
"Kaito? kenapa kamu tidur di sini?" Ai menggoyangkan badanku dan membuatku terbangun dari tidurku.
Aku membuka mata dan menyadari aku tertidur di atas sofa ruang keluargaku. Aku tak ingat sisa malam kemarin setelah membawa Saika kembali ke markas. Lagi lagi aku merasa gelisah. Entah kenapa aku selalu tak ingat mimpi yang aku alami semalam. Ai berdiri di belakang sofa dan masih mengenakan kaos putih dan celana pendek warna ungunya itu.
"Ohh ... aku gak apa apa ...," aku duduk di sofa sembari memegang kepalaku yang sedikit pusing ini.
"Beneran nih?"
"Iya ... ngomong ngomong kamu belum mandi?" Tanyaku lalu berdiri dari sofa.
"Ohh ... aku baru aja bangun terus liat kamu di sini." Jawab Ai sedikit memiringkan kepalanya.
"Hmm ... ya udah, oh iya pengumuman lomba novelmu kapan keluar?" Pertanyaan yang tiba tiba keluar dari mulutku.
"Hua, iya, besok lusa kayaknya." Ujarnya sembari meletakan jari telunjuk di dagunya.
"Kenapa? ohhh ... aku inget sekarang ..."
"Kamu pengen cepet cepet nulisin novel buat aku ya?"
Ha?! Di-dia masih ingat?!
"Bukan gi ..."
Bruak!!!
"Selamat pagi kakak kakakku tersayang!!! ... Eh?!"
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Hanabi berlari keluar dari kamarnya dan mendorong Ai dari belakang. Alhasil Ai pun melesat ke arahku. Dan hal yang tak kuharapkan pun terjadi. Bibir kami berdua tak sengaja saling bersentuhan. Aku bisa melihat matanya yang berbinar itu dengan jelas.
Aku bisa merasakan nafasnya. Waktu seakan membeku bagi kami berdua. Rona merah mulai keluar di kedua pipi Ai. Matanya terbelalak lebar karena terkejut dengan hal yang tak terduga ini. Hangat dan lembut, ini adalah ciuman pertama seumur hidupku. Tidakku sangka aku akan mengalaminya sekarang, dan dengan gadis tuli pula. Aku tersadar dari lamunan ku dan terjatuh ke belakang.
"A-apa itu barusan?!" Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa duduk di lantai melihat wajah Ai dan Hanabi yang memerah secara bersamaan.
__ADS_1
"Ma-ma-maaf ... aku gak sengaja ... tolong!!!" Hanabi malah kabur dan kembali masuk ke kamarnya.
"Ka-kaito? barusan ...," Ai hanya berdiri tersipu malu dan memancarkan tatapan kosongnya.
"Maaf ... aku gak sengaja." aku panik karena tak pernah melihatnya menunjukan ekspresi itu padaku.
Mati aku!
"Aku mandi dulu lah ...," Ai berbalik dan berjalan dengan tatapan kosongnya. Dia kembali masuk ke kamar Hanabi untuk segera mandi.
"Semoga dia baik baik aja ...," aku kembali bangkit berdiri dan naik kekamarku.
Saat aku menyentuh gagang pintu kamar ku. Gerakanku terhenti karena mendengar teriakan dari adik perempuan dari kamarnya.
"Kakak!!! cepet ke sini!!!"
Haah?!! Apa lagi ini!?!
"Ai?!"
Tubuh Ai mengeluarkan aura yang sangat terang. Tangan kirinya berubah menjadi kristal yang bersinar putih terang. Kamar Hanabi menjadi sangat terang karena cahaya yang mengelilingi Ai itu. Aku pun hanya bisa diam dan terpaku melihat Ai.
"Ka-kaito? apa ini?" Ai kebingungan melihat tangan kirinya yang berubah jadi kristal.
"Kak Ai ... kok dia bisa jadi gitu?" Hanabi menoleh ke arah Ai sembari terus memelukku.
"Ai, coba kamu tenang dulu ..."
"Tarik napas panjang ... tenangkan dirimu." Pintaku sedikit panik dan cemas.
"Oke," Ai melakukan apa yang aku minta.
Tak lama kemudian aura cahaya di sekelilingnya mulai menghilang. Tangannya yang mengkristal itu perlahan kembali seperti semula. Aku bersyukur tak terjadi hal buruk pagi ini. Entah apa lagi kejutan yang datang, aku sudah terlalu lelah untuk terkejut.
__ADS_1
"Tadi itu apa?" Ai terduduk di lantai dengan tatapan kosongnya lagi.
"Ai, apa kamu pernah gini sebelumnya?" Aku mendekat ke arah Ai dan membungkuk di depannya.
"Enggak," Ai hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa gara gara ciuman kakak tadi?" kata kata yang membuat aku dan Ai menoleh ke arah Hanabi serentak.
"Bu-bukan!!" Ai menyangkal ucapan Hanabi itu dengan panik.
"He? Kok kamu bisa denger?" aku mengernyit heran karena Ai tiba tiba bisa mendengar suara Hanabi.
"Hoh ... iya juga ...," Ai memasang wajah bingungnya.
"Huff ... ya udah, untung kamu gak kenapa napa. Aku mandi dulu lah, jangan aneh aneh lagi." Ujarku kesal lalu kembali keluar dari kamar Hanabi.
Aku menaiki tangga dan akhirnya bisa kembali masuk ke markasku yang sebenarnya. Aku menjatuhkan tubuhku di ranjangku sejenak. Aku merenung sembari memandang langit langit kamarku. Aku sedikit gelisah karena selalu tak bisa mengingat mimpiku semalam. Dan juga kejadian semalam.
Siapa cewek rambut pirang keemasan yang mirip sama Mirai itu ya?
"Kaito, kamu membuka segel kekuatan Ai." Suara Yume yang mengejutkanku karena selalu muncul di saat saat tak terduga.
"Segel? apa maksud mu?"
"Dengan ini takdir di masa depan sudah pasti, Ai akan mati ... lagi ...," ucapan Yume yang membuat ku langsung duduk di atas ranjang ku.
"Yume, jangan bercanda yang aneh aneh!"
"Kaito, ini adalah kesempatan terakhirmu untuk mengubah takdir kalian ... tapi ... sepertinya."
"Cih, belum tentu Ai akan mati. Aku yakin itu, walau dia memiliki kekuatan sebesar apapun. Aku tak akan membiarkanya bertarung!" Aku tak ingin kehilangan sesuatu yang berharga lagi di hidup ku ini.
"Teruslah berjuang Kaito, sang pelawan takdir ... sang penentang dewa. Aku akan membantumu sebisaku." Kata kata terakhir Yume sebelum suaranya kembali lenyap.
__ADS_1