
Berat, sesuatu yang berat dan hangat menindih perutku. Aku yang sedang memasuki alam mimpi ini pun terpaksa berbalik ke dunia nyata. Aku membuka mataku perlahan. Paras cantik, dagu lancip, bola mata ungu, rambut hitam panjang yang terurai. Aroma parfum dan shampo yang tak pernah kulupakan.
Ai duduk di atas perutku, dia memegang kedua sisi pipiku dengan kedua tangannya. Wajahnya begitu dekat, sangat dekat. Aku bahkan sampai bisa merasakan hembusan nafasnya yang datang dan pergi. Sial, aku terlalu lelah untuk terkejut. Tubuhku masih lemas tak berdaya.
"Pembohong," Bisiknya lirih sembari terus menatapku.
Pembohong?! Ah, sial, aku baru ingat. Aku pamit untuk rapat, bukan untuk menjalankan misi bersama Saika. Ya, apa pun yang terjadi, akulah yang salah. Aku seharusnya jujur padanya. Kalau begini, aku sama sekali tak bisa mengelak.
"Dasar pembohong." Ujar Ai lebih keras dari sebelumnya.
"Ai, aku minta maaf," ucapku lemas.
"Apa aku boleh memberimu hukuman?" Lanjut si tuli itu mengatakan hal yang tak terlintas di kepalaku sebelumnya.
"Apa?" Aku mulai panik dan keringat dingin mulai keluar di pelipisku. Dan kejutan pun menimpaku lagi malam ini. Ai mengecup bibirku dengan kelembutan bibir merah meronanya itu. Hangat dan lembut, lagi lagi kami berciuman. Dan kali ini aku merasa Ai lebih berani dari sebelumnya. Dia sungguh *****, masuk ke kamar laki laki dan menciumku seenaknya. Ai sungguh tak memikirkan resiko yang bisa saja terjadi.
"Ai, keluarlah ... tidurlah di kamar Hanabi," pintaku halus.
"Nggak mau," dia memang keras kepala. *****, bodoh, tuli, kepala batu, sok polos.
"Ai!!" Aku mendorongnya sampai ia jatuh dari atas perutku ke ranjang. Saat dia duduk di sampingku dan kebingungan, aku mendorongnya dan menbuatnya terbaring. Aku menahan kedua lengannya supaya ia tak bisa kemana mana. Aku tak tahu apa yang aku lakukan, pikiranku kacau sekarang.
"Ka-Kaito?" Pipinya memancarkan rona merah yang semakin membuatnya cantik.
"Ai, sekali aja ... turutin apa kata kataku."
"Aku capek, aku kacau, aku hancur." Aku melepas genggaman tanganku dan melangkah keluar dari kamarku. Ketika aku memegang gagang pintu dengan tangan kananku. Jantungku serasa berhenti dan tertujuk ribuan jarum. Kakiku tak lagi bisa menopang tubuhku ini, aku jatuh berlutut dan keningku bersandar di pintu kamarku.
"Kaito!!!" Ai berlari menghampiriku dia memegang kedua sisi bahuku dengan tangannya. Aku hanya bisa meringis kesakitan, rasa sakit yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
"Kaito?! Kamu gak apa apa kan?!" Ai membaringkan diriku dan meletakan kepalaku di atas pangkuannya.
"Ai, maaf ...," aku tak lagi bisa merasakan apa pun, tubuhku mati rasa.
"Hanabi!!! Tolong kesini!!!" Teriak Ai memanggil adikku yang pastinya ada di lantai bawah.
"Ada apa kak Ai?!" Tak memakan waktu lama, Hanabi tiba tiba membuka pintu kamarku dengan wajah paniknya.
"Kakakmu!" Pekik Ai.
"Kak Kaito?!" Hanabi langsung duduk di samping kananku dan menyentuh keningku dengan punggung tangannya. Dia pasti sedang memastikan keadaanku.
"Ne, Kaito, maaf ini semua salahku!" Ai mulai mengeluarkan aliran air dari matanya.
"Enggak kok, Ai, jangan salahkan dirimu, aku mengerti perasaanmu." Ucapku lirih dan pandanganku semakin memburuk. Kelopak mataku semakin berat.
"Kakak!!!"
"Kaito!!!"
Mereka memanggil namaku secara serentak. Dan saat itu juga aku kehilangan kesadaranku sepenuhnya. Kegelapan mutlak yang kurasakan. Aku tak bisa merasakan apa pun lagi, tunggu, dingin. Aku bisa merasakannya, tiupan angin musim dingin yang menusuk kulit. Aku kembali membuka mata dan melihat sekelilingku. Aku berada di tempat asing, ada satu pohon tanpa daun yang diselimuti salju putih di depanku. Ada satu kursi taman yang terbuat darinkayu di belakangku. Aku menginjak es putih yang lumayan tebal. Butiran salju juga masih terlihat turun dari langit walau hanya sedikit.
"Kaito, apa kamu ingat aku?" Suara pria yang menepuk pundakku dari belakang.
"Ha?!" Aku tersentak dan langsung membalikan badanku. Pria tinggi yang memakai long coat warna cokelat. Mata hijau padam dan rambut merah. Dia adalah ayahku, orang yang menbuatku terlahir ke dunia ini. Aku tidak mengenalnya, dia hanya pulang sekali setahun. Dan waktu umurku delapan tahun, dia meninggal dunia. Dan sampai sekarang aku tak tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
"Maaf ya, ayah sudah membuatmu kerepotan ... tapi, aku senang kamu bisa sampai ke sini." Ucapnya dengan senyum tipis.
"Jadi, sebenarnya, batu apa yang Kazuki bawa tadi?" Aku langsung saja bertanya karena tak bisa menahan rasa penasaranku.
"Hmm, kau sudah banyak berubah Kaito ...," Ayah membalikan badannya dan memunggungiku.
"Kau bisa tanya pada Dai atau Kazuki. Ayah sudah menyelamatkanmu dari takdir." Ternyata ayah sama sekali tak mau memberi penjelasan.
"Gimana ayah bisa tau?" Lanjutku bertanya.
"Hmm, rahasia hehe," ujarnya terkekeh.
"Oh ya, yang lebih penting ... kau melupakan sesuatu."
"Dasar kakak paling ***** sedunia."
"Adikmu itu ada masalah di sekolah tau!"
"Bukanya beberapa minggu lalu kau dipanggil kepala sekolahnya!"
"Kenapa kau bisa lupa ha?!"
"Dasar pikun!!" Ayah mulai mengomeliku karena aku benar benar melupakan hal itu. Waktu itu, saat ke sekolah Hanabi, aku sempat diberi pesan oleh kepala sekolahnya untuk datang keesokan harinya. Tapi besoknya aku benar benar lupa. Ingatanku memang sangat sangat sangat buruk. Dan Hanabi juga malah diam dan tak mengingatkanku.
"Kaito, tolong jaga Hanabi ... dia butuh perhatianmu."
"Mentang mentang udah punya pacar, eeh adiknya dilupain." Ayah menepuk keningnya sendiri sembari menghela nafasnya.
"Eh?! Engga gitu juga ...," aku menggaruk kepalaku karena menyadari yang dikatakan ayah itu benar.
"Hmm, Kaito ... ayah sudah membantumu mengubah takdir sekali ... tapi ayah tak akan bisa membantumu lagi."
"Ya sudah, ayah pergi dulu ya!" Ayah mulai melangkah pergi meninggalkanku.
"Titip pesan untuk ibu dan adikmu!" Dan di saat yang sama tubuhnya memudar dan langsung lenyap begitu saja.
Apa itu? Datang dari alam kematian hanya untuk mengomeli aku?! Huff ... dasar payah ...
"Kaaak~ masih hidup kan?" Suara kecil adik perempuanku itu kembali terdengar. Akhirnya aku kembali tersadar ke dunia nyata.
"Hmm," aku membuka mataku perlahan dan melihat Ai dan Hanabi yang sedang duduk di kiri dan kananku. Aku masih terbaring di lantai dan kepalaku masih ada di pangkuan si tuli itu.
"Cih, maaf kalian jadi panik karena aku." Aku bisa bangkit dan duduk lagi dengan tenaga yang entah datang dari mana.
"Panik?! Kakak memang *****!? Siapa juga yang panik bweekk!" Hanabi menjulurkan lidahnya untuk mengejekku lalu berlari keluar dari kamarku.
"Kaito, aku bener bener minta maaf!" Ucap Ai dengan wajah penuh penyesalan.
"Hmm, aku yang salah, pikiranku masih kacau sekarang ini." Aku tertegun dan menunduk sejenak.
"Ai, aku minta tolong, jangan sampai Hanabi merasa kesepian ya?"
"Aku bukanlah kakak yang baik, jadi aku minta tolong padamu." Aku memandang paras cantiknya itu dan melempar senyum tipisku.
"Ya udah, apa kamu mau makan malem bareng?" Aku bangkit berdiri dan mengulurkan tanganku padanya.
__ADS_1
"Tapi, aku belum masak ...," Ai menerima uluran tanganku dan kambali berdiri.
"Hemm, bentar ...," aku mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja belajar. Setelah itu aku menggandeng Ai menuruni tangga menuju ke ruang makan.
"Hanabi! keluar dari kamar, makan malam yuk!" Teriakku berusaha mengeluarkan adik perempuanku itu dari sarangnya.
"Woahh!!! Emang ada masakan ya kak?!" Hanabi berlari keluar dari pintu kamarnya dan menghampiri kami yang ada di ruang makan.
"Hemm, duduk aja dulu ...," pintaku lalu mereka berdua pun duduk berdampingan di kursi meja makan.
"Kalian mau makan apa?" Lanjutku bertanya sembari mengeluarkan ponsel dari saku celana pendekku.
"Aku aku!!! Ramen!!!" Hanabi mengangkat tangan kanan dengan wajah kegirangannya itu.
"Ai?"
"Emmm, sama kaya kamu aja." Dari raut mukanya itu, dia masih merasa bersalah karena kejadian tadi.
"Heemm, kak Ai suka kue cokelat!" Ujar Hanabi memberiku petunjuk.
"Ohh, oke oke." Aku pun langsung menelepon Sora.
"Ada apa Okino-sama?" Suaranya yang terdengar setelah menerima teleponku.
"Heh, sudah kubilang jangan panggil aku gitu ... huff," aku bosan mengingatkannya.
"Oh iya iya, ada apa Kaito?"
"Bisa tolong kirim satu ramen dan satu kue cokelat?" Pintaku.
"Wahh, apa kalian mau makan malam?" Ujar Sora menebak kegiatan kami.
"Hmm gitu lah," jawabku lemas.
"Tapi kok cuma dua? Kamu ga makan?" Pertanyaan Sora itu membuatku sadar.
"Oh iya, enaknya makan apa ya?" Aku bingung karena tak ada makanan yang sangat kuinginkan hari ini.
"Emm, Kaito, apa lebih baik kita pesan bahan makanan aja? Biar aku yang masak?" Suara indahnya itu mengambil perhatianku.
"He? Kak Ai bisa masak ramen?!" Tanya Hanabi penasaran.
"Ya sudah, Sora, batalkan pesanan tadi ... kami pesan bahan bahannya saja." Aku duduk di kursi samping Ai.
"Ohhh, enaknya punya istri ...," gumam Sora yang tetap saja terdengar oleh telingaku ini.
"Oi oi! Aku belum punya istri, oh ya kalau kamu mau ikut juga silahkan ... kamu tau rumahku kan?" Aku tahu dari kata katanya tadi, dia sepertinya kesepian.
"Bolehkah?" Dia memastikan kata kataku sekali lagi.
"Hmm, boleh ...,"
"Aku akan ke sana dalam beberapa menit!" Ucapan terakhir Sora sebelum dia memutus sambungan telepon kami.
"Siapa tadi kak?" Tanya Hanabi yang pastinya penasaran.
__ADS_1
"Temen, aku belum pernah liat wajahnya, jadi aku undang dia ke sini." Aku menyangga daguku dengan tanganku di atas meja.
"Woah!!! Temen kakak banyak!" Hanabi terlihat sangat senang. Senyumannya itu, aku harap bisa bertahan selamanya.