Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 76


__ADS_3

Kaito


Pagi ini aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Walau tubuhku masih belum pulih sepenuhnya. Tapi aku tak ingin membuat Ai khawatir. Aku juga tak ingin Ai bolos sekolah hanya karena aku.


Kami berdua berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan pohon sakura yang berbaris rapi. Pagi ini terasa begitu berwarna. Aku tidak lagi digantungi rasa malas di hatiku. Mungkin karena aku berjalan di sisi gadis tuli yang punya tiga tubuh itu.


Rambut hitam terurai yang terombang ambing karena tertiup angin musim semi. Mata ungu yang berbinar, senyum tipis dan bibir yang merah merona itu. Pandanganku tak berhenti mengarah kepadanya sepanjang perjalanan kami.


"Kaito? ... kenapa?" Tanya Ai bingung menyadari aku menatapnya sedari tadi.


"Ohh ...," aku mengalihkan pandanganku sembari menggeleng.


"Ne ... ne ... taruhan yuk ...," Ai menarik lengan seragam ku berkali kali dan mendekatkan wajahnya itu padaku.


"Ta-taruhan apaan?" Aku malah gugup menanggapi sikapnya itu.


"Kalo novel ku menang lomba ... apa kamu mau beliin aku sesuatu?"


Hoi?! apa apaan itu?!


"Gak mau ah ...," ucapku menolak.


"Hee? ... beneran? ... kalo gitu kalau aku menang ... buatin aku satu novel ya?" sepertinya dia tidak mendengar kata kataku tadi.


"Ai ... aku bilang gak mau ...," aku memperjelas ucapanku.


"Yaayy ... makasih Kaito," Ai malah tersenyum kegirangan.


Sepertinya alat bantu dengarnya kembali bermasalah. Aku pun menyerah untuk menolaknya. Biarkan saja, besok pasti dia sudah lupa. Mungkin ...


Kami pun sampai di depan gerbang sekolah yang terbuka lebar. Keramaian yang kubenci mulai terlihat. Kebisingan yang membosankan itu juga mulai terdengar. Sudahlah, lagi pula aku hanya kesini beberapa hari sekali. Kami berdua pun melangkah masuk ke kelas bersama.


Hal yang aneh terjadi ketika kami berdua melewati pintu masuk kelas. Sorot mata murid murid lain yang berada di kelas tertuju pada kami berdua. Terdengar bisikan bisikan dari beberapa penggosip yang ada di dalam kelas.


Cih ... kenapa ini?

__ADS_1


Kami hanya duduk di bangku kami tanpa menghiraukan mereka. Seperti kebiasaanku, aku duduk dan melihat ke arah luar jendela.


Ting tung~


Notifikasi pesan masuk dari ponsel yang ada di saku seragamku. Tanpa pikir panjang aku membaca chat yang dikirim oleh Mina.


{Gawat!}


{Ai jadi musuh semua orang di kelas ini}, chat yang ku terima dari Mina yang duduk di bangku baris paling depan itu.


Aku melakukan kontak mata dengan Mina sebelum aku membalas chatnya itu dengan pertanyaan.


{Emangnya ada apa?}


{Kamu bakal tau nanti} balas Mina.


Hmm ... bodo amat lah ...


Aaku kembali memasukan ponselku ke dalam saku seragamku dan kembali memandang keluar jendela.


Si tuli itu ternyata cewek murahan~


Bisikan yang tak sengaja ku dengar dari beberapa siswa lain. Aku tak terlalu mempedulikannya. Lagi pula, bukan aku yang mereka maksud.


"Hoi tuli! ... apa kamu deketin Kaito buat dapet contekan?"


"Hahahaha"


Kata seorang murid memecah tawa seisi kelas. Walau aku tak mengerti masalah apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tapi hal ini cukup mengangguku di awal hari ini.


"Cih ..."


Aku menarik alat bantu dengar Ai yang melekat di telinganya itu. Ai pun terperanjat dan menoleh ke arahku. Ai menaikan alisnya tinggi tinggi dan memiringkan kepalanya. Aku menunjuk telinga ku sendiri lalu menggelengkan kepala ku. Aku memberi tanda supaya dia tak perlu mendengar untuk sementara waktu.


Dengan ini masalah selesai ...

__ADS_1


"Kaito ... apa mereka ngomongin aku?", tanya Ai menarik lengan seragamku berkali kali.


Aku menggelengkan kepalaku dan tetap memandang ke langit biru cerah yang ada di luar jendela. Aku kehilangan semangat ku lagi pagi ini. Sebenarnya masalah apa lagi yang datang, apa kutukan itu memang benar benar sama sekali tak ingin aku merasakan ketenangan sehari saja?


Pelajaran pun dimulai seperti hari hari biasanya. Saat istirahat tiba aku keluar dari kelas dan meminta penjelasan dari Mina dan Raku. Ternyata masalahnya di mulai dari sebuah gosip yang muncul entah dari mana. Gosip itu menjatuhkan nama baik Ai dengan mudah.


Diceritakan disana Ai adalah gadis murahan yang suka mendekati laki laki hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri. Banyak orang yang percaya akan gosip itu karena ada sebuah bukti yang memperkuat cerita bohong itu. Mina menunjukan beberapa foto Ai bersama laki laki yang tak kukenal, foto foto itu tersebar di grup chat sekolah.


Foto itu seolah menunjukan bahwa Ai selalu membawa barang yang dibilang sebagai hadiah dari laki laki di sampingnya. Total ada empat foto dengan laki laki yang berbeda. Aku akui foto itu memang terlihat seperti sungguhan. Tapi aku tahu itu hanya editan belaka.


Gimana bisa Ai pergi jalan jalan sama cowok?


Dia saja tinggal di rumahku ...


Seketika aku tahu siapa pelaku dibalik semua ini. Aku tahu siapa orangnya, hanya saja aku lupa namanya. Siang ini juga aku akan menghajarnya dengan tanganku sendiri.


"Huff ... ya udah ... aku mau tidur di kelas aja ... capek ...," ucapku pamit kepada sepasang kekasih yang tak mau mengakui hubungannya itu.


Aku kembali masuk ke dalam kelas dan melihat Ai sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Aku duduk di bangku ku dan menepuk pundaknya. Dia terperanjat dan langsung menoleh ke arahku.


Aku mengambil alat bantu dengarnya dari saku seragamku dan mengembalikan benda itu padanya.


"Ohh ... makasih," ucapnya sembari kembali memakai alat bantu dengarnya itu di telinga kanannya.


"Cari apa?" Lanjutku bertanya.


"Ohh ... novelku ilang ... padahal tadi pagi ada di laci ...," Ai kembali mengeledah tasnya itu.


"Cih ..."


Aku sudah hafal perilaku orang jahil yang ada di kelas ini. Walau aku terlihat pendiam dan cuek, aku sebenarnya memperhatikan tingkah laku semua orang yang ada di sini. Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat sampah yang berada di pojok ruang kelas.


Dan benar saja, ada yang membuang novel Ai ke dalam tempat sampah. Aku kembali ke bangku ku dan mengembalikan novelnya itu.


"Ha ... Kaito hebat ... makasih banyak"

__ADS_1


Senyumannya yang selalu ia berikan kepadaku. Entah kenapa aku selalu ingin melihatnya di sisi ku seperti ini. Aku tak akan membiarkan senyumannya itu lenyap.


Siapapun yang ada di balik semua ini harus menerima akibatnya ...


__ADS_2