Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 38


__ADS_3

Kamarku yang gelap. Buku buku berserakan di atas meja belajar. Suara gemericih air hujan. Aku duduk di atas ranjang dan menyandarkan punggungku ke dinding. Aku hanya merenung di kegelapan kamarku, aku hanya berusaha menenangkan diriku setelah menjalani hari hariku yang mengejutkan ini.


Aku merasa masuk ke dunia novel fantasi. Aku penulis yang gagal, tapi mungkin aku punya cerita yang bagus untuk ditulis setelah semua ini berakhir. Tapi, aku tak tahu kapan ini akan berakhir, lagi pula aku belum tentu masih hidup saat itu.


Greek~


Seseorang tiba tiba membuka pintu kamarku. Cahaya lampu dari luar pun masuk dan menyilaukan mataku. Ema berdiri di depan pintu dengan rambut pirangbya yang terurai, ia memakai kaos warna merahku dan celana pendak warna hitam milik Hanabi.


Kaos ku itu memang terlalu besar untuknya, tapi dia juga terpaksa memakainya karena tak ada pilihan lain. Dan masalahnya adalah ...


Kenapa dia masuk ke kamarku?!


"Okino-sama? ... apa kau belum tidur?" Tanyanya melangkah masuk dan menutup pintu kamarku kembali.


"Ema?? ... harusnya aku yang tanya tau?!"


"Apa Okino-sama menungguku?" Tanya nya dengan wajah datar seraya melangkah ke arahku.


"He??"


Pertanyaannya itu malah membuatku semakin tak nyaman. Seolah olah aku memang menunggunya untuk tidur satu ranjang lagi.


*****!!


Aku itu juga laki laki tau?! ... jika begini terus ...


"*****!" Gumamku sembari menampar pipiku sendiri.


"Okino-sama? ... apa di luar masih hujan?" Tanyanya sembari duduk di sampingku.


"Hmm ...," jantungku mulai berdebar kencang saat merasakan bahu kami yang saling bersentuhan ini.

__ADS_1


"Okino-sama ...," Ema menyandarkan kepalanya di pundakku.


Hoi hoi hoi!!!


Tahan tahan tahan!!


"Ema ... kenapa kamu gak tidur sama Hanabi?" Tanyaku berusaha menyembunyikan rasa gugupku.


"Aku cuma pengen tidur sama Okino-sama ...," jawaban yang sama sekali tidak mengubah keadaan.


Huff ... tenang ... sekarang aku hanya harus keluar dari situasi ini ...


"Ema ... menurutmu ... Gilbert, eh ... menurutmu aku itu orangnya seperti apa?" Tanyaku.


"Okino-sama? ... bagiku ... Okino-sama adalah penyelamat hidupku," Ema memejamkan matanya dan tetap menyadarkan kepalanya di pundakku.


"Ema ... Ema pengen tau gimana wajah Okino-sama ... katanya mata Okino-sama warnanya hijau ... bahkan aku gak tau warna hijau itu gimana ...", kata katanya itu membuat ku ingat bahwa ia tak bisa melihat.


"Hmm ... menurut ku ... Ema cantik ...,' entah kenapa aku tiba tiba malah berkata seperti itu di situasi seperti ini.


"Hmm ..."


Sepertinya Ema sudah tertidur. Aku memegang kepalanya perlahan dan menidurkan nya di atas bantalku. Aku tak lupa menyelimutinya saat merasakan udara di sini dingin karena hujan yang tak kunjung reda.


Mending aku tidur di bawah aja lah ...


Saat aku hendak berdiri untuk keluar dari kamarku. Ema menggenggam lengan kiriku dengan kuat. Inilah situasi yang sama sekali tak kuharapkan.


"Jangan pergi! ... aku mohon," katanya dengan matanya yang sudah terpejam itu.


"Ema ... tapi ...," aku berusaha menolak, tapi Ema malah menarikku dan wajah ku hampir saja membentur kepalanya.

__ADS_1


Sial ... bau wangi shampo dari rambut nya bisa ku rasakan dengan jelas. Nafas lembutnya juga terdengar sangat jelas.


"Okino-sama ... hari ini aja ... jangan pergi," nada lembutnya itu membuatku sama sekali tak bisa menolak permintaannya itu.


Sial!!!


Aku pun terpaksa membaringkan diriku disampingnya. Aku berpikir untuk meninggalkannya saat ia sudah tertidur pulas. Tapi ternyata rencana ku tak berjalan mulus. Ema terus menggenggam tanganku dan tak membiarkanku bergerak dengan bebas.


Wajah kami saling berhadapan dan hanya berjarak sekitar dua sentimeter saja. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang lembut itu. Aroma shampo dan parfum milik Hanabi juga ada padanya.


Aaahhh ... bodo amat ... tinggal tidur aja kok ribet ...


Aku pun memejamkan mataku dan berusaha untuk segera tidur. Aku berharap besok pagi dirinya sudah hilang dari hadapanku. Entah Kenapa aku sudah merasa terbiasa tidur seranjang dengannya. Mungkin karena hidupku di masa lalu sudah seperti ini.


Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku dimasa lalu itu. Saat dimana aku menjadi Gilbert dan saat dimana aku menjadi diriku yang begitu mencintai orang bernama Mirai Ai yang tanpa suara itu.


Dan sekarang aku tak tahu siapa sebenarnya orang yang ada di hadapanku. Ema, Mirai, atau Ai ... satu orang yang memiliki tiga tubuh dan tiga ingatan berbeda. Karenanya aku bisa sampai sejauh ini.


Mungkin sebentar lagi ...


Aku akan tau semuanya ...


**********


Makasih udah baca cerita ku ini ...


tolong like commentnya ya?


Satu like kalian sangat berarti bagi ku ...


makasih banyak buat kalian yang udah support aku ...

__ADS_1


See you next chapter ya ...


__ADS_2