Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 179


__ADS_3

Sang mentari yang bersinar cerah, awan-awan yang berenang kesana kemari. Langit biru yang terlihat tenang dan bersih. Kami berempat sedang berada di teras rumah Mina, dan aku meminta Raku untuk segera menjelaskan semuanya pada pujaan hatinya itu.


"Rakuuu!!!"


Mina berteriak kegirangan saat melihat Raku ada di depan pintu rumahnya. Setelah dari rumah sakit kami langsung meluncur ke rumah Mina. Ya, tentu saja aku butuh penjelasan tentang semua yang terjadi padannya belakangan ini. Bukan hanya aku, Raku harus bertanggung jawab sudah membuat Mina sedih.


"Mina, banyak hal yang terjadi, aku minta maaf." Raku melepas pelukan Mina dan memegang kedua pundak sahabat, bisa dibilang kekasih menurutku.


"Siapa dia?" Mina kebingungan melihat Yukki yang berdiri di samping Raku.


"Ohh dia ..,"


Dan di saat yang tidak tepat seperti ini. Ponsel Ai berdering dan membuat pembicaraan kami terhenti.


"Ai, apa aku boleh pinjam ponsel?" Aku harus selalu meminjam ponselnya karena aku sudah kehilangan ponselku sekarang ini.


"Ini," Ai langsung memberikan ponselnya yang berdering itu.


"Halo?" Aku masih belum mengenal nomor ini, jadi semoga saja ini penting.


"Kaito, bisa ke gedung Daikyo sekarang? Ajak Ai juga, tolong cepat ya!" Suara Fumio sedikit tergesa-gesa dan langsung memutus sambungan telepon kami.


"He? Kenapa lagi ini?!" Aku mengembalikan ponsel itu pada si tuli.


"Kenapa lagi Kaito?" Tanya Raku.


"Ehm, kayaknya aku harus pergi, kalian nikmati saja hari ini, Ai, ayo ikut!" Aku merogoh kunci mobil di saku celanaku.


"Memangnya ada apa Kaito?" Tanya Ai saat melihatku sedikit terburu-buru waktu masuk ke dalam mobil.


"Udah ayo masuk!" Aku menutup pintu dan menyalakan mesin sembari menunggu Ai masuk ke dalam mobil juga. Setelah Ai duduk di samping kiriku dan memasang sabuk pengamannya. Aku langsung tancap gas menuju ke pusat kota Natsu lagi.


Terakhir kali Fumio bilang dia ingin menemui Arin, peramal yang selama ini sering dibicarakan karena kehebatannya itu. Dan sekarang Fumio terdengar panik seperti mengetahui akan ada hal buruk yang terjadi. Karena selama ini aku jarang melihat si loli ganas itu panik seperti ini.


Setelah beberapa puluh menit aku mengemudi. Akhirnya kami sampai juga di gedung Daikyo, gedung yang sering digunakan Dai untuk bersantai. Sesudah memarkirkan mobil di tempat yang disediakan, aku menggandeng Ai untuk segera masuk ke dalam gedung itu. Kami berjalan masuk ke lift dan naik ke lantai tiga puluh.


"Kaito, gedung apa ini?" Tanya Ai bingung karena melihat hal baru ini.

__ADS_1


"Umm, ini cuma kantor percetakan," kataku jujur karena ini memang tempat percetakan.


Aku tetap menggandeng si tuli itu ketika kami sudah keluar dari lift dan menyusuri koridor gedung ini. Dan seperti pengalamanku kesini sebelumnya, aku segera menuju ruangan nomor 730. Kali ini tak ada penjaga yang ada di depan pintu ruangan itu. Ya, karena Dai sudah hilang bersama dengan Kazuki beberapa waktu lalu.


Glek!


Aku pun membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Dan tak seperti biasanya, ruangan ini jadi sangat terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Aku melihat seorang wanita rambut merah yang menggunakan Kimono lengkap dengan aksesorisnya. Tidak seperti Dai yang duduk menghadap ke jendela dan membelakangi pintu masuk, wanita itu membalik posisi sofa itu. Ia menghadap ke pintu masuk yang berarti kami langsung bertatap muka sekarang ini.


"Kaito, Ai, selamat datang," sapanya dengan senyuman tipis.


"Apa kau peramal yang sering disebut itu?" Tanyaku seraya melangkah maju bersama Ai.


"Tentu, namaku Daikyo Arin, pemilik perusahaan percetakan ini." Ucap Arin memperkenalkan dirinya.


"Aku tak punya banyak waktu, jadi, aku akan langsung menjelaskan ini padamu Kaito."


Okino Yuuta


Okino Ryuta


Okino Hiro


Okino Hiroki


Okino Fuyuka


Kata Arin, mereka adalah keenam diriku yang lain. Mereka adalah diriku yang beruntung karena mendapat kekuatan baru setelah reingkarnasi berjuta-juta kali. Jadi total ada sembilan kali aku mendapat kekuatan setelah kematianku di Eden. Tiga nama yang belum disebutkan tadi tentunya adalah Gilbert, dan Kaito sebelum fate restart yang kedua. Dan yang terakhir adalah diriku yang sekarang ini.


"Apa kau taku Kaito? Selain Shinjiro, The Key yang lain adalah dirimu sendiri." Sontak aku langsung terbelalak mendengar kata-kata itu.


Setelah Shinjiro mengalahkan Kazuma dan merebut kemampuannya. Dewa Kematian itu bisa pergi ke Earth manapun tanpa terikat waktu atau takdir sedikit pun. Dan sialnya Shinjiro bukan hanya berhasil membunuh Kazuma, dia sudah berhasil membunuh beberapa diriku yang lain dan merebut kekuatannya.


Itu artinya, sekarang Shinjiro jauh lebih kuat dariku. Sangat jauh, kekuatannya sekarang ini hampir menyamai God atau sang pencipta. Shinjiro bisa melakukan apa pun yang ia inginkan. Dan alasan kenapa aku bisa berhadapan dengan Gillbert beberapa waktu lalu. Itu karena Shinjiro bisa mengendalikan pikiran juga, tentu dia mengambil kekuatan itu dari salah satu reingkarnasiku yang berhasil ia bunuh.


Setelah Shinjiro menggunakan Parallel Fate untuk pergi ke dunia Gillbert. Alih-alih membunuhnya Shinjiro malah mengendalikan pikirannya dan mengajaknya untuk ke dunia ini.


"Kaito, Shinjiro, dia bukan ingin membunuhmu ... dia ingin kau jadi lebih kuat supaya kau bisa menghentikan semua ini." Lagi-lagi fakta mengejutkan.

__ADS_1


Aku juga bisa lebih kuat setelah mengalahkan diriku yang lain. Tapi aku tak bisa merebut kekuatan mereka. Tapi tetap saja aku akan menjadi lebih kuat. Dan sekarang aku mengerti mengapa Shinjiro menghadapkan aku pada Gillbert. Ia ingin aku membunuhnya dan menjadi sedikit lebih kuat. Jujur saja kepalaku pusing menerima pelajaran tentang reingkarnasiku sendiri.


"Lawanmu selanjutnya adalah Ryuta," Arin berdiri dari tempat duduknya.


"Ha?! Apa Shinjiro juga berhasil mengendalikan pikirannya?!"


"Iya, selain Ryuta kau juga harus berhadapan dengan Hiro." Arin berjalan mendekat padaku dan Ai.


"Aku tau ini berat, tapi kalian berdua harus berjuang." Arin menepuk pundak Ai dan mengusap kepalanya lembut seperti seorang ibu.


"Kaito, jika kau berhasil mengalahkan Shinjiro dalam perang nanti, tolong gunakan Fate Stone untuk mengembalikan dunia ini seperti semula. Karena aku yakin separuh dunia ini akan hancur karena pertarungan kalian." Ucapan Arin sembari melangkah ke pintu keluar yang terbuka lebar itu.


"Kalian, semoga berhasil!" Ujar Arin dengan senyuman tipis lalu pergi keluar dari ruangan ini.


"Kaito, apa yang dia katakan?" Tanya Ai kebingungan karena tak bisa mendengar penjelasan dari Arin.


"Kita ke kafe dulu, nanti aku jelasin di sana." Aku kembali menggandeng kekasih, belum, temanku ini dan segera keluar dari sini.


----------------------


Halo halo, jangan lupa like ya?


Kali ini aku bakal jelasin tentang (Unmei Series) ini.


Unmei Series adalah seri cerita yang menceritakan Takdir Kaito dari awal sampai akhir. Intinya dari awal dia jadi dewa sampai di sini, Unmei To Shiawase ini adalah seri terakhirnya.


Jadi setelah Unmei To Shiawase ini tamat, memang bakal ada season 2 tapi aku bakal nyelesain (Unmei Series) dulu.


Singkatnya (Unmei Series) bakal ceritain kesembilan Reingkarnasi Kaito.


Dan sekarang jadwal up Unmei To Shiawase jadi sedikit jarang. Soalnya aku juga nulis (Unmei Series) yang lain


judulnya 'Penjelajah Takdir'


udah rilis juga di sini.


Jangan lupa baca juga ya!

__ADS_1


Itu cerita lengkap tentang Okino Kazuma.


udah gitu aja makasih supportnya!


__ADS_2