Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 143


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, tak ada perubahan sama sekali. Ini sangat buruk, Mina sudah kehilangan senyumnya. Setiap hari dia terlihat murung, setiap jam istirahat dia hanya diam di kelas dan memandangi layar ponselnya. Aku sudah meminta bantuan teman teman sekelas, tapi hasilnya nol. Mina sudah diubah oleh kejamnya takdir. Tak ada pilihan lain, cara untuk memulihkan Mina hanyalah satu, temukan Raku, dan bawa pulang dia. Aku sudah berjanji padanya, tentu saja akan ku tepati.


Pagi, bangun dari tidur dan berangkat ke sekolah bersama si tuli. Sore, sepulang sekolah, aku duduk di ruang klub sastra diapit oleh kedua gadis dari masa laluku. Si tuli dan si mesum itu. Hari demi hari berjalan, aku juga berusaha sekuat tenaga untuk membuat mereka jatuh hati padaku. Aku menuruti semua permintaan mereka, aku berusaha mempedulikan mereka. Aku sudah mengerahkan segenap hatiku untuk misi terakhirku tahun ini. Misi yang lebih sulit dari bertarung melawan miliaran Akame.


Senjata yang kubutuhkan hanya satu, waktu. Perlahan tapi pasti, aku yakin benih cinta di hati mereka akan bertumbuh. Aku hanya bisa berharap, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk di masa depan nanti. Musim panas sudah dimulai, ujian tengah semester berhasil kuterobos dengan baik. Tentu saja dengan bantuan dua gadis yang selalu berada di sisiku. Mereka selalu memaksaku untuk belajar. Walau aku membenci kata 'belajar' tapi mereka selalu mendesakku untuk melakukannya. Ditambah Hanabi yang juga ikut meraimaikan suasana. Beberapa minggu ini terasa sangat santai, aku sedikit melupakan masalah masalahku. Tapi bukan berarti aku tak akan mengingatnya kembali.


Aku akan sedikit menikmati sisa tahun ini bersama kedua gadis itu. Aku tak mau membuang waktu. Aku yakin jika misiku gagal, sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi. Musim panas ini sudah ditunggu banyak orang, Hanabi, Takumi, Ai, dan juga Saika. Begitu pun juga denganku, aku menunggu saat saat ini untuk membuat kedua gadis terpilih itu jatuh cinta padaku. Akan kugunakan festival musim panas sebagai senjataku.


Hari ini, adalah hari terakhirku ke sekolah sebelum liburan musim panas dimulai. Aku duduk di bangku kelasku, menulis kalimat dami kalimat untuk melengkapi potongan naskah novelku. Aku menyumbat lubang telingaku dengan earphone supaya kebisingan tak lagi menggangguku. Lebih baik mendengar lagu dari pada mendengar keributan tiada batas itu. Terkadang aku melihat ke bangku kosong tepat di depan mataku, hati ku rasanya tertusuk tusuk saat menyadari Raku tak lagi duduk di sana.


Dia masih hidup! Aku yakin itu!


Aku terus berusaha meyakinkan hatiku yang mulai goyah. Tangan kananku membeku, aku tak lagi bisa menuliskan kata kata di atas halaman naskahku. Terlalu banyak masalah di kepalaku, aku tak sanggup lagi melanjutkannya. Ya sudah, aku menutup buku naskah novelku dan memasukannya ke dalam laci meja. Aku melepas earphone ku dan mematikan lagu yang kuputar di ponselku.


"Zombie?!"


"Iya, kata menteri pertahanan dan kesehatan ... ada orang yang menciptakan virus zombie itu ...,"


"Ha? Serius?! Bukan Hoax lagi dong?!"


"Heleh, tenang aja, palingan cuma berita boong."


"Hii, enggak ... kemarin aku liat di acara berita TV, menterinya ngomong langsung."


"Waduh ... serius dong brarti ...,"


"Hiii, serem ... gimana kalo Zombie itu ada di sekolah kita." Suara percakapan yang tak sengaja kudengar. Sepertinya Shogun mulai membeberkan tentang keberadaan Akame. Tapi mereka memalsukan fakta dibalik munculnya Akame, mereka pasti punya rencana.

__ADS_1


"Oii Kaito!" Seorang gadis datang dan menghentakan mejaku dengan kedua tangannya.


"Ginana nih?! Mina masih kaya kemarin ...," Dia adalah Siyuku Rikka, dia adalah sahabat dekat Mina di kelas ini. Rambut hitam panjang dan bando merah muda, sejak Mina berubah, dia jadi sedkit dekat denganku dan juga Ai.


"Hmm, aku juga bingung ...," aku memalingkan pandanganku ke luar jendela.


"Hufff, gimana ya ... semenjak Raku ga ada, dia jadi gitu." Rikka duduk di kursi yang biasa ia tempati. Rikka sedikit mengenal Raku karena ia duduk sebangku dengannya. Ya, Rikka duduk semeja dengan sahabatku. Rikka memutar kursinya dan duduk berhadapan dengan Ai yang sedang sibuk membaca novel.


Ting tung~


Ponselku berdering tanda ada pesan masuk. Aku segera menarik ponsel di saku seragamku ini. Ternyata Sora yang mengirim pesan untukku.


{Kaito, ada hal penting}


{Apa kau bisa ke atap sekolah?}


{Saika sudah menunggu di sana} Chat dari Sora, pelayanku yang bekerja di balik layar.


"Mau kemana?" Tanya Ai.


"Toilet," aku menyembunyikan fakta, jika aku mengatakan akan bertemu Saika, maka itu bisa berakibat fatal. Aku tahu Ai sebenarnya cemburu ketika aku berada di dekat si mesum itu. Aku sudah mengerti dari pertanyaan yang sering keluar dari dirinya. Aku segera keluar dari kelas dan naik ke atak gedung sekolah ini. Setelah keluar dari pintu, aku bisa melihat si mesum itu berdiri sembari memegang pagar besi yang membatasi pinggiran atap sekolah ini.


"Saika?" Aku melangkah mendekat kepadanya. Hembusan angin di musim panas ini sedikit menyebalkan. Rasanya jauh berbeda dengan angin musim semi yang sejuk. Tapi, walau begitu, langitnya tetap terlihat indah.


"Senpai?" Saika langsung berbalik saat melihatku. Tatapan dinginnya itu selalu mengambil perhatianku.


"Hmm," aku langsung menelepon Sora untuk menanyakan hal penting apa yang ia maksud.

__ADS_1


"Halo, Kaito, apa kamu sudah bersama Saika?" Suara Sora yang terdengar dari speaker ponselku.


"Ya," aku sengaja memperkeras suara Sora agar Saika juga dapat mendengar telepon ini.


"Jadi begini, para petinggi menugaskan kalian pergi ke pusat kota Natsu malam ini." Ternyata ini soal misi, sebenarnya aku sudah senang karena beberapa minggu ini aku sudah bebas dari misi yang melelahkan. Tapi ternyata aku masih dapat misi tambahan.


"Memang ada apa?" Lanjutku bertanya.


"Kalian akan menyegel Jigoku Gate di pusat perbelanjaan." Misi yang mengejutkan. Bagaimana bisa ada gerbang neraka yang terbuka di dalam pusat perbelanjaan?!


"Saika, apa lukamu sudah sembuh? Jangan paksakan dirimu." Ucapan Sora yang membuatku menoleh ke si mesum di samping kiriku itu.


"Yah, ketauan ...," ujarnya dengan nada datar dan tanpa ekspresi di wajahnya pastinya.


"Kaito, dia berjuang keras membantu tim Fumio beberapa minggu ini, dia terluka di bagian punggungnya karena tertusuk benda tajam." Jelas Sora mebjawab pertanyaan yang belum kukeluarkan dari mulutku.


"Oh ya, yang terakhir, pastikan kalian selamat ... Musuh kalian adalah Devil King." Tambah Sora lalu memutus sambungan telepon kami.


Hmm, dari namanya, iblis itu terdengar kuat ... tapi yang lebih penting.


"Saika? Kenapa kamu ga bilang kalo luka?" Aku mengembalikan ponsel ke dalam saku seragamku.


"Aku tak ingin senpai sedih." Kata Saika dengan wajah datarnya itu.


"Ha? Siapa juga yang sedih cuma gara gara kamu?!" Aku memukul kepala adik kelasku itu dengan lembut.


"Maaf," ucap Saika sembari memegang bagian atas kepala yang tadi kupukul. Entah kenapa dia terlihat imut saat meminta maaf.

__ADS_1


"Saika, lain kali, jangan memikul bebanmu sendiri."


"Sekuat apapun perisaimu, itu tidak akan berguna bila dirimu sudah terluka." Ucapku sembari menengadahkan kepalaku melihat pemandangan langit biru yang sangat indah siang ini.


__ADS_2