
Kaito
"Graaaaaaaarggggkkkk!!!"
Raungan sangat keras disertai amukan angin yang membuat orang-orang di lapangan ini berlari terbirit birit. Malam yang diselimuti kebahagiaan ini tiba tiba berubah drastis dipenuhi dengan jeritan ketakutan. Tiba tiba monster dengan tinggi dua meter lebih sedikit. Rambut merah menyala, batu permata merah bersinar di dahinya. Kulit merah darah dan urat-urat yang bersinar seperti bara api. Tubuh kekar berotot dan taring yang tajam.
Dia muncul di tengah lapangan Natsu ini tanpa tanda-tanda apa pun. Orang-orang yang awalnya menikmati pertunjukan kembang api sekarang berhamburan pergi dari lapangan ini. Entah mahkluk apa lagi itu, yang jelas dia sedikit lebih berbahaya dari pada Akame biasa. Ditambah lagi aku masih dalam kondisi Lock dan tak bisa mengeluarkan kekuatan sihirku. Tapi tenang, aku masih bisa memanggil Kensetsuku dan tetap bisa bertarung melawannya.
"Senpai?! Apa kita akan bertarung?!" Tanya Saika dengan perisai yang sudah melekat di lengan kanannya.
"Tidak, biar aku saja." Aku menepuk bahu kanannya dan tersenyum tipis.
"Tapi!?" Saika terbelalak menyadari perisainya menghilang dan berubah jadi butiran cahaya. Ya, aku menyegel kekuatannya untuk sementara waktu. Aku tak ingin dia ikut campur dalam pertarungan malam ini.
"Saika, pergilah bersama yang lain! Lindungi mereka, mereka lebih membutuhkan perlindunganmu!" Aku berbalik dan menunggu para penduduk sipil yang berlarian menjauh dari monster itu.
"Senpai!? Aku tidak akan meninggalkanmu!" Saika tetap saja keras kepala seperti biasanya.
"Saika! Kalau kamu mencintaiku, tolong ikuti permintaanku yang ini!" Aku menggigit ibu jariku sampai kulitku robek dan meneteskan darah ke tanah.
"Kalau begitu, hati hati Senpai!" Saika berlari meninggalkanku. Aku tak akan melibatkannya dalam pertarungan yang seharusnya bisa aku selesaikan sendiri.
"Saika, tunggu aku!" Aku menarik Kensetsu-ku keluar dari sarungnya yang ada di pinggang kiriku. Tak kusangka aku akan kembaki bertarung malam ini. Dan musuhku kali ini belum pernah aku hadapi sebelumnya.
"Oi!! Aku di sini!" Aku melangkah santai mendekati monster besar itu.
"Graaarhhkk!!!"
Tanpa basa basi monster besar itu langsung melesat ke arahku bersiap dengan tinjuan tangan raksasanya itu. Aku melompat ke atas dan membiarkan dia memukul tanah dengan kekuatannya yang luar biasa itu. Tanah tempat aku berdiri tadi sampai hancur berkeping keping dan membentuk sebuah kubangan yang lumayan besar.
"Teknik Api: Bulan Sabit!!!"
Aku mengayunkan pedangku dari atas ke bawah dan membuat api berbentuk bulan sabit meluncur ke arah monster yang ada di bawahku ini. Ledakan besar terjadi setelah jurusku itu menghantam tubuh besarnya. Aku mendarat di tanah dan berdiri tegak melihat apa yang terjadi pada monster itu.
__ADS_1
Walau kulitnya sudah terbakar karena apiku, dia tetap bisa berdiri layaknya tak terjadi apa apa. Seketika aku sadar, benda yang ada di kepalanya itu pasti sama dengan jantung iblis Akame. Jika batu permata itu hancur, mungkin saja dia akan kalah.
"Hmm, aku akan mengkhirimu secepat mungkin." Aku memejamkan mataku dan menarik nafas dalam dalam.
"Teknik Angin: Tebasan Musim Semi!"
Aku bergerak dengan kecepatan cahaya menembus badan raksasa itu berulang kali selama beberapa detik. Tanpa suara sedikit pun aku kembali ke tempatku semula, berdiri tegak dan memasukan bilah Katana-ku ini kembali ke dalam sarungnya. Aku kembali membuka kedua kelopak mataku dan melihat ratusan goresan di kulitnya disertai darah hitam yang bercucuran keluar seperti balon air yang bocor.
Krak!!!
Batu permata merah bersinarnya di dahinya itu ikut retak dan tak lama kemudian hancur berkepin-keping. Beberapa detik setelah itu dia tersungkur di tanah dengan darah yang menggenang di sekitar badannya.
Plak plak plak!
Suara tepuk tangan seseorang memecah keheningan di sini. Aku langsung menoleh kebelakang dan melihat laki laki yang mengenakan celana panjang hitam dan jaket hitam lengkap dengan tudung yang menutupi kepalanya. Seluruh wajahnya ditutupi oleh perban putih yang sepertinya membalut seluruh tubuhnya karena tangan dan kakinya juga terbalut oleh perban. Sekilas dia seperti mumi yang mengenakan jaket dan celana panjang.
"Siapa kau?" Tanyaku memiringkan kepalaku sedikit.
Ha?! Dia adalah The Key yang mencari Fate Stone dalam tubuh Ai dan Saika. Dan ia sekarang berada tepat di hadapanku. Jika dia saja sudah menemukanku, itu artinya dia juga sudah menemukan tujuan yang selama ini ia cari, ya, dia pasti sudah mengetahui keberadaan Ai dan Saika. Jika aku bisa membunuhnya sekarang, apa aku akan mengubah takdir?
"Mau apa kau kesini ha?!" Aku mengacungkan ujung pedangku kepadanya.
"Oi oi ... kau masih sama seperti dulu ya, dewa keabadian." Kata The Key menghentikan gerakan langkah kakinya.
Dewa?! Keabadian?!
"Apa maksudmu ha?!" Lanjutku bertanya menanggapi perkataan tak masuk akal itu.
"Lucu sekali mendengarnya dari dewa yang rela mengorbankan segalanya demi dua malaikat yang hampir membuat surga kacau balau." Lagi-lagi kata katanya itu membuatku bingung setengah mati.
"Menurutmu? Apa yang bisa membuatmu punya banyak kekuatan hebat itu?" Lanjut The Key melangkah perlahan memutariku.
"Tuhan? Dengar, bahkan sang pencipta sekarang sudah tidak menganggapmu sebagai ciptaannya." Dia menghentikan langkahnya tepat di depanku.
__ADS_1
"Yang dikatakan Yume, semua itu bohong."
"Ini bukan kesempatan terakhirmu!"
"Yume juga tak akan lenyap setelah menggunakan Fate Restart."
"Yume adalah malaikat yang memang diciptakan untuk mengulang takdir jika diperlukan."
"Aku bisa menjelaskan lebih banyak lagi tentangmu, tapi dengan satu syarat." The Key menyentuh ujung pedang yang aku arahkan padanya dengan jari telunjuk.
"Apa itu?" Aku menurunkan pedangku dan memasukanya kembali kedalam sarungnya.
"Bergabunglah denganku, kita akan menghancurkan takdir bersama." Ujarnya mengulurkan tangan kanannya padaku.
Jika hanya itu syaratnya maka ...
Perlahan aku menggerakan tangan kananku untuk menerima uluran tangan The Key. Aku ingin tahu lebih banyak tentang diriku yang sebenarnya. Dan aku ingin tau lebih siapa itu Yume, Ai, dan Saika. Dan juga kebenaran tentang kehidupan yang sedang aku jalani ini.
"Kaito!!! Jangan!!!" Suara Yume yang mengambil perhatianku. Aku menoleh ke sumber suara dan melihat Ai dengan rambut putih berdiri bersama Saika di belakangku.
"Wah wah ... Yume kau datang juga." The Key melangkah mundur sembari menyembunyikan kedua tangannya kedalam saku jaketnya.
"Kaito, jangan percaya omongannya!" Suara Yume yang keluar dari mulut Ai.
"Hoi? Yume? Apa Kaito juga bisa percaya padamu setelah tahu semua kebohonganmu itu?" Timpal The Key sedikit memiringkan kepalanya. Setelah mendengar ucapan The Key, Yume langsung terdiam kehabisan kata kata. Dan itu artinya dia memang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Apa kau ingat aku, Yume?" The Key memamerkan bola mata Hijau yang ia sembunyikan di balik balutan perban di seluruh wajahnya itu lalu menutupinya kembali.
"Ya sudah ... sampai jumpa di medan tempur Dewa Keabadian," The Key melambaikan tangan lalu melangkah perlahan dengan tubuhnya yang memudar. Ia lenyap begitu saja seperti hantu. Ditambah lagi dia meninggalkan sejuta pertanyaan di dalam kepalaku.
"Ka-Kaito? Saika? Kenapa tiba tiba aku di sini?" Yume mengembalikan kesadaran Ai.
Apa Yume sengaja melarikan diri supaya tak mendapat pertanyaan dariku?
__ADS_1