Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 80


__ADS_3

"Senpai, bangun ... ada misi darurat," suara dan nada datar yang tak asing bagiku.


Aku pun membuka mataku perlahan dan melihat wajah Saika yang sangat dekat dengan mataku.


"Hua!!"


Bruak!


Aku terperanjat dan tak sengaja membenturkan kepalaku ke kepala Saika. Tidak kusangka kejutan datang sepagi ini, Saika sudah berada di dalam kamarku tanpa alasan yang jelas.


"Maaf Saika ...," ucapku sembari mengelus dadaku.


"Senpai jahat ...," Saika memegangi keningnya yang sakit karena benturan tadi.


"Ha? ... siapa suruh ngagetin aku?" ujarku kesal.


"Ada misi darurat," bersamaan dengan kata kata itu, aku menyadari ada yang aneh.


Saika mengenakan seragam sekolah SMA yang sama denganku. Seragam putih dan rok pendek warna biru tua. Pita merah yang ia kenakan di tengah dada.


"Saika, apa ini ada hubungannya dengan seragam sekolah yang sekarang kamu pakai?" Tanyaku lelah dengan semua kejutan yang selalu datang dalam kurun waktu yang sangat singkat ini.


"Hmm ... mungkin," Saika meletakan jari telunjuknya di dagunya dan memasang wajah datarnya itu.


"Huff ..tu-tunggu ...," sebelum aku selesai menghela nafas, aku menyadari sesuatu.


"Haa?! ... jam empat pagi?!" Aku terkejut saat melihat jam di ponselku.


Aku menyadarinya saat tak melihat sorot cahaya matahari masuk dari jendela kamarku. Sebenarnya apa yang buat dia ke sini pagi pagi buta seh?!


"Ano ... senpai ... bantuin aku kerjain soal ini dong," Saika mengacungkan setumpuk kertas soal ke depan wajah ku.


"Ha?! ... Saika?! jangan bercanda lah?!", aku memasang wajah malasku.


"Senpai jahat," Saika membuat pipinya menggelembung tanda dia kesal pada ku.


"Huff ... ya udah mana ...," aku terpaksa menerima setumpuk kertas soalnya.

__ADS_1


Untung saja soal soal ini adalah pelajaran kelas satu. Aku masih sedikit mengingatnya.


"Ambilin pulpen di meja belajar ku ... biar aku kerjain semuanya ...," pintaku sembari membaca soal soal itu.


"Ini senpai ...," Saika memberikanku pulpen dan duduk di samping ku di atas ranjang.


"Huff ... ada aja masalah ...," gumamku kesal.


Aku pun langsung mengerjakan soal soal Saika dengan cepat. Konsentrasiku sedikit terganggu karena Saika terlalu mendekatkan badannya padaku. Aku bahkan sampai bisa mencium aroma parfum dan shamponya. Aku mencoba menjauh dengan mundur dan menyandarkan punggungku ke dinding. Sia sia saja, dia malah ikut mundur dan menyandarkan punggungnya di dinding.


Beberapa saat kemudian dia malah menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Aku tetap mencoba fokus dan segera menyelesaikan semua ini. Satu jam berlalu, akhirnya aku bisa menyelesaikan soal terakhir. Pancaran cahaya sang surya mulai terlihat di jendela kamarku.


"Hah ... akhirnya selesai ... nih ... Saika," aku melempar lembaran soal itu padanya.


"Wah ... Senpai hebat ...," Saika membaca ulang soal soalnya yang sudah kuselesaikan itu.


"Lagian ... kenapa kamu malah masuk ke sekolahku?" Lanjutku bertannya.


"Mulai sekarang aku adalah perisai pribadimu ... makanya aku akan ngikutin senpai kemanapun ...," jawabannya yang sama sekali tak kuinginkan.


"Ne ... Senpai? apa senpai bilang sesuatu?" Saika mendekatkan wajahnya padaku.


"Hoi?! ... enggak ada ... gak ada apa apa," aku memundurkan kepalaku karena wajahnya terlalu dekat.


Glek~


Kejadian yang tak kuharapkan terjadi. Seseorang membuka pintu kamarku. Dan itu adalah Hanabi, dan aku tau reaksinya ketika melihat ku dengan posisi ini bersama seorang gadis.


"Aaa ... maaf maaf ... aku ganggu!" Hanabi kembali menutup pintu kamarku dan berlari turun.


"Siapa itu istrimu?" Tanya Saika dengan sorot mata dinginnya itu.


"Cih ... dia adikku ... kamu mending keluar aja deh sekarang ... aku mau mandi," aku bangkit berdiri dari ranjangku.


"Mau mandi bareng?" Saika memiringkan kepalanya tanpa ekspresi sama sekali.


"Huff ... yang mesum itu sebenernya kamu atau aku sih?" Ujarku kesal dengan sikapnya itu.

__ADS_1


"Apa senpai orangnya mesum?" Pertanyaan yang selalu ia tanyakan padaku.


"Udahlah ... capek aku ...," aku melangkah masuk ke kamar mandiku dan mengunci pintunya dari dalam.


Setelah menghabiskan belasan menit di kamar mandi. Aku segera memakai seragam sekolahku dengan rapi dan turun ke lantai bawah untuk bertemu dengan Hanabi.


"Saika ... kok kamu masih di sini seh?!" Tanya ku lemas.


Aku melihat Ai, Hanabi, dan Saika sedang duduk bersama di kursi meja makan.


"Kakak! ... apa kakak habis ena ena?!" Hanabi memasang wajah kesalnya.


"Huff ... enggak ...," aku sudah lelah menjawab pertanyaan Hanabi yang itu.


"Senpai hebat juga, masih muda udah punya istri," ujar Saika dengan wajah datarnya itu.


"Is-istri palamu!" aku duduk di kursi meja makan yang masih kosong di samping Ai.


"Kaito? ... apa dia pacarmu?" Ai menarik lengan seragamku.


"Bukan ...", jawabku.


"Ohh ... namanya?" Lanjutnya bertanya karena dia tak bisa mendengar percakapan Saika dan Hanabi.


"Saika ..."


"Ohh ... salam kenal Saika ... ngomong ngomong kamu cantik loh ...," Ai memuji si dingin mesum itu dengan senyumannya.


"Ooo ... iya juga ... dada kak Saika besar juga!" Ujar Hanabi yang punya otak kotor seperti Kakume.


"He?" Saika melihat dadanya sendiri.


"Aku pukul kalian kalo masih ngomongin hal itu ...," ancamku kesal dengan percakapan antar orang mesum.


"Apa senpai juga pikir dadaku besar?" pertanyaannya dan sorot mata dinginnya itu membuat ku bosan.


Mati aja deh aku ...

__ADS_1


__ADS_2