
Sepulang dari markas Demon Hunter, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Mungkin Hanabi akan merasa lebih baik dari pada aku tidak pulang sama sekali. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya aku sampai di depan pintu rumahku yang masih tertutup rapat.
Glek~
"Hanabi kakak pulang ...," aku membuka pintu dan masuk ke rumah.
"Woa ... kakak dateng!"
"Selamat datang Kaito ..."
Aku terkejut melihat Hanabi yang duduk di sofa ruang keluarga bersama Ai yang sudah ada di sampingnya.
"Ohh ... kamu langsung ke sini ya Ai?"
"Iya," jawaban disertai senyuman indahnya itu membuat hatiku sedikit lebih tenang.
"Oh ya kak ... malam ini apa kakak pergi lagi?" Tanya Hanabi yang berdiri di atas sofa.
"Iya ... maafin kakak ...",
"Hee? ... kenapa minta maaf ... kan kakak itu pahlawan! ... aku seneng bisa jadi adiknya pahlawan super!" Ujar Hanabi dengan wajah gembiranya itu.
"Hanabi ... ah ... ya udah ... kakak mau ke kamar dulu ...," aku langsung menaiki tangga dan masuk ke markasku sendiri, yaitu kamar.
Buk~
Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur dan sedikit melepas lelah yang menempel di tubuhku. Sesaat kemudian ponselku berdering tanda telepon masuk. Aku kambali bangkit dan melihat siapa yang meneleponku.
Ha? ... nomer siapa? ... angkat aja lah ...
"Halo? siapa ini?" Aku menempelkan ponsel di telinga kananku. Aku bertanya karena yang menghubungiku adalah nomor yang tak kukenal.
"Perkenalkan ... aku Sakurako Fumio, kapten dari tim nomor tiga lima ... apa anda adalah Kaito?"
Suara itu, nada itu, jelas itu adalah Fumio. Dan gaya bahasanya itu malah membuatku tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Ada apa Fumio?"
"Aku masih menunggumu membatalkan misi malam ini"
"Apa Haru dan Kakume sehat?" Aku berdiri dari ranjang dan melangkah ke depan pintu kamarku.
"Jangan mengalihkan pembicaraan ..."
"Hmm ... aku akan tetap kesana sendirian," aku menyandarkan punggungku di pintu.
"Kaito ... biar ku jelaskan sekali lagi"
"Di dalam rumah itu ... ada gerbang neraka yang terbuka ...," kata kata Fumio yang membuatku terkejut.
Jigoku Gate atau gerbang neraka adalah sebuah lubang hitam yang mengeluarkan para Akame itu dari neraka. Dan mungkin situasinya akan lebih parah jika ada iblis yang keluar dari sana. Mungkin Akame memang banyak, tapi mereka sangat lemah. Tapi iblis berbeda, satu iblis sama dengan seratus Akame. Atau bahkan lebih, sang iblis memiliki kekuatan yang luar biasa.
Sayuta Yuki, teman satu tim mereka yang gugur itu ternyata dibunuh oleh iblis. Malam itu mereka menjalankan misi untuk menyegel Jigoku Gate. Tapi malam itu nasib mereka sedang buruk. Iblis yang mempunyai tubuh seperti manusia tapi kulitnya berwarna merah darah. Wajah menyeramkan dan tanduk yang patah di dahinya.
Ia mengenakan baju zirah layaknya pejuang di masa lalu. iblis itu tingginya lebih dari dua meter. Tubuhnya kekar berotot, matanya merah menyala. Ia juga punya taring yang tajam. Kukunya berwarna hitam, panjang dan runcing. Iblis itu membawa pedang besi dengan panjang hampir dua meter. Pedangnya juga besar, tembok pun bisa hancur dalam sekali ayunan.
Knight. Sang satria dari alam kegelapan. Dia adalah iblis yang berhasil merebut nyawa Yuki, teman satu tim Fumio dan kawan kawan.
"Kaito ... iblis itu juga mungkin bisa keluar di sana ... aku mohon batalkan saja niatan mu itu ...," Fumio berusaha menghalangi ku untuk pergi ke rumah tua itu.
"Fumio ... kalau begitu ..."
"Apa kau akan membatalkan misinya?"
"Malam ini ... jika dia keluar dari sarangnya ... aku akan membalaskan dendam kalian"
"Payah!!! ... jangan sok kuat!!" Suara Fumio itu, dia pasti sangat marah padaku.
"Fumio ... semua yang terjadi sekarang itu adalah salahku ... seharusnya takdir bukan berjalan seperti ini ...,"
"Jangan bicara sembarangan!!"
__ADS_1
"Dengar ... Fumio ... maaf tapi aku sudah tak punya alasan untuk mundur ...",
"Kaito!"
"Aku akan menguji batas kekuatanku hari ini ... aku juga akan membalaskan dendam kalian ..."
"Kaito ... jika kau mati itu semua tidak berguna! ..."
"Kalau begitu ... aku hanya harus tetap hidup kan? ... tenang saja ... aku akan membunuh si setan sialan itu untuk kalian," aku langsung memutus sambungan teleponnya.
Huff ...
Malam ini, mungkin aku bisa saja mati. Jangan, aku masih pinya tujuan hidup. Aku juga akan tahu apa sebenarnya diri ku ini. Sampai mana batas kekuatanku itu, kekuatan yang diberikan sang dewa dan iblis.
"Ahh ... bodo lah ...," aku kembali keluar dari kamarku dan turun ke lantai dasar.
Hanabi dan Ai masih duduk di atas sofa dan menonton acara televisi kesukaan mereka. Dengan begini Hanabi tak lagi keaepian setiap malam. Dan mungkin aku bisa mati dengan tenang.
*****!!!
"Ohh kakak! ... kenapa diem aja? ... sini!" Ujarnya saat melihatku melamun.
"Hmm ...," aku pun duduk di samping kiri Hanabi.
"Wahh ... rasanya gak sabar nunggu kalian nikah!" kata Hanabi sembari menggenggam tangan Ai yang ada di samping kanannya.
"Ha?!"
Aku dan Ai saling bertatap muka, pipi kami berdua memerah karena kata kata Hanabi itu. Tak kusangka adik perempuanku berkata hal seperti itu.
"Hanabi ... mau kupukul kah?" Kataku dengan wajah datar.
"Hwa ... kak Ai? ... kenapa kak Ai suka sama cowok ***** kayak kakak ku?" Tanya Hanabi sembari memeluk Ai.
"Terserah kamu aja lah Hanabi ..."
__ADS_1
Mungkin inilah yang dinamakan kehangatan keluarga. Duduk bersama di atas sofa sembari menyaksikan televisi. Canda tawa yang selalu mengiringi. Kuharap Ai juga merasakannya. Aku yakin dia juga kesepian, apa lagi dia juga pasti di jauhi orang lain karena kekurangannya itu.