
First Death
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kaito! Apa kau masih ingin menyelamatkannya?!"
Suara pria yang menggema disertai suara langkah kaki yang semakin besar. Tempat yang sama sekali tak jelas. Lantai putih yang mengkilap. Matahari yang bersinar terang di atas langit. Dua orang pria berdiri di depan sebuah gerbang benteng dengan tembok yang tak nampak ujungnya. Kaito, nama laki laki berambut merah padam dan mata kecoklatan. Ia hanya mengenakan jaket hitam dan celana panjang warna hitam.
"Tuan, maaf ... tapi aku tidak bisa mengubah pendirianku." Ucap Kaito sedikit membungkukan badannya.
Pria yang sedang berdiri dihadapannya itu adalah sang pencipta. Yaitu dewa dengan tingkat kekuasaan dan kekuatan paling tinggi di tempat ini. Pria tinggi dan gagah, rambut putih panjang yang terurai, jenggot panjang sampai ke dada. Matanya bersinar putih terang, ia juga memakai zirah emas yang bersinar sangat terang.
"Hmm, Kaito anakku ... apakah kau berani melawanku hanya karena perempuan?" Ujar Sang Pencipta atau yang biasa disebut God.
"Tuanku, apakah dia memang benar benar tak bisa dimaafkan?" Lanjut Kaito bertanya tanpa menatap God.
"Apa gadis yang hampir membunuh banyak orang pantas dimaafkan?"
"Ya, walau kamu berhasil menyegel iblis dalam dirinya."
"Tapi suatu saat dia akan seperti itu lagi kan?"
"Wahai dewa keabadian, Kaito, kau sudah aku anggap spesial di sini."
"Kau kuciptakan untuk menjaga gerbang neraka dan surga,"
"Apa kau ingin kehilangan kedudukanmu hanya karena dia!" Pekik God menunjuk kearah Gadis yang ada di belakangnya.
"Munmei?" Kaito terbelalak melihat gadis cantik yang mengenakan gaun biru, bukan, itu adalah baju zirah sekaligus gaun. Rambut pirang poni tail, hidung mancung, dagu lancip dan bola mata hijau padam.
"Tuan! Tolong, jangan bunuh dia!" Teriak Kaito bersujud memohon kepada sang pencipta yang ada di hadapannya itu.
"Sudah terlambat!"
Zrak!!!
Tiba tiba sebilah pedang menancap tepat di jantung gadis bernama Munmei itu. Pedang itu seketika muncul setelah God mengarahkan tangannya pada Munmei. Kaito yang bersujud itu meneteskan air matanya ke lantai putih mengkilap itu.
"Kenapa?! Kenapa?!" Kaito bangkit berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal kuat seakan menahan semua emosinya.
"Hmm ... aku serahkan padamu Shinjiro." God menepuk pundak seorang laki-laki yang tiba-tiba berdiri di samping kanannya.
"Aku tak takut pada siapa pun!" Teriaka Kaito itu, sepertinya dia sudah kehilangan akal sehatnya.
"Kaito, sang dewa keabadian? Apa kau yakin ingin melawanku?" Kata laki laki tinggi dengan rambut putih. Bola mata kecoklatan yang hampir mirip dengan milik Kaito. Kulit eksotis dan zirah warna merah darah yang membuat dirinya terlihat gagah dan tampan. Shinjiro dia adalah dewa kematian. Sungguh lawan yang berat untuk sang dewa keabadian.
__ADS_1
"Shinjiro, aku percayakan semua padamu," ucapan terakhir God sebelum dia menghilang begitu saja.
Dan seketika mereka berdua yang sedang berdiri berhadapan itu berpindah tempat. Kaito dan Shinjiro sekarang berada di hamparan padang pasir tanpa ujung. Tempat ini adalah medan perang, terlihat dari jutaan pedang yang menancap di pasir. Pedang pedang itu memenuhi permukaan padang pasir ini seperti sebuah pepohonan.
"Kaito! Bersiaplah untuk mati!" Shinjiro mengacungkan pedang yang tiba tiba ada di tangan kanannya itu.
"Begitu ya?!" Tatapan kosong Kaito disertai lengan kirinya mulai keluar garis garis bersinar biru muda. Itu adalah God Line, ya, garis dewa. Sang pencipta memberikan God Line kepada para dewa yang dianggapnya spesial di Eden, atau tempat yang bisa disebut surga.
"Munmei! Munmei!!! Munmeiii!!!" Kaito melesat maju tanpa basa basi lagi. Tetesan terakhir air mata kesedihan milik Kaito sudah terjatuh ke tanah.
Trank!!!!
Suara benturan antara dua bilah pedang sang dewa. Sebelum Kaito sampai di depan Shinjiro, ia memanggil dua pedang miliknya dan menggenggamnya di masing masing tangannya. Mereka saling menahan dorongan satu sama lain sekuat tenaga.
"Kaito?! Apa kau yakin?! Kau bisa kehilangan God Line milikmu!" Peringatan yang keluar dari mulut Shinjiro.
"Aku tak peduli!! Walau aku harus mati seratus kali pun, itu lebih baik dari pada aku di sini tanpanya!" Pekik Kaito sembari terus berusaha menebaskan kedua pedangnya pada Shinjiro.
"Oi!? Apa kau sudah buta karena cinta?!" Shinjiro menepis semua serangan Kaito dengan santainya.
"Aaaaaaaghhh!!!"
Tang!!! Zrak!!!
Kaito membuat kesalahan kecil dan celah itu bisa dimanfaatkan oleh Shinjiro dengan sangat baik. Shinjiro menepis serangan Kaito dan menusuk bahu kanannya dengan pedang. Sontak gerakan Kaito pun terhenti seketika.
"Jangan menahan diri!!!" Teriakan diiringi tendangan kaki ke arah perut Shinjiro. Kaito pun berhasil melompat mundur dengan pedang yang masih menancap di bahu kanannya itu.
"Oi! Kau memang dewa keabadian, dan kau bisa hidup lagi setelah kau mati!"
"Tapi, itu percuma saja bila kekuatan dan ingatanmu hilang!" Shinjiro masih saja berusaha menyadarkan Kaito.
"Aku tak peduli!" Tanpa gentar sedikit pun Kaito berlari menjemput ajalnya.
Bruak!!!
Sebelum Kaito menyentuh Shinjiro, tendangan kuat sang dewa kematian itu kembali membuat Kaito terpental mundur.
"Kaito, kau bisa mengacaukan takdir."
"Jika kau mati, kau akan turun ke dunia. Kehilangan semua kekuatanmu."
"Tapi, kekuatan baru bisa saja muncul di kehidupanmu yang selanjutnya."
"Ditambah lagi, jika kau mendapat kekuatan Paralel Fate."
__ADS_1
"Kekacauan besar akan terjadi!" Shinjiro mencabut salah satu pedang yang menancap di tanah itu.
"Apa kau pernah melihat orang yang kau cintai dibunuh di depan matamu?!" Tanpa menghiraukan darahnya yang mencucur keluar, Kaito terus berlari maju berusaha menyerang Shinjiro.
Trank!!!
Ketiga bilah pedang mereka kembali saling menghantam satu sama lain. Percikan api dan amukan angin menyebar ke segala arah karena kekuatan mereka berdua yang luar biasa.
"Maaf!" Shinjiro menendang perut Kaito dengan lututnya lalu menusuk perut Kaito dengan pedang yang ada di tangannya itu lagi.
"Tak perlu menahan diri, aku juga tak akan menahan diri!" Dengan kecepatan cahaya, Kaito berada di belakang punggung Shinjiro dan menusukan kedua pedangnya ke punggung dewa kematian itu.
"Kaito!!!!" Shinjiro berbalik dan mengayunkan tangan kirinya. Pipi kiri Kaito pun dihantam oleh kepalan tangan Shinjiro yang sangat kuat itu. Si dewa keabadian itu terpental dan berguling guling di atas pasir selama beberapa detik. Gerakannya terhenti karena punggungnya menghantam salah satu pedang yang menancap di tanah itu.
"Munmei! Dia sudah banyak berbuat baik!"
"Tapi satu kesalahan saja, kalian langsung membunuhnya?!"
"Kalian tak pantas disebut pemilik dan pengatur dunia ini!" Kaito bangkit berdiri dengan total dua pedang yang menancap di tubuhnya.
"Aaaaagghhhh!!!!" Teriakan disertai aura Kaito yang meledak ledak. Kaito mengarahkan kedua tangannya ke samping. Di depan tangan kirinya berkumpul energi listrik warna merah. Sedangkan di depan tangan kanannya berkumpul energi listrik warna biru.
"Shinjiro!!! Bunuh aku selagi bisa!!!!!!" Pekik Kaito. Tak lama kemudian energi yang terkumpul itu berubah menjadi dua bilah pedang. Pedang di tangan kirinya memancarkan aura kegelapan. Sedangkan pedang di tangan kanannya memancarkan cahaya.
"Baiklah jika itu maumu!" Shinjiro memanggil busur panah cahayanya itu.
"Kaito, jika kita bertemu lagi, aku harap kau bisa mengalahkanku!" Shinjiro menarik anak panah cahayanya yang bersinar terang itu.
"Buktikan jika kau layak kembali ke Eden."
"Bukan sebagai iblis atau pun dewa."
"Tapi sebagai pemilik tempat ini!" Anak panah cahaya Shinjiro semakin bersinar, terang dan semakin terang.
"Hmmm ... Ternyata kau sudah tau tentang itu ya?!"
"Aku, pasti akan kembali!" Kaito meluncur dengan kecepatan supernya, disaat yang sama Shinjiro juga sudah melepas anak panahnya itu.
Booommm!!!!
Ledakan besar pun terjadi, asap tebal menyelimuti seluruh tempat itu. Butiran pasir pasir mulai melayang ke udara. Apa pun yang terjadi, sepertinya tak ada pergerakan sama sekali di dalam kabut tebal itu. Beberapa menit kemudian terlihatlah Shinjiro yang menusuk jantung Kaito dengan sebilah pedang. Debu debu tadi sudah menghilang sepenuhnya dan terlihatlah Kaito yang sudah tergeletak tak bernyawa.
"Kaito, sampai jumpa di kehidupan berikutnya!"
__ADS_1
Okino Kaito
------------------------