
"Kaito? ... aku takut ...," Ai menjatuhkan Novelnya dan membalas pelukanku.
"Hmm ... udah ... aku ada di sini kok ...," ucapku sembari terus memeluknya dan menenangkannya.
"Aku tadi bisa mendengarnya ... teriakan pria itu yang minta tolong," kata Ai sembari terus menangis dipelukanku.
Apa pun itu, sepertinya Ai juga memiliki kekuatan spesial sepertiku. Entah kenapa aku merasa nyaman memeluknya seperti ini. Aku seakan tak ingin melepasnya.
"Ai ... ayo ku anter pulang ...," aku menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari tangan kananku.
Aku mengambil novelnya yang terjatuh di atas aspal jalan itu dan mengembalikan novel itu padanya. Saat aku melirik ke arah dimana aku menjatuhkan pisau ku tadi, aku tak terlalu terkejut bila pisau itu sudah lenyap.
Oh iya ... aku lupa membawa ponselku ...
Saat merogoh saku celanaku, tak lku sangka aku menemukan sebuah pulpen. Takku sangka pulpen juga akan berguna di saat saat seperti ini.
'Aku anter pulang'
Aku menulis kata kata itu di telapak tangan kiriku untuk bisa berkomunikasi dengan Ai. Aku pun menunjukan tulisan itu padanya.
"Hmm ...," Ai hanya mengangguk dan memeluk novelnya itu dengan erat.
Aku yakin dia pasti mengalami trauma karena kejadian tadi. Pasti berat bagi seorang gadis sepertinya melihat hal seperti itu. Aku akhirnya mengantarnya agar sampai rumah dengan selamat.
Ai sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun seperti biasa. Dia hanya diam, menunduk, dan memeluk novelnya itu. Aku pun tak tahu harus berkata apa, lagi pula dia juga tak akan bisa mendengarku.
__ADS_1
"Kaito ... ini rumahku," ucapnya lalu menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah.
What? wait?
Aku terkejut ketika melihat tempat tinggal gadis yang ada di sampingku ini. Rumahnya lebih tepat disebut sebuah kastil. Bangunan besar dua lantai seperti kastil kerajaan di eropa itu membuatku terpaku.
Ditambah gerbang tinggi yang ada di depanku sekarang. Pagar besi yang tinggi itu membuatku merasa berada di luar negeri dan berada di jaman kerajaan.
"Sini mampir dulu ...," Ai menggenggam tangan kiriku dan memaksaku mengikutinya.
"Oi ... Aku mau balik aja ...,"
Percuma, dia tak akan mendengarku ...
Ai menekan sebuah tombol yang ada di dinding gerbang rumahnya itu. Dan di saat yang sama pagar besi besarnya itu terbuka dengan sendirinya.
Aku terpaksa mengikuti langkahnya karena dia menggenggam tanganku dengan kuat. Kami berdua pun melangkah masuk dari gerbang. Halaman rumahnya memiliki taman yang cukup indah. Pohon pohon yang ada di pinggir jalan setapak menuju pintu rumahnya ini membuatku merasa berada di dunia lain.
Glek!!!
Ai membuka pintu rumah besar yang terbuat dari kayu dan ada ukiran bunga di pintu itu. Tak kusangka Ai adalah anak orang kaya. Saat masuk ke rumahnya, aku seperti sedang berada di dalam istana yang ada di dunia fantasi.
Ruang tamunya sangat besar. Terdapat karpet merah di atas lantai dan karpet itu mengarah ke meja bundar yang di kelilingi tiga sofa antik yang berwarna hitam.
"Tenang aja ... aku tinggal sendiri di sini," kata-katanya itu malah membuat hatiku tak tenang sama sekali.
__ADS_1
"Aku taruh novelku di kamar dulu ... duduk aja di sofa ... anggep rumah sendiri," ucapnya lalu melangkah menaiki tangga yang lebar dan indah itu.
Rumah sendiri apanya?
Ini namanya istana payah ...
Seperti yang ia minta, aku hanya duduk di sofa antik ruang tamunya ini dan menunggunya untuk turun dari kamarnya. Dekorasi rumahnya sangat memberi kesan kuno dan elegan. Vas bunga yang ada di samping pintu, lukisan lukisan aneh yang di pajang di dinding. Aku tak tahu lagi harus berkata apa untuk memuji tempat tinggal gadis tuli itu.
Setelah beberapa lama menunggunya, rasa khawatir mulai tumbuh di hatiku. Sudah lima belas menit dia tak kunjung turun dan menemuiku. Langit mulai berubah menjadi gelap. Kalau begini terus, Hanabi pasti menungguku dirumah.
"Ai?"
Aku memutuskan untuk ikut naik ke lantai dua rumah mewahnya ini. Saat sampai di ujung tangga. Yang kulihat hanya sebuah koridor dengan banyak pintu ruangan di sisi kanan dan kirinya.
Bruak!!!
Aku mendengar suara dari salah satu ruangan yang membuat rasa khawatir makin menusuk hatiku. Aku langsung berlari ke depan pintu ruangan itu.
Tok tok tok~
"Ai!! ... kamu di dalem kah?"
Sial ... aku lupa dia gak bisa denger aku!
Aku pun membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ai!!!"
Aku terpaku saat melihat Ai tergeletak di lantai dengan darah yang sudah menggenang di sekitar kepalanya.