
Suara deru air hujan yang membentur tanah. Langit hitam yang diselimuti awan badai tebal. Petir yang sesekali menyambar. Tetesan air yang jatuh dari poni rambutku.
Aku kembali berdiri di tengah lapangan bersama Mirai di sisi kiriku. Aku sudah berhasil menusuk Akame terakhir dan merubahnya kembali menjadi cairan hitam yang larut terbawa air hujan.
Aku berhasil kembali ke waktu ini. Hanya saja, setelah kejadian ini. Aku pasti jatuh pingsan dan dibawa ke rumah Ai. Kalau kali ini pun begitu, aku sama sekali tak merubah takdir kedepannya.
Pisau yang kugenggam tiba tiba berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang begitu saja. Ternyata memang benar, sekarang aku pasti tak bisa bertarung menggunakan kutukan iblis ataupun kekuatan dari surga.
"Apa yang harus ku lakukan?" Gumamku seraya menundukan kepalaku.
Mirai meletakan telapak tangannya di tengah dadaku dengan senyuman manisnya itu. Dia menunjuk ke depan dengan jari telunjuknya dan terlihatlah tiga Akame yang keluar dari tanah.
Akame itu seakan tumbuh di tengah rumput hijau lapangan sepak bola. Pertama kepalanya muncul dari dalam tanah, dan ia terus naik sampai ujung kakibya menapak ke tanah. Ketiga Akame di depanku itulah yang kulihat di siaran langsung berita di internet.
Sepertinya setelah aku pingsan dan dibawa ke rumah Ai, mereka muncul dan berkeliaran di sekolah sampai besok. Dengan begini kekuatan Time Control ku ini sangat berguna. Tapi sekarang aku hanya manusia biasa. Aku tak lagi bisa menggunakan kekuatan itu lagi.
"Okino-sama?"
Tiba tiba Mirai yang ada di sampingku ini berubah jadi Ema. Rambut pirang, hidung mancung, kemeja putih lengan panjang yang ia kenakan. Pita merah yang mengikat kerahnya, rok hitam yang hampir menyentuh tanah. Wajah datar dan tatapan kosong.
"Okino-sama ... biar aku yang bunuh mereka." Ujarnya dengan wajah datar sembari menarik sebilah pisau yang ia sembunyikan di balik lengan panjang kemejanya itu.
"Maaf ... tapi tolong ya ...," entah kenapa aku sangat mempercayainya kali ini.
__ADS_1
Dengan cepat Ema melesat ke arah ketiga Akame itu dan menusuk jantung mereka satu per satu. Gerakan Ema sangatlah cepat, dalam sekejap mata ketiga Akame itu mencair menjadi cairan hitam yang larut dengan air hujan.
Ema berdiri menghadap ke atas langit. Tatapan kosong dari mata birunya itu, wajah yang tanpa ekspresi pula. Dengan pisau yang ia genggam di tangan kirinya itu. Aku hampir tak bisa merasakan bagaimana perasaannya sekarang.
Apa dia marah?
Sedih? ... Senang?
Atau apa?
Ikat rambutnya itu terlepas dan membuat rambut pirang panjangnya itu terurai. Air hujan membuat kemeja dan rok nya basah kuyup. Ia memandangku dengan tatapan kosongnya itu.
"Okino-sama ..."
Entah kenapa hati ku tak setuju jika Ema membunuh Akame itu dengan tangannya. Entah apa alasannya, tapi aku tak bisa membiarkan Ema membunuh Akame lagi.
"Okino-sama ... kenapa kau selalu melarang ku membunuh monster itu?", tanya Ema memiringkan kepalanya.
Selalu?
"O-oh ... aku gak tau ... tapi makasih," aku mengembalikan pisaunya itu.
Aku melihat tali warna putih yang ia gunakan untuk mengikat rambutnya itu tergeletak di atas rumput lapangan. Aku pun mengambilnya.
__ADS_1
"Ema ... ini iket rambutmu ...," ucapku sembari menunjukan ikat rambutnya itu di atas telapak tanganku.
Dia hanya diam tanpa bergerak dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku yang tak tahu harus berbuat apa pun menggandengnya dan segera membawanya kembali pulang ke rumahku. Hujan ini sudah semakin lebat. Aku khawatir Ema, bukan ... Ai besok akan demam dan tak bisa berangkat sekolah.
Kami berdua pun akhirnya sampai di depan rumahku. Kami berdua menerobos derasnya hujan di malam hari ini tanpa mempedulikan apapun. Seragamku yang basah kuyup ini, aku tak tahu harus bilang apa pada Hanabi.
"Hanabi ... kakak pulang," ucapku perlahan membuka pintu depan rumahku.
"Hee?? ... kakak bawa cewek kakak lagi?" Ucap Hanabi kegirangan seraya berlari ke arah kami berdua.
"Hmm ... terserah ...," aku menggandeng Ema masuk ke rumah dan memintanya duduk di sofa ruang keluargaku.
"Kakak habis ujan ujanan ya? ... woh ... romantis banget ...," ujarnya dengan mata yang berbinar binar.
"Ema ... mending kamu sekarang mandi deh ...", pakaiannya yang basah itu membuat ku semakin khawatir.
"Terus ... dia pake baju apa?" Pertanyaan Hanabi yang membuatku sadar.
"Oh iya ... kalo pake baju Hanabi pasti kekecilan ... ya udah ... pake kaos sama celana pendekku aja", jelasku.
"Lah ... gak pake daleman?" Kata-kata Hanabi yang membuatku sedikit terganggu saat memikirkannya.
"Hmm ... Hanabi anter Ema ke kamar mandimu ... aku bakal ambilin kaos ku di lemari"
__ADS_1