Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 10


__ADS_3

Pagi ini aku melangkah menuju ke sekolah dengan pikiran yang kacau balau karena mimpi tadi malam yang sama sekali tak masuk akal. Aku yakin itu cuma mimpi biasa, tapi entah kenapa hatiku berdebar kencang menanti malam ini datang.


"Cih ... satu lagi masalah nambah ...," gumam ku di tengah langkahku yang membosankan ini.


"Hoi Kai!!" Suara Raku memanggilku dari arah belakang.


"Kaitolol!! ... apa kabar hehe?" Mina menabrakku dari belakang dengan tawa candaannya.


"Hmm ... biasa," jawaku dengan nada datar.


"Hoi ... kurang kurangin wajah cuekmu itu ... entar kamu di jauhin Ai loh," ujar Raku sembari menepuk pundakku.


"Bodo amat"


Dari pada mikirin cewek gak jelas itu, malam ini ada hal yang jauh lebih penting. Aku terus bertanya tanya apa kata kata malaikat mimpi yang mendatangi aku itu akan benar benar terjadi.


"Nee ... Raku ... apa kamu tau berita malam tadi? ...," tanya Mina yang melangkah di samping kananku.


"Apa? ... oh ... kebakaran hutan yang ada di deket sungai itu kah?" Ujar Raku yang melangkah di sebelah kiriku.


"Iya ... aneh kan? ... ini aja belum musim semi ... masa ada kebakaran hutan ...," kata Mina memegang dahinya menggunakan jari telunjuknya sendiri.


Jangan jangan kebakaran hutan itu ada hubungannya dengan mimpiku semalam.

__ADS_1


"Sungai yang mana?" Tanyaku dengan wajah datar mengingat ada sungai yang ada di sekitar wilayah rumah sakit Zei.


Rumah sakit itu terletak tak jauh dari SMA kami. Dan aku sering mencari inspirasi di pinggir aliran sungai itu. Jika kebakaran hutan itu ada hubungannya dengan mimpiku semalam. Maka aku bisa menuju ke sana malam ini untuk memastikan kebenaran kata kata Yume.


"Sungai yang ada di deket rumah sakit itu loh," jawaban dari Mina yang membuatku semakin yakin jika terjadi sesuatu disana malam tadi.


"Hoi hoi ... kenapa tiba tiba kamu kepo Kaito? ...," ujar Raku memukul kepalaku perlahan dengan senyuman ejekannya.


"Bukan urusan mu peang!"


-------


Hari ini aku kembali masuk ke tempat yang palingku benci. Lagi lagi aku terpaksa melewati waktu waktu yang membosankan di dalam kelas. Aku hanya memandang langit biru dari jendela yang ada di samping kiriku selama pelajaran berlangsung.


l


Tak ku sangka aku memiliki kutukan dari sang dewa. Kesalahan masa laluku pasti sangat besar sampai aku tak boleh merasakan kebahagiaan lagi. Ditambah aku punya kekuatan dari iblis. Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku sepanjang hari ini.


Kring~ Kring~ kring~


Bel telah berbunyi tiga kali tepat pukul lima sore. Itu tanda nya pelajaran hari ini telah usai. Akhirnya aku bisa melewati saat saat yang paling kubenci. Aku merasa lega dan khawatir di saat yang sama. Aku sedikit khawatir kata kata Yume itu memang akan terjadi malam ini.


Hari ini aku kembali memutuskan untuk ikut kegiatan klub lagi. Entah kenapa kata hati ku terus mendorongku dan mengalahkan rasa malas yang ada di hatiku.

__ADS_1


Cahaya oranye yang masuk melalui jendela ruangan klub. Dua rak buku yang ada di kedua sisi ruangan. Meja besar yang ada di tengah ruangan. Bau kertas tua bercampur debu ini lagi lagi membuatku merasa mengingat sesuatu.


Aku duduk di samping Ai yang sedang mengerjakan Novelnya itu. Ai tak memperbolehkan ku membantunya, dan itu adalah keuntunganku. Aku juga tak mau menulis lagi seumur hidupku. Karena sang dewa tak akan memberiku secercah harapan untuk merasakan kebahagiaan lagi. Maka apa pun yang kulakukan untuk mengejar mimpiku akan selalu gagal.


"Nee ... Kaito ... tau gak malam tadi aku mimpi tentang cewek rambut putih itu lagi loh," ujarnya sembari terus menggesekan pulpennya ke halaman buku yang berisi naskah Novel miliknya.


"Ai ... apa kau tau kalo dia itu malaikat?" Gumamku sembari memandang ke arah jendela.


"Apa kamu juga mikir gitu? ... aku pikir dia itu malaikat ...," kata-katanya yang membuatku langsung kembali menoleh ke arahnya.


"Eh?! ... kok aku kayak denger orang ngomong sama aku ya?" Senyumannya tadi menghilang bersamaan mengingat kekurangannya itu.


"Eh ... Kaito ... mau baca lanjutan novel ku gak?" Lanjut Ai menggeser naskahnya yang ada di atas meja besar di depan kami itu ke arahku.


"Hmm ...," aku hanya mengangguk dan mulai membaca lanjutan naskahnya.


Sang tokoh utama perempuan dengan rambut pirang dan mata biru seperti berlian itu ternyata namanya adalah Mirai. Nama yang Ai ambil dari nama belakangnya sendiri.


Mirai bertemu seorang laki laki rambut hitam bermata hijau dengan tubuhnya yang tinggi itu. Aku berpikir tokoh laki laki itu terinspirasi dari diri ku. Atau mungkin dari mimpi yang ia ceritakan kemarin.


Mereka berdua bertemu di pinggir aliran sungai dibawah bulan sabit yang bersinar terang. Tunggu, sungai, bulan sabit ... apa ini ada hubungannya dengan malam nanti?


Jika Yume juga ada di dalam mimpi Ai. Itu berarti Ai juga memiliki kekuatan seperti aku. Jangan jangan kekuatannya adalah meramal masa depan.

__ADS_1


__ADS_2