Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 19


__ADS_3

Prak ... Whush ...


Suara barang berjatuhan dan api yang melahap apapun yang ia sentuh. Panas, aku tak bisa bernafas dengan lega. Dada ku sangat sesak. Aku mungkin terlalu lama menghirup asap yang memenuhi koridor yang hancur berantakan karena ledakan tadi.


Aku duduk lemas bersandar di tembok ditemani Ema yang duduk di depanku sembari terus menggenggam tanganku. Gadis aneh dengan wajah datarnya itu. Tatapan kosong yang ia pancarkan dari bola mata birunya itu. Aku semakin bingung dengan kejadian demi kejadian yang aku alami belakangan ini.


"Ema ... ayo cari jalan keluar," ucapku lemas.


"Maaf ... tapi aku buta"


Aku langsung terbelalak saat mendengar kata-katanya itu. Mana mungkin gadis buta bisa berlari masuk ke gedung ini dan melawan iblis. Pertama tuli, kedua bisu, ketiga buta, apa apaan dunia ini?!


"Ema ..."


"Tolong!!!" Suara teriakan gadis kecil yang berasal dari dalam pintu ruangan yang ada di depan kami.


"Ema ... tetap pegang tanganku!" Pintaku lalu kembali berdiri.


Brak!!!


Aku menendang pintu yang setengah terbakar itu hingga ambruk supaya aku bisa masuk ke dalam ruangan itu.


"Halo!!! ... apa ada orang?" Tanyaku sembari melihat ke segala arah.


"Akhir nya ada orang juga," tiba-tiba gadis kecil dengan serangan sekolah dasar keluar dari lemari besi yang ada di ujung ruangan itu.


"Woh ... untung kamu gak apa apa ...," aku mengelus dadaku karena gadis kecil ini selamat dari ledakan yang aku buat tadi.


"Wah ada kakak bule ...," ucap gadis kecil itu dengan matanya yang berbinar setelah melihat Ema.

__ADS_1


"Ya udah ayo ...kita keluar ... papa sama mama kamu pasti udah cariin kamu di luar,"


Gadis kecil itu hanya diam dan melihat ke arah kaki kirinya yang terluka. Kakinya sedikit tergores benda tajam dan pasti rasanya sakit untuk gadis kecil seumurannya.


"Siapa nama mu?" Tanyaku sembari melangkah mendekatinya dan jongkok di depannya supaya tinggi badan kami setara.


"Ame ...," jawab gadis kecil itu dengan matanya yang berkaca kaca.


"Ohh ... Ame ... nama kakak Kaito ... sekarang kakak bakal bantu kamu keluar dari sini," ucapku dengan sedikit senyum supaya ia tenang.


"Aku takut kak Kaito," ujarnya.


"Ya udah sini kakak gendong," aku membalikkan badanku dan mempersilahkannya untuk naik ke punggungku.


"Hmm ...," Ame hanya mengangguk dan naik ke punggungku dan melingkarkan tangannya di leherku.


"Ya dah ... kalo kamu takut ... tinggal merem aja," kataku sembari kembali berdiri tegak.


"Kakak berdua ini pacaran ya?" Pertanyaan yang biasa keluar dari mulut gadis seumurannya.


"Pacaran itu apa?" Pertanyaan Ema yang membuatku terkejut.


"Enggak kok ... kami cuma temen," ucapku lalu kembali melanjutkan langkah untuk menuju ke tangga darurat.


Rasa ya aku ingin cepat-cepat untuk keluar dari gedung yang sudah diselimuti api ini. Di saat kami hendak melewati tangga darurat, petugas pemadam yang tadi berjaga di depan pintu datang bersama dengan beberapa temannya yang juga petugas pemadam.


"Woh ... ternyata kalian bisa selamat ...," ujara petugas itu.


"Ano ... ini ... mungkin dia di cari orang tua nya di luar," aku menyerahkan Ame kepada para petugas untuk membuatnya lebih terjamin keamanannya.

__ADS_1


"Ya udah ayo turun ... yang lain tetap padamkan api nya!"


"Siap pak!" Jawab tiga orang yang membawa satu selang panjang yang berat itu secara serentak.


Sang petugas pemadam itu pun membimbing kami untuk menuruni tangga. Akhirnya kami pun berhasil keluar dari gedung itu dengan selamat.


"Apa kalian baik baik saja?" Tanya petugas itu setelah membawa kami keluar dari gedung itu.


"Makasih banyak pak," ucapku sembari membungkukkan badanku.


Di saat yang sama Ema hanya melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.


"Kalo gitu ... kami permisi dulu ya ...," ucapku pamit.


"Makasih kak Kaito!", Ame yang digandeng oleh petugas itu melambaikan tangan padaku.


"Iya"


Aku segera mengejar langkah Ema dan menarik tangan kanannya agar ia menghentikan langkah kakinya itu.


"Ada apa Okino-sama?" Tanyanya dengan wajah datar dan pandangannya yang mengarah lurus ke depan.


"Hoi ... gimana cara mu pulang coba?" Tadi saja dia memintaku untuk menggandengnya keluar dari gedung.


"Pulang?" Dia malah memiringkan kepalanya sedikit dan tetap tak ada ekspresi di wajahnya.


Sebenarnya siapa dia?


Sebenarnya siapa Mirai?

__ADS_1


Sebenarnya siapa Ai?


Dan apa yang sebenarnya terjadi padaku di masa lalu?


__ADS_2