Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 200


__ADS_3

--------------


Sang surya yang bersinar seakan tak peduli apa yang terjadi di bawahnya. Pagi ini Munmei, Saika, Hanabi, dan Arthur berhadapan dengan Okino Kaito. Sang tokoh utama yang sudah kehilangan arah. Rambut hitamnya yang lusuh berantakan. Tatapan kosong yang terpancar di bola mata hijaunya. Jaket hitam yang sudah dipenuhi koyakan dan lubang lubang bekas pertarungan sebelumnya.


Mereka berlima berdiri di tengah wilayah Chizu yang hanya tersisa dataran penuh dengan reruntuhan. Hanabi sudah siap menggenggam pisaunya. Tatapan tajam keluar dari bola mata birunya itu. Begitu pula dengan Saika yang siap dengan perisai di lengan kanannya.


"Tcih! Maju sini!!!" Munmei berlari ke arah Kaito sebagai pembuka pertarungan kali ini. Ia mengayunkan pedangnya kesana kemari dan tak memberikan kesempatan bagi Kaito untuk menyerang balik.


Kishi, itulah nama pedang kemuliaan milik Munmei. Pedang besar nan kuat, kalau dibandingkan dengan Kensetsu milik Kaito. Pedang Munmei lebih unggul, jauh lebih unggul. Tapi masalahnya adalah, Munmei tak bisa mengendalikan pedang itu sepenuhnya.


Mereka berdua saling menyerang dan bertahan. Munmei memang unggul selama beberapa menit, tapi tidak lagi sekarang. Kaito mulai meningkatkan kecepatan serangannya, alhasil keadaan pun berbalik. Beberapa kali kulit tangan Munmei tergores akibat dari Kensetsu Kaito yang sangat cepat itu.


Arthur yang melihat keadaan yang semakin memburuk ini pun berpikir keras.


"Saika, bantu Munmei!" Seru Arthur dengan wajah seriusnya.


"Baik!!" Saika mematuhi perintah Arthur dan ikut campur dalam pertarungan itu.


"Senpai!!! Hentikan!!!"


Buank!!!


Saika menghantam Kaito menggunakan perisai bajanya hingga Kaito terpental jauh ke depan. Dengan ini Munmei dapat sedikit menarik nafas lega. Serangan fisik tak akan berpengaruh pada Kaito. Sekarang ini Arthur sedang berusaha mencari kelemahannya. Maka dari itu Arthur hanya diam di samping Hanabi.


Bukan tanpa alasan, Arthur juga sadar suasana hati Hanabi sedang tidak baik. Jadi kekuatannya mungkin tidak keluar sepenuhnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk melindungi Hanabi.


"Dimana rumahku?!" Kaito bangkit berdiri dengan muka tanpa ekspresi sama sekali.


"Senpai!! Sadarlah!" Pekik Saika yang membendung air matanya itu.


"Siapa yang kau panggil Senpai?" Kaito melesat sembari mengayunkan Katana-nya itu. Tapi sanyang sekali, perisai besi Saika itu berhasil menghentikan serangannya.


"Oi pikun!!!"

__ADS_1


Duar!!!


Munmei melompat keudara seraya mengayunkan pedanya dari atas ke bawah menuju Kaito. Bukanya menghantam kepala Kaito, pedang Munmei hanya membuat tanah di sekitarnya penuh retakan.


"Hanabi!" Arthur meminta Hanabi melancarkan serangan selagi Kaito baru saja mendarat setelah menghindari serangan Munmei.


"Kakak!!!!" Hanabi melaju secepat angin musim panas menghampiri kakaknya itu.


Arthur tahu bahwa Hanabi tak akan bisa menyerang kakaknya. Maka dari itu ia sudah merencanakan sesuatu, dan sekarang Arthur tersenyum tipis.


"Giliranku ...," Gumam Arthur sembari menghentakan ujung tombaknya ke tanah.


Tank!!!!


Setelah suara hentakan tombak, mereka semua berpindah tempat ke hamparan taman bunga yang indah. Bukan, Arthur memang mengubah tempat pertarungan tadi menjadi surga yang dipenuhi berbagai jenis bunga.


Jrak!!!


Tanpa sadar Hanabi berhasil menusukan pisaunya ke perut Kaito. Dan kakaknya itu hanya bisa berdiri membeku karena melihat keindahan tempat ini.


"Ini adalah duniaku! Surga dimana tidak ada pertempuran! Tak ada pertumpahan darah!" Ujar Arthur disertai seringai senyum karena Kaito sudah jatuh ke perangkapnya.


"Kenapa? Kakak ga hindarin seranganku?!" Mata Hanabi terbuka lebar menyadari darah merah mulai mengalir keluar karena pisaunya.


"Di tempat ini, tak ada yang bisa mengalahkanku, karena segala bentuk kekuatan akan hilang!" Seru Arthur penuh kebanggaan akan kekuatannya ini.


"Artinya ...,"


"Iya Saika, Kaito tak akan bisa menggunakan kekuatannya." Munmei menepuk pundak Saika.


"Kakak!!" Hanabi memeluk kakaknya itu hingga Kaito terjatuh terlentang di tanah. Senjata suci Hanabi itu lenyap dan bola mata Hanabi tak lagi bersinar.


"Ha-na ... bi?" Walau tatapan kosongnya itu masih ada, Kaito sepertinya sudah mulai sadar. Ia memegang kepala Hanabi yang ada di dadanya itu. Adik perempuannya itu memeluknya dengan sangat erat, seakan tak ingin kehilangan harta yang paling berharga.

__ADS_1


"Dengan ini, Kaito sudah ada di tangan kami, kalian mau apa?" Gumam Arthur tersenyum dan memegang dagunya sendiri.


"Tentu aku tak diam saja dasar payah!" Suara gadis yang menggema entah berasal dari mana.


"Kurai Munmei ... ternyata kamu juga bisa masuk ke duniaku ya?" Kata Arthur sembari memetik bunga matahari yang kebetulan ada di samping kanannya.


"Jangan meremehkan aku!" Seru Kurai disertai pusaran api hitam yang muncul di atas udara.


"Hua? Sekarang aku tahu dari mana asal kemampuanmu," Arthur melangkah maju mendekat ke arah Kaito dan Hanabi.


"Hanabi, bawa kakakmu menjauh dari sini ya?" Pinta Arthur disertai senyuman ramahnya.


"Oke! Kakak ayo!" Hanabi mrlingkarkan lengan Kaito ke pundaknya untuk membantu kakaknya berdiri dan menuntunnya ke arah Munmei.


"Nah, Kurai-san ... menarik sekali kamu bisa masuk sekaligus menggunakan sihirmu di sini ya?" Ujar Arthur meletakan tangan di dagunya.


Setelah pusaran hitam di udara itu padam. Kurai Munmei yang melayang di udara itu perlahan mendarat ke taman bunga yang indah ini. Mengejutkan, saat kakinya menyentuh daratan, bunga di sekelilingnya berubah jadi abu. Bukanya waspada atau terkejut, Arthur hanya tersenyum lebar dan melompat mundur. Arthur mendarat di belakang Hanabi yang menopang kakaknya untuk berdiri itu.


"Kalau begini, pertarungan antar tokoh utama perempuan tak terhindarkan." Kata-kata Arthur yang membuat Munmei sadar bahwa kekuatannya dibutuhkan sekarang.


"Ya ya ya, dua Munmei yang akan berhadapan, huuff ...," Munmei maju ke depan untuk berhadapan langsung dengan reingkarnasinya itu.


"Kalian bertiga pergilah, biar Fuyuka dan Munmei yang mengatasi dia." Arthur menepuk pundak Saika lalu cahaya sihir menyelimuti mereka ber empat.


Beberapa detik kemudian Kaito, Hanabi, dan Saika menghilang dari tempat ilusi ini. Saat cahaya di badan Arthur hilang, ia sudah kembali berubah menjadi Okino Fuyuka. Remaja berambut hitam dan mata hijau padam. Ia masih memakai kaos hitam dan celana panjang putihnya. Fuyuka belum sempat mandi dan mengganti pakaiannya sedangkan masalah berdatangan seperti tamu tak diundang.


"Ya ampun, ujung ujungnya yang lawan dia aku juga kan?!" Ujar Fuyuka kesal sembari menepuk keningnya sendiri.


"Kalian! Beraninya merebut Kaito dariku!!!!!!" Jeritan Kurai diikuti dengan gelombang suara yang menghancurkan dunia ilusi Arthur.


Sekarang mereka bertiga kembali berada di wilayah Chizu yang hancur berantakan. Tak sampai di situ, entah dari mana Okino Yuuta menunjukan batang hidungnya dan berdiri di samping Kurai. Remaja rambut merah padam dan mata kecoklatan. Ia memakai pakaian yang biasa ia kenakan, yaitu jaket dan celana panjang hitam.


"Mei, mohon kerja samanya!" Fuyuka siap di sisi Munmei dengan tombak suci di tangan kanannya.

__ADS_1


"Tentu, mas Fuyu yang terhormat!" Munmei menancapkan pedangnya ke tanah dan dalam sekejap ia sudah berubah ke wujud awalnya. Mengenakan gaun biru putih yang anggun. Rambut pirang tertata rapi dengan pita biru yang mengikatnya.


"Pertarungan antar tokoh utama, menarik sekali!" Lanjut Fuyuka mengacungkan mata tombaknya ke Kurai dan Yuuta.


__ADS_2