
Raku
"Oi!!! Sudah kubilang aku tak akan menyerah!!!" Teriakku sembari melangkah mundur perlahan.
Malam ini, lagi lagi, aku dikejar oleh beberapa ninja dari Shogun. Alasan mereka tak lain dan tak bukan adalah membunuhku. Dan juga gadis kecil yang sedang kugendong di punggungku. Kami berada di atap salah satu gedung kota Natsu. Aku sudah tak bisa melompat ke atap gedung lainnya karena sudah dikepung oleh sepuluh ninja jonin yang kekuatanya setara denganku.
"Raku! Menyerahlah! Kami sudah mengepungmu!" Teriak salah satu dari kesepuluh ninja itu.
Cih! Walau aku masih ada satu rencana lagi tapi ...
"Oi oi! Apa kalian ingat peraturan ninja yang tak boleh dilanggar?" Kata kataku itu membuat mereka semua terdiam seketika.
Benar, dalam peraturan Shogun. Ninja tidak boleh membunuh temannya sendiri. Kami direkrut dan dilatih di tempat yang sama. Kami tumbuh bersama. Dan ada beberapa peraturan dasar ninja yang harus kami patuhi. Pertama, kami tak boleh membunuh satu sama lain. Kedua kami tak boleh berkhianat. Ketiga, teman adalah nomor satu.
Dan misi mereka sekarang adalah membunuhku, tentu itu sudah melanggar peraturan. Tapi tentu mereka punya alasan.
"Kau sudah berkhianat!" Seru salah seorang dari mereka.
"Oi! Aku tak akan seperti ini kalau kalian tidak mengejarku terlebih dahulu!"
"Kalian memilih lawan yang salah!" Aku membanting tiga bola kecil dan di saat yang sama asap mulai menyelimutiku. Dalam sekejap mata aku sudah menghilang dari hadapan mereka semua. Teknik teleportasi yang biasa dilakukan para ninja itu memang sangat berguna.
Srak!!
Aku langsung berada di tengah hutan Hagume untuk sekedar menyembunyikan Yukki yang kugendong di punggungku ini. Aku menurunkannya dan memintanya bersembunyi di belakang semak semak yang diapit oleh dua batang pohon besar.
"Yukki! Tunggu kakak di sini ya! Jangan kemana mana!" Aku membuka penutup wajahku sejenak untuk berbicara padanya.
"Apa kakak akan bertarung lagi?" Yukki nampak sangat ketakutan dan bingung.
"Hmm, tenang aja, kakak pasti balik kok!" Aku mengusap kepalanya perlahan.
"Janji ya!" Yukki menggenggam tangan kananku erat.
"Ya!" Aku kembali menutup wajahku dan berlari menjauh dari tempat persembunyian Yukki. Aku sengaja pergi ke tanah lapang yang terbuka di tengah hutan ini. Aku sengaja kesini supaya mereka semua terpancing. Mereka mungkin bisa melacakku, tapi tidak dengan Yukki.
"Oiii!!! Apa kalian masih mencariku!!!" Teriakku memancing keributan.
Swush!!! Trank!!!
Beberapa Shuriken melesat kearahku dari dalam hutan. Dengan santai aku menangkis semua mainan itu dengan katanaku. Tak sampai di situ saja, seorang ninja tiba tiba berada di belakangku dan hendak menebas kepalaku dengan pedangnya. Tentu aku berbalik lalu menahan serangannya. Bilah pedang kami saling beradu sampai percikan api menyebar ke sembarang arah. Selanjutnya, satu orang ninja terjun dari atas langit berusaha menusuk kepalaku dengan pedangnya.
Aku melompat ke belakang lalu ia pun hanya menghantam tanah yang tadi kupijak. Sebelum aku bisa menapakan kakiku ke tanah, salah seorang ninja sudah menuggu dan siap menusukku dari belakang.
"Jangan bercanda!" Teriakku sembari membalikan badan dan menangkis serangannya.
__ADS_1
"Aaghhh!!!" Aku mengayunkan kakiku dan menendang ninja tadi. Dan alangkah terkejutnya aku menyadari dia berubah jadi kayu setelah menerima seranganku.
Jrak!!!
"Aghh!!!" Dan saat yang paling tidak kusuka datang. Sebuah shuriken menancap di punggungku dan membuatku tak lagi bisa bergerak karena terkejut. Tentu saja mereka mengambil kesempatan emas ini, salah satu dari mereka menusuk bahu kananku dengan pisaunya lalu memukul perutku sampai aku terpental jauh kebelakang.
"Cih ... payah!" Aku jatuh tersungkur dan hanya bisa menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. Darah mulai membasahi kostum ninjaku ini.
"Hahahaha!! Raku, apa hanya itu kemampuanmu?" Hal yang tak terduga pun terjadi. Seorang pria tua dengan perban yang mengikat kepalanya. Yukata putih dan pedang di pinggang kirinya. Mata hitam yang menatap tajam ke arahku.
"Sensei?!" Aku terbelalak menyadari guru tertinggi ada di hadapanku saat ini. Kesepuluh ninja jonin tadi hanya berlutut di belakangnya untuk memberi hormat. Guru tertinggi yang tak diketahui namanya itu tak pernah keluar dari tempat pelatihan ninja di markas shogun. Tapi entah kenapa sekarang dia ada di hadapanku.
"Yang lain mundur, biar aku yang hadapi anak ini!" Ujar Sensei kepada sepuluh jonin yang ada di helakangnya.
"Baik!" Seru mereka serentak lalu menghilang begitu saja.
Apa ini?! Satu lawan satu?! Lawanku adalah guru tertinggi?!
"Sensei?! Kenapa kau di sini?!" Aku bangkit berdiri seraya mencabut pisau yang menancap di bahu kananku ini.
"Ujian terakhirmu ...," satu kata yang membuatku semakin bingung.
"Apa itu?"
"Dan kau akan naik tingkat menjadi master ninja sepertiku." Jelasnya dengan senyuman tipis.
"Kenapa Sensei melakukan itu?" Lanjutku bertanya.
"Aku sama sepertimu, aku memilih pihak yang salah. Tapi aku tak akan menghianati teman temanku." Sensei menarik pedang keluar dari sarungnya dan mengarahkan ujungnya padaku.
Jadi Sensei juga sudah sadar berada di pihak Shogun itu salah. Tapi dia tetap tak mau menghianati temannya, dia memang ninja sejati. Tapi kekuatannya jauh melebihiku. Aku adalah jonin terlemah di Shogun.
Apa aku bisa?!
"Cih, kalau begitu!" Aku langsung berlari maju menggenggam pedang di tangan kanan dan pisau di tangan kiriku.
Trank!!! Bwushh!!!
Sensei menahan seranganku dengan satu katananya dan membuat amukan angin yang lumayan besar. Percikan api juga keluar saat bilah pedang kami saling beradu.
"Aaaaahhhhhggg!!!!" Aku berusaha menyerang sensei dengan ayunan kaki kananku, tapi sia sia saja. Dia bisa membaca seranganku berhasil menghindar. Dan sekarang Sensei berusaha menyerangku dengan ratusan ayunan pedangnya yang super cepat. Aku hanya bisa menangkisnya dan terus melangkah mundur. Beberapa menit berlalu dan aku merasakan kecepatan gerakanku menurun sedikit demi sedikit. Tapi tidak dengan Sensei, kecepatan ayunan pedangnya masih sama sejak awal.
"Raku, kau bukanlah ahli pedang!" Pekik Sensei lalu bilah pedangku patah begitu saja. Dan sekarang aku tak bisa menggunakan pedangku lagi untuk menangkis serangannya.
"Sial!" Aku melompat ke belakang untuk menghindari serangan berbahaya yang pastinya akan datang. Tanpa pikir panjang aku membuang katanaku yang patah ini ke sembarang arah. Sekarang yang bisa ku andalkan hanyalah sebilah pisau yang tadi menusuk pundakku.
__ADS_1
"Raku, kau adalah ninja terkuat yang ada dalam ramalan ... tolong percayalah pada dirimu sendiri." Kata Sensei melangkah maju perlahan sembari menggenggam gagang katananya erat erat.
"Cih, aku sudah tak bisa mempercayai siapapun! Termasuk diriku sendiri!!" Tanpa takut sedikit pun aku melesat ke arah Sensei dan berusaha melukainya dengan sebilah pisau yang ada di tangan kananku. Tentu saja Sensei bisa menangkis semua usahaku dengan santai. Kakinya bahkan tak bergerak sedikit pun saat menahan semua seranganku dengan pedangnya.
"Raku, bukalah hatimu untuk seseorang ...," Kata Sensei sembari menangkis semua usahaku.
"Aku sudah tidak bisa!!!" Tanpa kusadari aku membuka celah bagi Sensei dan dia pun bisa memanfaatkannya dengan baik. Ia menendangku dan membuatku tak sengaja melepas pisau yang kugenggam. Tubuhku kembali melayang mundur, tapi kali ini aku bisa mendarat menggunakan kedua kakiku.
"Kak Raku!!!!" Tiba tiba Yukki berlari keluar dari hutan dan menarik perhatian kami berdua yang sedang sibuk bertarung ini.
Tidak! Kenapa dia keluar!?
Aku kembali menoleh kearah Sensei, dia hendak melempar Yukki menggunakan Pisauku yang terjatuh tadi. Inilah hal yang paling tidak aku inginkan untuk terjadi. Tentu aku tak diam saja melihat sebilah pisau melesat ke arah gadis kecil itu. Aku berlari sekuat tenaga untuk mendahului pisau itu. Semoga saja aku berhasil sampai sebelum pisau itu menusuk kepala kecil Yukki.
"Yukkiiiiii!!!!!"
Jrak!!!
Bilah pisau itu kembali menancap di punggungku. Untung saja aku tepat waktu, aku sudah memeluk Yukki terlebih dahulu sebelum sebilah pisau itu menyentuhnya. Aku tak pedulu seberapa rasa sakitnya, yang penting aku bisa melindungi gadis kecil ini. Hanya dialah yang menemaniku di saat saat ini. Melihat senyum dan mendengar suara tawa kecilnya itu sudah menenangkan hatiku.
Percaya? Apa aku harus percaya lagi?
"Kak ... Raku?!"
"Yukki, sudah kubilang jangan keluar!" Ujarku sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku bisa merasakan darah mulai mengalir keluar dari punggungku.
"Yukki, apa kakak boleh meminta sesuatu?" Aku melepas pelukanku dan kembali berdiri tegak.
"Apa itu?" Yukki nampak bingung dan takut.
"Harapan ... berilah aku harapan ...," Aku berbalik dan mencabut pisau yang menacap di punggungku.
"Aku memang lemah ... tapi aku akan melindungi harapan orang sekecil apa pun itu!!"
"Aku akan menjadi matahari yang terus bersinar tanpa peduli apa pun!"
"Apa boleh?" Aku menoleh kebelakang sejenak hanya untuk melihat wajah imutnya itu. Ya, tentu saja Yukki hanya bisa terdiam dan bingung mendengar kata kataku tadi. Tapi air mata di wajahnya itu cukup menjawab semua pertanyaanku.
"Yukki!!! Terima kasih!!!" Aku meremas pisau di tangan kananku sampai hancur berkeping keping. Seluruh tubuhku mulai bersinar oranye terang. Mataku juga bersinar terang sama seperti warna tubuhku. Ini dia, kekuatan yang selama ini kusembunyikan dari semua orang.
"Yukki, tunggu di sini ya!"
Dengan kecepatan cahaya aku langsung ada di belakang Sensei. Tanpa pikir panjang aku mengayunkan kakiku menuju kepalanya. Tapi tentu saja ia langsung berbalik dan menangkis tendanganku dengan lengan kirinya.
"Ini dia yang kutunggu!!"
__ADS_1