
Okino Hanabi, Tenshi dengan kemampuan bertarung yang sangat hebat. Kekuatan adik perempuanku itu adalah senyuman dan kebahagiaan yang ia miliki. Jika ia membangkitkan kekuatannya, maka senyumannya itu akan menghilang. Adikku akan menjadi sangat dingin. Diantak segan segan membunuh semua orang yang menghalanginya.
Dia memiliki Ten Kara No Ken miliknya sendiri. Hanya saja miliknya tak bisa berubah menjadi pedang cahaya. Hanabi mempunyai dua mode kekuatan. Blue mode dan Red mode. Yang aku lihat kemarin Hanabi masih menggunakan Blue mode-nya saja. Jika dia ada dalam perubahan Blue, dia masih mengeluarkan setengah dari seluruh kemampuannya. Dan artinya Red mode adalah saat dimana ia serius. Kekuatan Hanabi muncul karena aku tak sengaja membuka segel kekuatannya, sama seperti Ai.
Astaga, ternyata semua ini kesalahanku ...
Tentu bukan karena berciuman dengan adikku sendiri aku membuka segelnya. Tapi sampai sekarang Fumio masih belum tahu penyebabnya. Yang jelas aku memiliki kemampuan tersembunyi. Kemampuan yang dimiliki oleh ayahku. Seal, aku bisa memanipulasi kekuatan sihir dari Jigoku Gate, orang yang terkena kutukan, dan kekuatan para Tenshi.
Entah berapa banyak kemampuan yang kumiliki di dalam diriku ini. Tapi yang jelas itu terlalu banyak. Aku berpikir lebih baik segera mencapai Batas dan kehilangan semua kekuatanku, agar aku bisa bebas dari semua ini. Tapi, jika itu terjadi berarti aku kalah dari takdir. Lagi ...
"Hmm, begitu ya ...," aku melipat tanganku di depan dada dan merenung sejenak.
Lampu lampu yang bersinar terang di langit langit. Logo DH yang terpajang di dinding belakang tempat duduk Fumio. Meja besar yang ada di tengah tengah ruangan. Beberapa meja komputer yang berbaris rapi di sisi ruangan. Ya, aku berada di bunker atau ruang rahasia markas tim Fumio yang ada di bawah tanah. Aku duduk di atas kursi jauh di seberang Fumio. Meja yang cukup besar ini memberi jarak yang besar pula.
"Kaito, setelah ini kau mau kemana?" Tanya Fumio seraya melepas kacamata yang ia pakai.
"Hmm, aku akan menjadi lebih kuat."
"Aku akan mengambil misi sebanyak yang aku bisa."
"Aku akan menemukan keberadaan Raku."
"Aku akan mengembalikan senyuman Mina." Aku berdiri dan melangkah perlahan ke arah lift yang pintunya masih terbuka lebar.
"Aku melihat Takumi di dalam dirimu ... hati hati Kaito."
"Sekali masuk kedalam kegelapan, akan sulit bagimu untuk keluar." Ucapan Fumio yang menandakan ia sangat mengenal Takumi.
"Oh ya, besok ada festival kan? Apa kau dan yang lain bisa ikut?" Tanyaku sebelu menekan tombol yang ada di samping pintu lift.
"Tentu, terima kasih telah mengundang kami." Ujarnya dengan wajah dinginnya itu.
__ADS_1
"Kalian adalah temanku, mana mungkin aku bisa melupakan kalian." Ungkapku lalu menekan tombol dan pintu lift otomatis tertutup.
Aku harus lebih kuat, aku harus lebih kuat ...
Ting~
Lift berbunyi dan pintu otomatis terbuka lebar. Aku segera keluar dari kamar yang menyembunyikan lift itu dan menutup pintunya rapat rapat. Aku berbalik dan melihat pintu kamar Haru yang tertutup rapat. Setahuku Saika tinggal di sini, mungkin saja dia ada di dalam. Aku mengetuk pintu itu tiga kali lalu membukanya.
"He? Siapa itu?" Haru yang terbaring di atas ranjangnya menoleh ke arahku.
"Maaf, ini aku Kaito, apa aku mengganggu?" Tanyaku memastikan.
"Woah?! Kirain siapa, sekarang kamu kaya bapak bapak hehe." Ujar Haru terkekeh.
"Hmm, Haru, apa kamu Lock lagi?" Lanjutku kembali bertanya kenapa ia berbaring dan kelihatannya tak bisa bergerak.
"Iya gitu lah ...," jawabnya melempar senyum tipis padaku.
"Wahh, tapi bukannya kamu ada misi lain." Haru terus memandang langit langit kamarnya.
"Saika ada bersama kalian, aku bisa menjalankan misiku itu dan sekaligus membantu kalian kan?" Di saat yang sama adik kelas mesumku itu datang dan masuk ke dalam kamar ini.
"Senpai? Apa kamu Kaito-senpai?" Tanyanya denga wajah datar sembari terus menarik lengan pakaianku.
"Hmm, iya ...," aku mengeluarkan nada malasku.
"Woah ...," matanya berbinar, tapi entah kenapa ekspresinya masih datar.
"Etto, besok festival loh, apa Haru bisa ikut?" Sebenarnya aku ingin mengajak banyak orang di festival musim panas kali ini.
"Hmm, kayaknya lusa aku baru sembuh." Kalau begini artinya Haru tak bisa ikut besok.
__ADS_1
"Kan festivalnya tiga hari Senpai," Kata Saika mengingatkanku. Benar juga, masih ada banyak waktu, mungkin besok aku akan mengajak salah satu dari Ai atau Saika. Aku akan mengencani mereka bergiliran. Dan baru di hari ke tiga kami pergi ramai ramai ke sana. Rencana yang bagus, tapi aku bingung siapa yang aku pilih terlebih dulu.
"Ya sudah, kita pergi bareng hari ke tiga, supaya kamu sembuh total."
"Ya sudah, aku pergi dulu ... sampai ketemu nanti malam." Ucapan terakhirku lalu kembali menuruni tangga dan bertemu dengan si pirang mesum yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Kakume, aku keluar, nanti malam kamu bukan lagi satu satunya laki laki di tim ini." Ujarku memberinya kode sembari menutup pintu depan setelah aku keluar dari rumah tim ini. Aku berbalik dan hendak melangkah keluar dari teras rumah. Sebuah mobil sedan hitam yang tak asing terparkir di tengah jalan tepat di depanku. Dan lihat siapa yang ada di dalamnya.
"Hoi? Mau membantuku?" Ujar Taki melambaikan tangannya dari kursi pengemudi.
"Hmm, oke oke." Tanpa basa basi aku langsung masuk dan duduk di samping Taki. Betapa sibuknya aku hari ini, dan kuharap aku akan bertambah kuat seiring berjalannya waktu. Ayah sudah membantuku mengubah takdir, dan sekarang aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
"Misi apa kali ini?" Tanyaku sembari menikmati pemandangan yang disajikan di luar jendela mobil yang sedang melaju ini.
"Hari ini Senpai mu ini akan mengajarimu bagaimana cara menjadi Assassin." Jelas Taki. Itu artinya kami akan melakukan penyusupan dan tetap berusaha untuk tidak terlihat oleh musuh.
"Sepertinya merepotkan ...," keluhku seraya menghela nafasku. Aku lebih suka bertempur terang terangan dari pada harus mengendap-endap tanla suara. Jujur saja, aku orang yang ceroboh. Setengah jam berlalu, kami kembali ke pusat kota Natsu. Tapi sebelum kami sampai di tempat misi, perhatian kami diambil oleh gedung yang sedang terlalap api yang berkobar dari dalam.
"Haa?! Jangan bercanda lah?!" Taki langsung menepi dan kami segera keluar dari mobil menuju ke keramaian yang ada di depan gedung tersebut. Selain petugas pemandam kebakaran ada juga orang orang yang baru saja mengevakuasi diri keluar dari gedung.
"Kami polisi! Apa masih ada orang di dalam?!" Taki menunjukan lencana palsunya kepada beberapa petugas pemandam yang berdiri di depan pintu masuk.
"Kami tak tau! Sebaiknya kalian jangan masuk!" Ujar petugas itu.
"Cih, kami bukan pengecut seperti kalian." Taki langsung menerobos masuk ke dalam gedung yang terbakar ini.
"Maaf! Temanku memang tak sopan." Aku segera mengikuti kemana si culun itu pergi. Tak kusangka dia langsung berusaha menolong orang tanpa alasan yang jelas.
"Kaito! Aku atasi lantai lima ke atas, kamu atasi lantai dasar sampai empat!!" Pekik Sora seraya berlari menaiki tangga menuju ke lantai berikutnya.
Woi! Seenaknya saja ... Tapi apa boleh buat!!!
__ADS_1