Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 45


__ADS_3

"Aku ini apa?"


Ditengah kegelapan kamarku. Pancaran cahaya yang masuk melalui jendela kamarku yang terbuka lebar. Tirai warna biru tua yang teritup angin di malam musim semi. Aku duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungku di dinding.


Sepertinya besok aku akan bergabung dengan Demon Hunter. Aku tidak ingin melindungi dunia ini. Aku hanya ingin tahu siapa dan apa aku ini sebenarnya. Malam ini aku berhasil menyelamatkan nyawa seorang gadis. Dan tak hanya itu, aku sudah berhasil mengendalikan kekuatan iblis.


Sepertinya peperangan besar memang akan terjadi ...


Ramalan tentang kekacauan dunia jika aku datang. Mungkin itu bukan omong kosong. Tapi ramalan tentang gadis terpilih itu, itu pasti hanyalah omong kosong. Aku tidak akan membiarkan Ai lenyap dari hidupku.


Pasti!


Tunggu? ... kenapa aku seyakin itu?


Aku belum jatuh cinta padanya. Aku belum terlalu lama mengenalnya. Tapi aku tidak ingin dia direnggut oleh takdir yang kejam. Jika aku kembali melawan takdir, apakah aku akan terus hidup sebagai sang pembelot yang melawan dewa?


"Ukhuk!"


Aku batuk dan menutup mulutku menggunakan tangan kananku. Entah kenapa dadaku terasa sedikit sakit.


"Eh?"


Aku terkejut ketika melihat darah yang adaa di telapak tangan kananku. Darah itu pasti keluar dari mulutku saat aku batuk.


Deg!!!


Rasanya jantung ku tertusuk benda tajam berkali kali. Aku meringis kesakitan dan sampai terjatuh dari ranjangku. Aku tersungkur di lantai dengan tubuhku yang semakin lemas ini.


"Apa ... aku akan mati?"


Ini pasti adalah efek samping Time Control. Aku merasakan akibatnya ketika bermain main dengan waktu. Aku tersungkur di atas lantai dan hanya bisa melihat cahaya yang masuk dari celah pintu kamarku.

__ADS_1


Greek


Siapa itu?


Pintu kamarku terbuka dan aku melihat seorang gadis berdiri di depan pintu. Rambut pirang keemasan yang panjang. Seragam putih dan rok pendek warna biru muda. Seketika aku mengenalinya, dia dalah Mirai ... atau Ai sebelum Fate Restart yang kedua dilakukan.


Dia mendekat ke arah ku, dia tersenyum, bukan ... dia menangis. Dia membalik badanku dan membuat ku terlentang. Aku bisa merasakan tangannya mulai menyentuh dadaku. Air matanya membasahi kaos yang ku pakai.


Pandangan ku semakin kabur. Aku berusaha untuk tetap sadar walau itu sedikit sulit. Dia membuka mulutnya ...


"Kaito?! ... Maafkan aku!"


Dia bicara? ... suaranya begitu indah. Aku tidak menyangka dia akan berkata kata di sini. Sebenarnya ... apa ini?


Cahaya putih terang memancar di telapak tangannya yang ada di atas dadaku. Jantungku yang tadi terasa sakit sekarang sedikit mereda. Sekarang aku mengerti, kekuatan Mirai adalah menetralisir efek samping dari Time Control.


"Gak perlu minta maaf Mirai ... aku yang salah ..."


Walau rasa sakit di jantungku reda, tapi aku masih tidak bisa bergerak. Kesadaranku perlahan hilang. Kelopak mataku terasa sangat berat dan menutup dengan sendirinya.


Aku kembali berdiri di atas lantai putih ini. Langit langit yang bercahaya sangat terang, dan warna putih yang kulihat sejauh mata memandang.


"Masa lalu gimana maksud mu?"


"Peperangan besar ... korban korban yang berjatuhan ... sama seperti takdir sebelum Fate Restart yang pertama ku lakukan ..."


Peperangan? Korban? Fate Restart pertama?


"Apa ada cara selain Fate Restart untuk mengubah takdir dunia ini sekarang?"


"Tak ada ... kamu memang harus berjuang sendiri ... kamu adalah Sang pelawan takdir ... ini adalah kesempatan ketiga dan terakhirku ... jika kamu gagal aku akan melakukan Fate Restart yang ke tiga dan kamu pasti lenyap dari dunia ini dan tak pernah ada ..."

__ADS_1


Yume kembali menghilang dan meninggalkan berjuta juta pertanyaan di kepalaku. Jadi aku akan kembali melawan takdirnya. Dan jika kali ini aku gagal, aku tak pernah ada di dunia ini. Untuk sekarang aku tak terlalu peduli jika aku harus lenyap dari dunia ini.


Lagi pula aku sangatlah membenci dunia ini. Tapi aku akan sedikit berjuang untuk melindungi adik perempuanku satu satunya itu. Dunia ini adalah rumahnya, walau aku membenci rumahnya tapi aku sangat menyayangi Hanabi.


Di saat yang sama aku kembali merasakan tubuhku. Aku bisa merasakan permukaan lantai yang dingin. Aku bisa merasakan sedikit rasa sakit di kepalaku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat Hanabi duduk di sampingku yang terbaring lemas di lantai ini.


"Kak? ... kok tidur di lantai?" Ucapnya sembari melihat telapak tangan kananku.


Wajah khawatirnya itu membuatku ingat ada bekas darah yang ada di telapak tangan kananku. Aku segera mengepalkan tanganku dan berusaha bangkit.


"Gak apa apa kok ... panas kalo tidur di kasur ...," omong kosongku sembari tersenyum ke arahnya.


"Dasar kakak *****! ... itu darah apa yang ada di tangan kakak!"


"He? ... cuma tinta spidol kok"


"Mana ada ... coba liat sini"


"Heh heh ... jangan pegang pegang bocah!"


"Jangan panggil aku bocah *****!!"


"Hee ... terus panggil kamu apa? ... badanku aja masih kecil"


"Liat aja!! ... nanti kalo dadaku tambah besar!!"


"Apa apaan itu? ... bocah kok pikirannya mesum!"


Walau aku punya banyak masalah. Bercanda dengan adik perempuanku di pagi musim semi ini membuatku sedikit melihat gambaran rasa kebahagiaan. Cuma Hanabi seorang yang bisa menghiburku di saat saat seperti ini.


"Dasar bocah! ... kakak gak sabar lihat kamu tumbuh jadi gadis cantik loh ... jangan kebanyakan marah ... entar kamu keriput loh," ujarku sembari mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Haa? ... kakak Siscon ya?!" (Siscon\=suka sama saudara perempuan nya sendiri)


"*****!!"


__ADS_2