
Udara sejuk yang kukasakan. Angin sepoi sepoi yang berhembus kesana kemari. Warna merah muda mulai mengambil alih perjalanan kami berdua. Aku berjalan di samping Ai yang tak bisa mendengar itu.
Bunga sakura mulai mekar dan membuat mata kami berdua melihat pohon pohon penuh dengan warna merah muda. Angin yang berhembus membuat beberapa bunga berjatuhan ke jalan.
Musim semi yang membosankan, hidupku hanya dipenuhi dengan masalah tanpa ujung. Aku bahkan tak bisa bernafas dengan lega karena mendengar ramalan yang mengatakan gadis terpilih itu akan mati.
"Kaito? ... kok murung gitu?" Tanya Ai menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggangnya itu.
"Ohh ... gak ada apa apa?" Jawabku seraya menggelengkan kepalaku perlahan.
"Nee ... Kaito ... aku punya rahasia loh," ujarnya dengan senyuman manisnya itu.
"Ohh ... aku dah tau ...," gumamku perlahan.
"Hee? ... udah tau? ... gimana?!" Ia terheran heran dan menarik lengan seragamku.
"Kok kamu bisa denger aku ngomong apa?"
"Ini ...," Ai menunjukan alat bantu dengar yang berbentuk seperti earphone di telinganya itu.
"Ya ... walau kadang suaranya kurang jelas ...," lanjutnya.
"Ai ... apa kamu bener bener tinggal sendiri di rumahmu?"
"Iya ... kenapa?"
Aku terdiam dan menggelengkan kepalaku. Aku tak tahu harus bertanya atau berkata apa lagi padanya. Aku terus saja teringat tentang ramalan itu. Walau aku belum mengenal Ai dengan baik. Tapi kenapa aku sangat takut jika akan kehilangan dirinya.
"Kaito ... mau ke rumah ku lagi gak?" Ai menyenggol pinggangku dengan siku kirinya.
__ADS_1
"Buat apa? ..."
"Ya udah ayok!" Sepertinya dia tak mendengar kata kataku dan malah menyimpulkan aku mau ke rumahnya lagi.
Gak nyambung banget!
"Buat apa Ai?" Aku mengulangi pertanyaanku dan memperkeras suaraku.
"Oh ... kamu gak mau ya? ... ya udah ...," senyuman di wajahnya itu seakan menghilang ditelan angin di musim semi yang baru saja melewati kami.
"Cih ... gimana kalau kamu aja yang kerumahku?"
Saat melihatnya menunduk dan terdiam. Aku sadar kalau dia hanya tinggal sendirian di rumah sebesar itu. Dia pasti kesepian dan hanya menghabiskan waktunya untuk menulis novel. Hanabi, adik perempuanku itu pasti bisa membuat suasana hatinya membaik.
"Eh? ... apa boleh?!" Ai bertanya padaku dengan kedua bola matanya yang berbinar.
"Huff ... iya ... di rumah ku cuma ada adik perempuanku," ucapku mengangguk perlahan.
"Ai ... soal kekuatan mu ..."
"Oh, kamu tau ya? Aku bisa panggil orang mati yang namanya Ema itu ...," ternyata dia belum sepenuhnya mengerti tentang kekuatannya sendiri.
Melangkah di tengah bunga sakura yang berjatuhan ke aspal jalanan. Sore ini aku tak berjalan sendirian, aku ditemani gadis dengan seragam lengan panjang warna putih dan rok pendek warna biru tuanya itu. Rambut panjangnya yang terombang ambing karena tertiup angin musim semi. Bola mata ungunya yang berbinar, entah kenapa mataku tak bisa lepas dari paras cantiknya itu.
Aku memimpin langkah kami berdua untuk menuju ke rumahku. Ai selalu tersenyum di sepanjang perjalanan, ya itu lebih baik dari pada melihatnya dengan wajah murung. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kami berdua sampai di depan gerbang rumahku.
"Woah ... ternyata ini rumah mu," ujarnya kegirangan.
"Kamu ngejek atau gimana?" Ucapku saat mengingat rumahnya yang jauh lebih mewah dan besar.
__ADS_1
Greek~
"Hanabi ... kakak pulang ...," aku membuka pintu perlahan dan mengucapkan salam.
"Woah ... kakak bawa cewek lagi ...," kata katanya yang sama sekali tak membuatku senang.
Hanabi sedang berada di dapur dan sibuk memasak untuk makan malam kami.
"Heh ... kamu kira kakak cowok hidung belang?" Aku melangkah masuk ke rumah bersama Ai.
"Wahh ... adikmu imut banget!!!" Ai langsung berlari ke dapur dan menghampiri Hanabi yang sedang sibuk memasak.
"Ya udah ... aku mau mandi dulu," aku langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarku.
Setelah meletakan ranselku di lantai, aku langsung membaringkan diriku di atas ranjang. Aku memejamkan mata dan mengatur nafasku. Aku hanya ingin menenangkan diri sejenak karena masalahku terus saja bertambah.
"Gadis yang terpilih itu ... cih," aku memukul dinding dengan tangan kiriku saat mengingat ramalan itu.
Aku bahkan belum jatuh cinta padanya ...
Tapi kenapa takdir terang terangan memberiku ramalan itu?!
Apa aku memang tak bisa merasakan kebahagiaan?!
Jika begini terus ...
************
Sekali lagi makasih buat kalian yang udah baca sampe sini ... cuma mau ingetin aja ... jangan lupa klik like nya Ya ...
__ADS_1
See you next chapter ...