuk masuk ke gudang sebelum tidur.
Greek!!
Gelap, berdebu, berantakan. Itulah kondisi gudang di rumahku. Tumpukan kardus kardus tua yang tertumpuk di ujung ruangan. Lemari kayu tua yang ada di samping pintu. Rak buku tua yang ada di sisi ruangan.
Klek!
Aku menekan saklar lampu dan cahaya pun menerangi ruangan ini. Aku menutup pintu rapat rapat agar tak ada orang yang masuk. Aku pun mencari cari album foto lama dari keluarga Okino. Aku sendiri tak yakin ada kerabatku yang punya nama Gilbert dan bukan dari negara ini.
Aku pun mengecek buku buku tua yang ada di rak buku yang terbuat dari kayu yang sudah usang itu. Satu per satu buku tak luput dari perhatianku.
"Woh ... ini dia ...," aku menemukan buku besar dan juga tebal dengan sampul berwarna hitam.
Aku duduk di lantai dan membuka lembaran demi lembaran buku tua ini. Dan akhirnya aku menemukan silsilah keluargaku.
Nama yang tertulis di paling atas adalah Okino Kazumi, itu adalah nama ibu dari kakekku. Kakekku menikah dengan wanita bernama Wakube Chiai dan punya anak yaitu adalah ayahku. Okino Yamato, itulah nama mendiang ayahku yang sudah meninggal sejak lama.
Dan akhirnya aku sama sekali tak menemukan nama Gilbert di buku keluargaku ini. Sebenarnya siapa dia?
"Huff ... sudah lah," aku kembali mengembalikan buku itu ketempat asal nya dan kembali ke kamarku.
Rasa malas mulai tumbuh di hatiku saat menyadari esok pagi adalah hari yang paling ku benci. Ya, hari senin, hari dimana aku harus menghadapi sekolah yang merepotkan itu. Aku langsung menjatuhkan diriku di atas ranjang dan menutup mataku.
Aku baru ingat, Ai sedang sakit dan tinggal di rumah besar itu sendirian. Entah kenapa sekarang aku malah memikirkannya. Dan juga Ema, tiba tiba dia datang dan menginap di sini.
__ADS_1
"Bhah ... hidup ku makin kacau aja ...," gumamku sembari menutup telingaku dengan bantal.
-----
"Eh? ..."
Kenapa tiba tiba aku ada di luar rumah?
Dan juga ... kenapa ini masih pagi?
Aku mengenakan jaket hitam dan celana panjang hitam. Sepatu yang kupakai ini mirip seperti punyaku, hanya saja warnanya berbeda. Tubuhku bergerak sendiri diluar kemauanku.
Aku melangkah ditemani terik matahari di pagi hari ini. Kemana aku pergi?, dan kenapa aku pergi ke sana?, hanya itu pertanyaan yang ada di kepalaku.
Dan walau begitu kakiku tetap melangkah sesuai keinginannya. Toko buku Houta, ternyata kesana lah tujuanku. Bukan, aku tak ingin masuk ke sana.
Entah kenapa aku ingin membantunya. Aku pun melangkah mendekatinya dan berhenti di sampingnya yang kesulitan mengatur buku buku yang ia bawa dengan kedua tangannya itu.
"Ano ... mau di bantu gak?" Tanyaku.
Gadis itu hanya menggeleng dan pergi meninggalkanku. Tapi sepertinya aku belum menyerah. Aku mengikutinya untuk memastikan ia baik baik saja.
Bruk!!
Seperti yang kuduga, tiga buku yang ia bawa terjatuh ke atas trotoar. Dengan cepat aku mengambil ketiga buku itu agar tak diinjak oleh pejalan kaki lainnya.
"Sini aku bawain aja ...,"
Kami berjalan berdampingan di tengah keramaian di pagi hari. Anehnya gadis itu tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aku pun hanya mengikuti langkahnya saja.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah. Tanpa mengucapkan satu kata pun, dia langsung masuk ke rumahnya. Padahal aku sangat berharap satu kata darinya. Hanya terima kasih.
-----
Sesaat kemudian aku sadar bahwa itu semua hanyalah mimpi belaka. Aku terbangun dari tidur ku dan membuka mataku perlahan.
Tunggu!
Aku merasakan telapak tangan seseorang yang menyentuh pipi kananku. Dan juga kaki yang menimpa perutku. Saat aku menoleh ke kiri, aku terbelalak karena melihat Ema yang sedang tidur satu ranjang denganku.
"He?!"
"Ema??"
"Okino-sama ... jangan pergi!" Ema menahan leherku ketika aku hendak bangun.
"Hoi ... kenapa kamu di sini?!" Tanyaku perlahan dengan hatiku yang sudah dag dig dug ini.
"Aku ingin selalu ada di sisi Okino-sama"
Haaahhh!!!!
Oi oi oi oi!!!
Ini mimpi kan?? Aku tidur satu ranjang sama cewek bule yang gak sopan ini?!
Besok pasti aku sudah tak punya kepala ...
Hanabi pasti akan memenggal kepalaku besok pagi saat melihat ku seperti ini ...
__ADS_1