
------
Di tengah malam yang penuh bintang. Angin yang bertiup kesana kemari sesuka hati. Seluruh dataran eropa hampir dikuasai para manusia yang sudah berubah menjadi monster yang mengerikan.
Pinggiran bola mata mereka berwarna hitam. Matanya merah menyala. Sekujur tubuh mereka penuh dengan retakan retakan aneh. Dan di dada mereka biasanya terdapat benda seperti batu permata berwarna oranye yang bersinar terang. Benda itu adalah jantung iblis, tanda bahwa manusia itu sudah diambil alih sepenuhnya menjadi iblis.
赤い目
'Akame'
Sebutan itu lah di berikan kepada mereka. Akame yang berarti mata merah sangat cocok menjadi julukan mayat hidup yang berjalan itu. Akame adalah manusia yang sepenuhnya berubah menjadi iblis.
Itu terjadi karena ia membiarkan kutukan iblis dalam dirinya sendiri hingga pikiran orang itu diambil oleh iblis sepenuhnya. Tak ada rasa takut, tak ada rasa bersalah, tak ada rasa kemanusiaan sama sekali di dalam diri mereka.
Akuma bisa juga disebut zombie sekarang. Karena jumlah mereka bukan hanya satu atau dua. Mereka ada jutaan dan memenuhi benua eropa. Akame berjalan kesana kemari mencari manusia yang masih hidup untuk di jadikan santapan mereka.
Akuma memang tidak menyebarkan virus seperti zombie. Jumlah mereka melesat dengan cepat dikarenakan efek domino dari manusia itu sendiri. Misalnya jika sang kakak kehilangan adiknya karena di bunuh Akame, maka sang kakak yang selamat itu akan merasakan penyesalan yang sangat besar di hatinya.
Dan saat itu lah kutukan iblis mulai tumbuh dalam dirinya dan lama kelamaan ia juga ikut menjadi Akame. Akame tak memiliki kekuatan spesial seperti saat manusia itu masih bisa berpikir. Jika kutukan itu berhasil melenyapkan sisi kemanusiaan seseorang.
__ADS_1
Maka tubuh manusia itu sudah sepenuhnya menjadi mayat dan hanya di kendalikan oleh keinginan membunuh sang iblis. Mereka tak lagi bisa bicara, mereka juga tak bernafas. Tapi entah kenapa mereka bereaksi ketika ada darah manusia yang ada di sekitar mereka.
Mereka memakan manusia dan meminum darahnya agar bisa tetap bertahan hidup. Dan sekarang saat jumlah manusia hanya tinggal sedikit, tak jarang mereka juga saling memakan satu sama lain.
Malam ini, di tengah hutan belantara dengan pepohonan yang besar dan berdaun lebat. Empat orang yang masih bertahan hidup dari ancaman para Akame duduk dan bersandar mengelilingi batang pohon besar yang ada di tengah hutan itu.
Seorang laki laki dengan rambut biru tua dan bola matanya yang berwarna kehijauan itu duduk dan menggenggam senapan laras panjang. Ia bersandar di batang pohon besar itu dengan nafasnya yang terengah engah itu.
Ia mengenakan seragam militer warna hijau tua lengkap dengan amunisi senjata yang ada di ikat pinggangnya.
"Huff ... sampai kapan kita gini terus ...," ia mengeluh sembari memukul tanah dengan tangan kanannya.
Gadis rambut pirang bergaya poni tail dengan bola mata birunya yang seperti air di tengah samudra yang memantulkan cahaya matahari. Gadis itu duduk di samping laki laki yang ia sebut Okino itu sembari menggenggam tangannya.
Ia juga mengenakan seragam militer dan menggenggam sebuah pistol di tangan kirinya. Ia juga tampak kelelahan dan menyandarkan kepalanya ke bahu Okino.
"Ema? ... kamu gak apa apa kan?" Tanya Okino menoleh ke arah gadis yang bernama Ema itu.
"Heh ... jangan lupakan kami payah!" Ucap laki laki pirang bermata cokelat yang duduk di sisi lain pohon besar itu.
"Hmm ... Okino ... kita harus gimana nih?" Tanya gadis rambut merah panjang yang terurai. Dia duduk di samping laki laki pirang tadi.
__ADS_1
"Erick ... Vio ... aku tak tau harus kemana lagi," jawab Okino dengan nada pasrahnya.
"Hmm ... seperti nya kita berempat akan mati di sini ya?" Kata Erick sembari mengisi senapan laras panjangnya dengan peluru terakhir yang tersisa di saku celana panjang seragam militernya itu.
"Erick ... jangan gitu lah," ucap Vio menyenggol pinggang Erick dengan sikunya.
"Hmm ... ku harap bukan cuma kita manusia yang tersisa," kata Okino sembari memandang Ema yang tertidur di pundaknya itu.
"Erick ... berapa sisa peluru mu?" Tanya Okino sembari memejamkan matanya.
"Lima ...," jawab Erick sembari menatap senapan laras panjang berjenis sniper itu.
"Vio?" Lanjut Okino bertanya.
"Emm ... cukup buat kalahin sepuluh Akame aja," jawab Vio mengecek keadaan senapan nya yang berjenis sub machine gun atau SMG yang biasa di gunakan untuk jarak dekat.
"Hmm ... peluruku tinggal sepuluh ... ditambah satu ...," gumam Okino dengan matanya yang sudah terpejam.
"Kita tidur dulu di sini ... besok pagi ... aku punya rencana ...," ucap Okino.
"Okay ... ketua memang bisa di andalkan!" Ujar Erick memuji sang ketua regunya itu.
__ADS_1