
Ting~
Lift itu berbuyi dan pintu di depan kami secara otomatis terbuka. Bau pendingin ruangan, cahaya lampu di langit langit yang sangat terang. Ternyata ini adalah ruangan rahasia mereka.
Terdapat meja besar di tengah ruangan dengan dinding warna putih ini. Beberapa komputer di atas meja tertata rapi di sisi ruangan ini. Dan di dinding terpajang logo organisasi Demon Hunter.
Sekarang aku percaya bahwa ini adalah markas mereka. Dan aku melihat seorang gadis kecil dengan seragam SMP sedang duduk di depan komputer. Rambut kuning yang terurai, bola mata hitamnya yang memantulkan cahaya dari komputer di depan wajah nya itu.
"Silahkan masuk ... sang penyelamat ...", Haru melangkah keluar dari lift dan menyambut ku dengan senyuman ejekan nya.
"Hmm"
Aku melangkah keluar dari lift itu dan pintu nya kembali menutup dengan sendiri nya. Kami berjalan ke arah meja besar yang ada di tengah ruangan itu, ada empat kursi yang mengelilingi meja itu.
"Sini duduk ... biar aku jelasin misi pertama mu di sini!", Haru mempersilahkan ku duduk di salah satu kursi itu.
Karena tak ada pilihan lain, aku hanya duduk manis dan bersiap mendengar ocehan nya. Di saat yang sama lampu ruangan ini mati dan hanya terlihat cahaya yang di pancarkan beberapa layar monitor yang berbaris di sisi ruangan.
Gadis SMP yang berada di depan komputer di sisi ruangan itu berdiri dan melangkah perlahan. Dia berhenti tepat di seberang meja besar yang ada di depan ku ini. Haru menarik satu kursi dan duduk di samping ku.
"Huff ..."
Tiba tiba logo Demon Hunter yang ada di dinding itu bersinar terang. Dan salah satu lampu menyorot ke arah gadis SMP itu.
"Ekhem ... biar aku memperkelakan diri ...", katanya sembari memakai kaca matanya itu.
"Nama ku Sakurako Fumio ... aku kapten dari tim Demon Hunter tiga puluh lima yaitu tim ini", kata katanya sungguh membuat ku terkejut.
Walau dia masih SMP tapi dia bisa menjadi kapten di tim ini. Sepertinya dia adalah Tenshi yang memiliki kemampuan untuk melacak dan mengetahui masalah orang yang mendapat kutukan iblis.
__ADS_1
"Selamat pagi Mio-chan!", tiba tiba Kakume sudah duduk di kursi yang ada di sisi kiri ku.
"Kakume! ... sudah ku bilang untuk tak menggunakan kekuatan mu di sembarang tempat!", bentak Fumio dengan wajahnya yang kejam itu.
"Ohh ... oke oke ...", Kakume pun sepertinya tunduk di hadapan Fumio.
"Sebelum misi hari ini di mulai ... anak baru ... perkenalkan diri mu", kata Fumio dengan tatapan tajam yang terpancar dari kacamatanya itu.
"Nama ku Okino Kaito ...", ucap ku santai dan tetap duduk di tempat ku.
"Kaito ... bagus ... kalau begitu ... sekarang biar aku jelaskan misi kalian bertiga ...",
Pria paruh baya bernama Hitou adalah korban kutukan iblis malam ini. Dia kehilangan istrinya karena kecelakaan pesawat beberapa minggu lalu. Walau Fumio bisa mencari akar masalah orang itu, tapi Fumio sama sekali tak tahu tentang kekuatan orang yang kerasukan iblis itu. Ternyata itu penyebabnya Kakume ingin mengetahui serangan iblis itu dulu di pertarungan malam kemarin.
"Yuriru ... kamu akan bertugas bersama Kaito malam ini ... tempat kejadiannya ada di sekitar kafe pusat kota ..."
Yuriru? Apa maksudnya adalah Haru?
"Weeh ... Mio-chan ... kenapa malah anak baru yang dapet adegan romantis nya seh?", Kakume mengeluh dengan wajah lemas nya.
"Sudah jelas kan ... kamu bertugas untuk mengintai Hitou di tempat kerja nya ...", jelas Fumio dengan tatapan tajamnya pada Kakume.
"Huff ... bosen ..."
"Apa kata mu!!!", Fumio menarik kerah jubah aneh Kakume dan menatapnya dengan wajah seriusnya itu.
"Ampun ... ampun Mio-chan ..."
"Kaito ... Kakume itu sebenernya suka sama Fumio loh ... makanya dia sering banget godain Fumio ...", bisik Haru perlahan.
__ADS_1
"Hoi!! ... sejak kapan aku suka sama loli ganas kaya dia!", ujar Kakume menunjuk ke arah ku dan Haru dengan wajah kesalnya.
"Loli ganas?! ...", Fumio mengepalkan tangan kiri nya dan bersiap menghantamkan nya ke wajah Kakume.
"Mati aku ...",
Bruak!!!
Fumio memukul Kakume sangat keras sampai ia terjatuh dari kursinya. Fumio kembali merapikan posisi kacamata nya. Dan wajah nya itu seakan menganggap kejadian barusan tak pernah ada.
"Kaito ... kami punya harapan besar pada mu ... sebelumnya kami selalu kesulitan ... tapi ... karena ada sang terpilih di tim ini ... kita tak terkalahkan ..."
"Aku mohon jaga Yuriru dan Kakume ...", ekspresi wajahnya itu, sepertinya memang mereka pernah kehilangan seseorang yang berarti.
Kakume, bahkan Fumio menunjukan rasa kehilangan dari tatapan mata mereka. Mungkin sebentar lagi aku akan mengetahui apa yang pernah terjadi pada mereka.
"Sekian ... terima kasih ...", Fumio melepas kacamatanya dan kembali duduk di depan meja komputer yang ada di sisi kanan ruangan ini.
Tak ku sangka bocah SMP bisa memiliki sifat sedewasa itu. Mungkin umurnya sama dengan Hanabi, tapi sikapnya itu sama seperti wanita dewasa.
Ting tung~
Notifikasi pesan masuk dari ponsel yang ada di saku seragam ku.
{Kaito?}
{Kok gak masuk?}
{Kamu sakit ya?}
__ADS_1
{Sakit apa?}
{Pulang nanti boleh aku jenguk gak?}, chat dari Ai yang bingung aku tak hadir di sekolah hari ini.