
Dai
"Aaayyyoooo!!!!"
Duar!!! Bhwus!!!
Aku meninju Devil King itu bersama dengan Kazuki yang juga melancarkan pukulannya. Tapi sayangnya King menahan kepalan tangan kami dengan santainya. Dia menangkap pukulan kami dengan kedua tangannya. Devil King adalah iblis tingkat tertinggi dari pada yang lainnya. Tentu saja kekuatanya setara dengan The One alias Takumi. Sampai sekarang kami belum tahu kelemahannya.
Sudah beberapa kali aku, Yamato, dan Kazuki berhadapan dengannya pada misi penyegelan Jigoku Gate. Tentu dengan kekuatan Yamato, kami tak perlu repot repot mengalahkan King. Tapi sekarang ia sudah tiada. Saat ini kami berdua harus menuntaskan pekerjaan yang dulu kami tinggalkan.
"Cih!" Kazuki menebaskan pedang yang ada di genggaman tangan kanannya. Tapi kulit lengan King sangat kuat seperti batu permata. Serangan Kazuki hanya menghasilkan percikan api tanpa goresan sedikitpun di tangan kiri yang barusan ia serang.
"Payah, kalian berdua masih saja lemah tanpa laki laki bernama Yamato itu!" King melayangkan pukulan dengan kedua kepalan tangannya itu. Masing masing pukulan itu berhasil diterima oleh perutku dan juga Kazuki. Kami berdua terlempar ke belakang beberapa meter dan untungnya kami bisa mendarat dengan mulus.
"Sepertinya kurang seru kalau keroyokan begitu ...," suara The Key yang menggema di sekitar tempat ini.
"Bagaimana kalau ...,"
Tiba tiba kilatan cahaya kembali membutakan mataku. Aku memejamkan mataku sesaat karena tak bisa menerima cahaya yang begitu terang itu. Beberapa detik kemudian aku kembali bisa melihat, aku menoleh ke segala arah dan memastikan dimana aku berada sekarang ini.
"Apa apaan ini?!"
Aku sekarang berdiri di bawah langit malam yang sama sekali tidak cantik. Awan awan tebal yang berjalan perlahan. Pancaran cahaya merah yang berasal dari sang rembulan. Sama sekali tak terlihat secercah cahaya bintang di sini. Kedua kakiku berdiri di atas tanah, bukan, batu berwarna hitam yang sangat keras. Di sekitarku tak terlihat satu pun pohon atau pun tanda kehidupan hewan.
Dataran batu yang sangat luas, aku tak bisa melihat ujung dari tempat kosong nan mengerikan ini. Ada beberapa genangan darah merah dan bau amis yang menusuk hidungku. Tak lama kemudian aku melihat The Key melangkahkan kedua kakinya perlahan dari jarak yang sangat jauh. Dia tak lagi memakai jubah cokelatnya itu. Sekarang tubuhnya seutuhnya terbalut oleh perban putih seperti mumi.
__ADS_1
"Aku biarkan King melawan Kazuki ... biar aku yang menjadi lawanmu Tetsujo Dai." Ujarnya terus melangkah dengan santainya dari jarak beberapa ratus meter.
"Hee? Kau pikir aku takut?" Aku mengepalkan kedua tanganku dan berjalan maju dengan aliran petir merah yang kadang keluar di sekitar tubuhku.
"Aku senang kau berani ...,"
Zrak!!!
Di saat yang sama keluar beberapa uluran perban putih keluar dari tanah dan berusaha menyerangku dengan menggunakan ujungnya yang sangat tajam itu. Sontak aku pun melompat ke atas untuk menghindari serangan kejutan itu. Belasan ujung uluran perban itu merusak permukaan batu itu seperti sebuah senjata.
Tak sampai di situ saja, setelah membentur tanah. Para perban itu kembali mengejarku dan berusaha menusukku denga ujung runcing mereka. Mereka terlihat seperti tentakel yang bisa bergerak dengan sangat cepat. Aku segera melepas jubahku dan menarik sebilah pisau yang aku sembunyikan di balik lengan kemeja putihku. Aku menangkis semua uluran perban yang hendak menusukku itu.
Mereka sangat keras seperti besi. Aku sampai kualahan menahan mereka semua agar aku tak tergores. Belum sempat menarik nafas setelah selesai dengan urusan perban mistis itu. The Key tiba tiba sudah melayang di belakangku dan mengayunkan kakinya dari atas ke bawah.
Alhasil aku pun jatuh dan membuat retakan menggunakan punggungku ini. Key melesat ke arahku dengan sangat cepat. Aku menggulingkan badanku dan bangkit berdiri untuk menghindari serangannya. Kakinya menghantam tanah tempat aku berbaring tadi sampai amukan angin menyebar ke segala arah.
"Wuah, kau lumayan juga." Katanya sembari menghindar dari semua serangan yang ku layangkan padanya.
"Lighting Blade ...," pisau di tangan kananku mamancarkan petir merah. Di saat yang sama kecepatan gerakanku meningkat pesat. Aku segera menusukan pisauku ini tepat ke jantung Key. Tapi sayangnya yang aku tusuk hanyalah balutan perban tanpa tubuh di dalamnya.
"Kau tak akan bisa melukaiku hahahaha!" Sebuah tangan keluar dari tanah dan mencengkeram kakiku. Aku sama sekali tak bisa bergerak atau pun kabur dari sini. Sesaat kemudian sehelai perban panjang keluar dari tanah dan menusuk bahu kananku. Ujung perban itu tajamnya setara dengan sebuah pedang. Darah segar mulai membasahi kemejaku. Tentu aku tak berdiam diri, aku mengaliri seluruh tubuhku dengan petir merah dan menghanguskan perban yang menancap di tubuhku sekalian dengan tangan yang mencengkeram kakiku.
"Wah wah, kau memang hebat." Key muncul dari tanah dan memberiku tepuk tangannya.
"Kau tau? Takdir memang sudah tidak bisa diubah sekarang ini."
__ADS_1
"Tapi aku akan membunuh orang sebanyak yang aku bisa." Katanya tanpa ekspresi karena aku tak bisa melihat wajahnya yang sepenuhnya dibalut oleh perban.
"Hhahahahaha!! Kau pikir aku peduli?!" Pikiranku mulai kacau karena melihat darah yang membasahi telapak tangan kiriku ini. Aku membuang pisauku itu ke sembarang arah. Tanpa basa basi aku melesat dan meninju kepala Key sampai ia terpental jauh. Gerakanku yang hampir menyamai kecepatan cahaya ini pasti tak bisa ia hindari. Key sempat berguling guling sejenak sebelum ia bisa kembali bangkit berdiri.
"Wah wah ... bisa juga kau memukulku." Dia membersihkan debu yang menempel di pakaian muminya itu.
"Aku bukan tandinganmu tau?" Aku tersenyum lebar sembari memamerkan kepalan tangan kananku yang dialiri petir merah.
"Aku suka itu!!" Teriaknya diiringi ratusan uluran perban yang layaknya ekor itu melesat ke arahku.
"Aaaaaahhhhgggg!!!"
Tanpa rasa takut sedikit pun aku berlari maju menerobos ratusan tentakel perban yang menuju padaku. Dengan petir merahku aku membuat semua yang hendak menyentuhku hangus terbakar. Secepat kilat aku sudah berada di depan muka Key, tinjuan tangan kananku pun melayang ke arah wajahnya itu.
Jrak!!!
Sehelai perban berhasil menusuk punggungku. Serangan Key itu sepenuhnya menghentikan gerakanku. Padahal tangan kananku hampir saja menyentuh wajahnya.
"Ha ha ha ... apa kau berpikir bisa memukulku dua kali?" Ujarnya melayangkan satu pukulan ke perutku. Lalu dilanjutkan dengan dua tinjuan di wajahku. Tak sampai di situ saja, dia mengayunkan kakinya dan membuatku kembali terpental kebelakang. Aku berguling guling di tanah selama beberapa saat, sekarang aku hanya bisa diam dan tersungkur di tanah.
Sial, aku kehilangan kesadaranku ...
Kedua kelopak mataku otomatis terutup setelah pandanganku kabur.
"Oi? Dai? Kamu kah itu?" Suara pria tak asing yang menerobos masuk ke kepalaku.
__ADS_1
"Ha?! Yamato?" Aku terbelalak menyadari Yamato berada di hadapanku sekarang ini. Rambut merah padan dan mata hijau seperti permata. Kemeja, rompi, long coat, dan celana panjang hitamnya itu masih tak bisa kulupakan.