
"Apa itu tadi?"
Sapertinya yang kulihat tadi adalah sumber dari masalah gadis yang bernama Sayouka itu. Kakaknya telah direnggut okeh takdir. Rasa penyesalan dan kebencian terhadap dunia ini pasti akan muncul di hati seseorang setelah hal itu terjadi.
Jadi sekarang aku tau masalah Sayouka. Sekarang aku tinggal melemahkan iblis itu dengan cara bicara dengan Sayouka. Aku membuka mata dan kembali sadar. Aku berdiri di samping Kakume yang nyaris tak bergerak karena aku melambatkan waktu di sekitarku.
Bola angin besar itu sedikit demi sedikit mendekat ke arah kami. Aku kembali memejamkan mataku. Aku akan meminjam kekuatan itu sekali lagi. Kakuatan dari sang iblis dan Dewa.
"Dengan cahaya aku menghukum mu ... dan dengan kegelapan aku membuatmu menderita ..."
Aku merasakan ada sesuatu yang mengalir di dalam tubuh ku. Mata kiri ku terasa sedikit sakit, itu artinya aku kembali berubah menjadi iblis. Bilah pisau ku bersinar dan memanjang. Sekarang aku kembali memegang pedang sang iblis dengan bilah panjangnya yang bersinar berwarna merah darah.
Tap!
Aku menghentakan kaki kananku dan mengembalikan waktu seperti semula. Aku menggenggam gagang pedangku dengan kedua tanganku dan tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke arah bola angin besar itu.
Bola angin itu langsung melesat ke arahku dengan kecepatan yang sama sekali tak kuduga. Tapi tak ada gunanya mundur sekarang.
"Kaito?!"
Slash!!! Whuss!!!
Aku menebas bola angin itu dan membuatnya lenyap seketika. Angin itu menyebar ke sembarang arah dan membuat pohon pohon disekitar kami bergoyang.
"Sayouka!!! ... kakak mu masih hidup!" Teriak ku berusaha menyadarkannya.
"Bohong!" Dia kembali menembakan bola angin itu ke padaku.
__ADS_1
"Malam itu ... waktu itu!!" Aku melompat dan menghindari hantaman bola angin itu.
Aku melompat sangat tinggi. Aku bisa merasakan angin di malam musim semi dari atas sini. Aku melompat kira kira hampir delapan meter dari permukaan tanah.
"Bohong!" Dia kembali melepaskan bola anginnya itu.
"Dia pulang membawakan hadiah untukmu!" Aku menebas bola angin itu dan jatuh kembali ke atas tanah.
"Bohong!!" Untuk yang ketiga kalinya, aku menebas bola angin yang ia lempar padaku dan jarakku padanya semakin dekat.
"Sayouka!!!" Aku melepas pedangku dan berlari ke arahnya.
"Bohong!!", sebelum bola angin itu terbentuk di depan telapak tangannya, aku sudah memeluknya terlebih dahulu.
"Udah cukup! ... kamu gak perlu sampai begini!" Aku memeluknya dengan erat tanpa berpikir panjang.
"Kakak ku ...,"
"Jika kau mati ... artinya kamulah yang membunuh kakak mu sendiri ... tolong ... hiduplah untuk kakakmu"
"Dia pasti gak akan senang kalau kamu sampai mati! ... kumohon ..."
"Untuk adik perempuan ku tersayang ... selamat ulang tahun ... semoga Sayouka bisa tumbuh menjadi gadis cantik ..."
"Itu ... itu adalah surat yang tertulis di kotak hadiahmu yang tak sempat kau terima ..."
"Kakak ... apa dia membelikan ku hadiah?" Sayouka mulai meneteskan air matanya di seragam yang ku pakai.
__ADS_1
"Ya ... apa kamu mau tau hadiahnya apa?"
"Apa?" Aku mulai bisa merasakan jantung iblis mulai muncul di dada Sayouka.
"Novel yang judulnya ... adik manis yang kusayang"
Sayouka mulai menangis tersedu sedu dan mengeluarkan banyak air mata. Bola matanya sudah tidak berwarna merah, Sayouka memiliki bola mata indah yang berwarna kuning padam. Sayouka memelukku dengan erat dan menangis di dekapanku.
"Maaf ... maaf ... maaf ...," ujarnya dengan air mata yang terus mengalir keluar.
"Sayouka ... hiduplah ... hidup dan bawa kakakmu terus bersamamu ... aku yakin ... dia masih hidup di dalam hatimu", aku melepas pelukanku dan menghapua air matanya dengan ibu jariku.
Krak!!!
Jantung iblis yang bersinar dengan warna merah darah di tengah dada Sayouka mulai retak.
"Sayouka-chan ... kakak ini hebat kan? ...," Kakume menepuk pundak kiriku dan tersenyum pada Sayouka.
"Nee ... apa kalian temennya kakakku?", tanya Sayouka.
"Ano ...", aku bingung harus menjawab apa, masalahnya jantung iblis itu belum lenyap sepenuhnya.
"Iya ... dan ini ... ini adalah hadiah yang harusnya diberikan kakak mu beberapa hari lalu," aku terkejut ketika melihat Kakume memberikan novel yang sama dengan yang ingin kakaknya berikan pada Sayouka.
"Aku sangat berterima kasih ...," ucap Sayouka memeluk novel itu dengan erat.
"Aku bersyukur kakak ku pernah punya teman teman yang baik seperti kalian ...,"
__ADS_1
"Ya udah ... ayok aku anter pulang ...", Kakume mengusap kepala Sayouka dengan lembut.
"Makasih banyak kak!"