Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 169 Life in the Shadow 3


__ADS_3

"Aaagggghhh!!!"


Boom!!!!


Tinjuan kami saling beradu dan menimbulkan amukan angin yang cukup besar. Tanah yang kami pijak bahkan ikut retak. Sensei bahkan masih bisa menandingiku saat ini. Aku sudah berubah ke Flame mode dimana tubuhku akan berubah seperti mainan kaca yang bersinar terang warna oranye. Tubuhku sekeras berlian, tak ada yang bisa melukaiku sekarang ini.


Kekuatanku jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku pasti bisa mengalahkan guru tertinggi yang ada di hadapanku saat ini. Yukki sedang menyaksikan pertarungan ini dan berharap aku menang supaya kami segera pulang kerumah dan beristirahat. Dia sudah memberiku harapan untuk tetap hidup dan bertarung. Bukan hanya dia, Mina, Kaito, semuanya juga masih menungguku untuk kembali pulang.


Aku tak bisa menyerah di sini. Aku akan terus bertarung dan bebas dari kejaran para Shogun. Malam ini adalah malam musim panas yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan. Tapi malam ini malah dipenuhi kepahitan yang terus menerus datang di hidupku.


"Raku, kau belum terlalu kuat!" Sensei menusukan pedangnya tepat ke jantungku lalu membuatku terpental mundur karena tendangannya yang sangat kuat itu. Tentu aku sama sekali tak merasakan sakit, aku mendarat dengan kedua telapak kakiku dan mencabut pedang yang menancap di dadaku ini. Tanpa basa basi aku meremasnya dan membuat pedang itu hancur berkeping-keping.


"Raku, kuharap kau bisa menanganinya." Sensei melepas perban yang mengikat kepalanya itu. Dan sekarang terlihat benda seperti kristal merah yang ada di dahinya.


"Apa itu?!"


"Ini adalah senjata rahasia Shogun ... kuharap kau bisa mengalahkanku dan katakan tentang senjata ini kepada temanmu sebelum perang dimulai." Sensei menyentuh kristal itu dengan jari telunjuknya dan sinar merah terang mulai memancar dari batu yang menancap di dahinya itu. Tak lama kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Urat-urat dan otot-otot di tubuh Sensei tiba tiba membesar. Matanya itu berubah jadi merah seperti Akame pada umumnya.


"Apa apaan itu?!" Aku hanya bisa terbelalak menyaksikan tubuh sensei yang perlahan berubah menjadi monster. Taring tajam perlahan keluar dari mulutnya. Rambutnya bersinar merah terang. Kulitnya berubah jadi warna merah darah. Urat-uratnya bersinar seperti bara api. Ia berubah menjadi monster kekar berotot dengan tinggi lebih dari dua meter.


"Yukki!! Masuk ke hutan dan berlindung di balik pohon!!!" Perintahku merasakan bahaya yang sangat besar berada di depanku itu.


"Graaaaaaakhhh!!!!" Monster itu mengaung sampai membuat amukan angin yang mengguncang pepohonan yang ada di pinggiran tanah lapang ini.


"Monster?! Shogun bahkan membuat monster?! Dan perang apa yang dimaksud Sensei?!" Aku masih kebingungan dan terkejut akan apa yang kulihat di depan mataku ini.


"Cih, yang penting aku harus membunuhnya terlebih dahulu!" Tanpa pikir panjang aku langsung berlari maju mencoba menyerang monster itu untuk pertama kalinya.


Aku mengayunkan kaki kananku. Dia berhasil menangkisnya dengan tangan berototnya. Tinju tangan kanan kulayangkan ke wajahnya, hanya terdengar suara benturan keras dan percikan api. Dia bahkan tak bergerak sama sekali. Dan sepertinya aku membuat dia marah karena pukulanku ke wajahnya ini.


"Geaaaakhhh!!!"


Duar!!!! Swushh!!!


Dia memukul perutku dan membuatku melayang ke atas udara. Inilah kesempatanku, aku menghentikan gerakanku dan melayang di udara.


"Flame Thrower!!!"


Aku menyemburkan api yang keluar dari kedua telapak tanganku ini. Seburan api raksasa pun menyelimuti monster raksasa tadi. Rerumputan yang ada di tanah lapang itu langsung hangus terbakar karena ulahku. Tapi tidak dengan monster itu, walau kulitnya dipenuhi dengan kobaran api, dia masih bisa berdiri tegak dan menatapku yang sedang melayang di atasnya ini.


"Jangan remehkan aku payah!"

__ADS_1


Aku meluncur kebawah dan bersiap dengan tinjuan terkuatku. Benturan kembali terjadi, monster itu menahan seranganku hanya dengan lengan tangan kirinya saja. Lagi lagi dia berhasil memukulku dan membuatku tersungkur di tanah. Dia bukan lagi manusia, itu bukan manusia. Kekuatanya jauh melebihi diriku.


Apa aku sanggup?


"Graaaaaarrrghhh!!!" Raungannya terdengar sampai ke segala penjuru hutan. Dan suaranya itu jauh lebih menyeramkan dari pada raungan Akame biasa.


"Tentu aku bisa mengalahkanya!!!" Teriakku membakar semangat sembari berlari maju menerjang monster itu. Aku melupakan semua keraguanku dan menyerangnya dengan segala cara. Pukulan, tendangan, bahkan aku membenturkan kepalaku padanya. Monster itu tetap bisa menangkis semua seranganku dan sama sekali tak bergerak dari tempat dia berdiri sejak awal. Meskipun bergitu aku tetap melayangkan ratusan tinjuan dan tendanganku kepadanya. Beberapa menit berlalu, kulit lengannya yang menahan seranganku ini sampai berasap.


"Aaaaaaghhh!!!"


Lagi lagi aku melancarkan tinjuan ke wajahnya itu. Dan lagi lagi hanya keluar percikan api dan amukan angin yang menyebar ke segala arah. Saat itu juga aku sadar, batu kristal di dahinya itu pasti adalah kelemahannya. Jika aku menghancurkannya mungkin saja dia akan kalah. Tapi masalahnya adalah, kekuatanku masih belum bisa menggoresnya sama sekali.


Brak!!! Duarr!!!


Monster itu menjegal kakiku dan membuatku terjatuh ke tanah. Tak sampai di situ, ia meninju dadaku sampai tanah di sekitar kami hancur berkeping keping. Ia melanjutkan aksinya dengan menginjak lengan kananku sampai hancur seperti kepingan kaca. Monster itu mencengkeram leherku dan mengangkatku bagaikan boneka kayu.


"Graaarrhhkk!!!"


Ia berteriak sembari memukulku dengan sangat keras. Aku terpental jauh kebelakang dan berguling guling di tanah. Setelah berhenti berguling aku kembali bangkit berdiri dan menarik nafasku. Aku sadar aku sudah tak memiliki tangan kananku lagi. Tapi itu bukan masalah, karena aku bisa menumbuhkannya lagi selama ada di dalam Flame mode ini.


"Cih, gimana caranya?!" Gumamku sembari menumbuhkan lengan kananku kembali. Tubuhku yang sudah berubah jadi kristal oranye ini membuatku lebih mudah untuk bertarung. Tentu karena aku tak lagi bisa merasakan sakit, dan juga bila ada anggota tubuhku yang putus atau hancur. Aku bisa menumbuhkanya kembali.


Aku memutuskan untuk menyerangnya kembali dan berusaha menemukan titik lemah miliknya. Sebelum aku melayangkan seranganku, monster iti terlebih dahulu meluncurkan tinjuan tangan besarnya itu ke arah wajahku. Sontak aku pun menghindar lalu melompat untuk meninju batu yang menancap di dahinya itu.


Swusshh!!! Booomm!!!


Hal yang tak terdua membuat mataku terbelalak. Sebelum kepalan tanganku ini menyentuh kristal merah menyala itu. Angin yang sangat kuat disertai ledakan yang lumayan besar membuatku terpaksa mundur.


"Apa itu?! Perisai tak terlihat?!"


Aku semakin curiga kalau batu itu memang kelemahannya. Monster itu sampai mengeluarkan jurus untuk menghalangiku menyerang benda itu. Aku kembali maju menyerangnya sembari mencari tahu cara bagiku untuk menyerang batu yang melekat di dahinya itu.


"Fire Ball!!!"


Aku menembakan beberapa bola api untuk sekedar mengalihkan perhatiannya. Aku terus menembak sampai jarakku tak terlalu jauh darinya. Dan kesempatan yang kutunggu-tunggu pun tiba. Monster itu menyilangkan tangannya di depan untuk menahan bola api yang tadi terus kutembakan. Dan asap tebal sekarang menghalangi pandangannya.


"Rocket Punch!!!"


Aku mengumpulkan energi di lengan kananku dan membuat kobaran api besar. Tak lama kemudian api di tangan kanan ku ini menyembur ke belakang layaknya roket. Dan otomatis tinjuan tangan kananku ini menjadi lebih cepat dan kuat.


Aku memang lemah ...

__ADS_1


Tapi aku tak akan menyerah ...


Yukki, Mina, Kaito ... mereka semua masih menaruh harapan padaku!


Jika aku mati di sini, aku hanya akan hidup dalam kenangan mereka tanpa bisa berbuat apa apa ...


Dan aku tak suka diriku jadi tak berguna ...


Aku bukan orang yang tidak berguna!!!!


Yukki, mari selesaikan pertempuran kecil ini dan pulang ke rumah!!!!


Aku meninju kedua lengannya yang disilangkan di depan itu. Dengan kekuatanku ini aku menghancurkan tulangnya dan membuat tangannya itu remuk dan hangus termakan api. Tak berhenti sampai di sini saja. Tinjuan roketku ini berlanjut menuju ke kepala monster itu.


"Aaaaaayyyyyooooooo!!!!!!"


Boooommm!!!!


Ledakan yang sangat besar pun terjadi. Aku sudah tak bisa melihat atau bahkan merasakan apa pun. Aku terlempar keluar dari kobaran api hasil dari ledakan tadi. Punggungku menghantam tanah dan rasa sakit itu kembali aku rasakan. Sekarang aku hanya bisa diam dan memandang langit malam yang dihiasi ribuan bintang yang indah itu. Semoga saja monster itu sudah kukalahkan. Aku sudah tak mempunyai tenaga lagi untuk bertarung.


"Kak Raku!!!!" Teriakan kecil Yukki yang menerobos masuk ke lubang telingaku.


"Apa kakak ga apa apa?! Apa ada yang sakit?!" Ia meletakan kepalaku ke pangkuannya dan membuka penutup wajah kostum ninjaku ini.


"Apa aku berhasil?" Tanyaku lirih.


"Iya! Kakak berhasil!!" Senyuman disertai air mata kebahagiannya yang menetes ke wajahku ini membuatku tenang.


Cwush!!! Duar!!


Suara letupan kembang api tiba tiba terdengar. Dan entah kenapa ada beberapa kembang api yang meledak di langit tepat di atas kami.


"Woah!! Kak! Lihat! Ada kembang api!!" Pekik Yukki menengadahkan kepalanya.


Seharusnya kau tidak perlu melihatku bertarung saat ini. Seharusnya gadis sepertimu sekarang pergi ke festival bersama keluargamu. Mungkin besok aku akan mengajaknya pergi ke festival. Karena aku sudah mengalahkan guru tertinggi. Mungkin Shogun tak lagi mengejarku. Dan aku perlu berbicara banyak dengan kedua sahabatku terutama Mina yang tiba tiba aku tinggal tanpa alasan.


"Yukki ...,"


"Kenapa kak?" Dia kembali menatapku dan paras imutnya itu membuatku serasa ada di surga.


"Terima kasih ...,"

__ADS_1


__ADS_2