
Pagi hari yang cerah, udara yang tak panas dan tak juga dingin. Langit biru yang menjadi tempat awan awan berenang kesana kemari. Sang surya yang bersinar terang tanpa mempedulikan apa pun. Embun pagi yang masih menempel di dedaunan dan rerumputan.
Pagi ini, aku berjalan di samping gadis tuli itu lagi. Pagi ini penuh dengan kejutan yang sama sekali tak terpikirkan oleh ku. Pagi ini dia tak lagi memancarkan senyuman tipis di wajahnya. Ia hanya diam dan memperhatikan langkah kakinya sendiri.
Mungkin dia masih terpukul karena dua kejadian tadi pagi. Entah saat kami berciuman atau saat kekuatannya mulai muncul kembali. Tapi saat aku pikir pikir kembali, kata kata Hanabi ada benarnya. Saat ciuman itu segel kekuatan Ai terbuka kembali. Aku semakin yakin setelah mendengar kata kata Yume tadi pagi.
"Ai? kamu gak kenapa napa kan?" Aku tetap fokus memperhatikan kemana aku akan melangkah.
"Eh? enggak kok."
"Yakin nih?" Aku kembali mengulangi pertanyaan ku hanya sekedar untuk memastikan.
"Hemm ... iya," senyuman manisnya itu kembali menusuk mata ku pagi ini. Aku senang karena senyuman itu sudah kembali tumbuh.
"Huwahh!!!" Kedua matanya langsung berbinar ketika melihat barisan pohon bunga sakura yang ada di pinggir jalan yang biasa kami lewati untuk menuju ke sekolah.
"Apa kamu suka bunga sakura?"
"Hmmp ... mereka cantik kan?" Ai mengangguk penuh kebahagiaan.
"Ohh ... Hmm," seandainya dia tau senyumannya itu jauh lebih cantik dari pada bunga sakura yang berjatuhan ke jalanan.
"Ai, apa kamu mau bolos sekolah?" Entah kenapa aku punya satu keinginan yang mendadak keluar dari dalam hatiku.
"Bolos? ... bukanya itu gak baik ya?" Ai mengernyit dan memiringkan kepalanya.
"Enggak kalo cuma sekali."
"Emangnya ada apa?" Lanjutnya bertanya.
Hoi seriuskah?! apa aku beneran akan mengucapkannya?!
"Mau pergi ke pusat kota bareng gak?" Aku sadar tapi aku tak bisa mengendalikan mulutku sendiri saat ini.
"Ha? emangnya ada apa?"
"Kencan yuk?" Ajakku tanpa menatap matanya sama sekali.
"Ha?! He?! Apa?!" Ai memalingkan wajahnya yang mulai memerah itu.
__ADS_1
"Etto ... kalo kamu gak mau gak apa apa sih." Aku malah malu sendiri karena terlanjur mengucapkan hal aneh itu.
"Ano ... aku itu gak pernah kencan loh ... punya pacar aja gak pernah." Ai hanya tertunduk malu ketika mengatakannya.
"Jadi, apa kamu mau?" Hatiku berdebar kencang menunggu jawaban darinya.
"Hmm," Ai mengangguk perlahan dan membuatku terkejut.
"Be-beneran nih?"
"Ta-tapi, apa kita pacaran sekarang?" Pertanyaan yang tak bisa kujawab sekarang.
"Ohh ... kalau soal itu, aku tak mau pacaran dengan siapapun sekarang ..."
"Sebenernya, aku juga gak pernah punya pacar. Aku cuma ingin pergi denganmu sekali ini aja."
Hoi hoi hoi!!!
Mulutku mulai lepas kendali sekarang aku dikendalikan oleh hatiku sendiri. Tunggu, aku tidak mau melakukan ini. Tapi, percuma saja. Ini sudah terjadi, sekarang aku hanya harus bertanggung jawab karena mulutku tadi.
"Ya udah, ayo!" Aku menggenggam tangan kanan Ai dan kami pun melangkah menuju stasiun yang ada tepat di depan seberang sekolah.
Ai hanya diam dengan sedikit rona merah di pipinya itu. Kereta pun melaju dan mambawa seluruh penumpang di dalamnya menuju ke stasiun pusat kota. Sudah lama aku tak ke kota Natsu. Dan sekarang aku malah berkencan dengan gadis tuli yang hanya bisa mendengar suaraku saja.
Belasan menit kami berdiri di dlm gerbang. Akhirnya kereta ini menghentikan lajunya dan pintu gerbong secara otomatis terbuka. Aku terus menggandeng Ai dan membawanya keluar dari stasiun pusat kota.
Keramaian yang ku benci mulai terdengar. Orang orang yang sok sibuk itu lalu lalang di trotoar jalanan seperti semut yang melihat sebutir gula pasir terjatuh di meja makan. Aku tidak tahu harus kemana, lagi pula aku juga tak merencanakan hal ini.
Kemana ya enaknya?
"Ne, Ai kamu lagi pengen makan apa?" Tanyaku sembari terus berpikir untuk membawa Ai kemana setelah ini.
"Ohh, perpustakaan kota kali ya?"
Weh?! kok gak nyambung?!
"Ya udah, ayo ke sana." Aku langsung menarik tangan Ai menuju tempat yang ia inginkan.
Kami pun masuk ke gedung dua lantai yang besar itu. Aroma pendingin udara dan kertas kertas tua. Suara gesekan kertas, kesunyian yang mambuatku nyaman. Rak rak buku besar yang berbaris rapi. Karpet merah yang ada di sepanjang pintu masuk sampai tangga menuju ke lantai dua.
__ADS_1
"Tapi, Kaito ... apa kamu yakin?, ini kan kencan." Tanya Ai dengan rona merah di pipinya yang tak kunjung hilang.
"Kalau ini adalah permintaanmu, aku akan mengabulkan semuanya."
"Beneran?! wahh!! ayo kita ke lantai dua!" Sekarang malah Ai yang menarik tangan ku dan memaksaku mengikuti langkahnya.
Lantai dua adalah tempat novel dan komik komik remaja di pajang. Tak heran jikalau Ai mengajakku ke sini. Apa lagi Ai itu sangat menyukai Novel. Entah kenapa aku tak bisa lepas dari senyuman indah di wajahnya itu.
Apa aku benar benar jatuh cinta?
Setelah memilih novel yang ingin kami baca. Kami duduk di kursi panjang yang ada di sisi ruangan ini. Di depan kursi itu juga terdapat meja panjang yang terbuat dari kayu. Entah kenapa aku merasa pernah mengalami hal ini sebelumnya. Aku seperti pernah datang ke sini bersama seseorang. Padahal aku selalu sendirian jika kesini sebelumnya.
Ai kembali memfokuskan pandangannya ke novel yang ada di tanganya. Bola mata ungu yang berbinar, senyum tipis di bibir merah meronanya itu. Aku benar benar tak bisa melepaskan pandanganku padanya.
"Ne ... Kaito? kenapa lihatin aku?"
Sial!!! ketahuan!!!
"Ohh ... cuma mau minta maaf aja soal tadi pagi." Aku mencari cari alasan supaya tak terlihat aneh di depannya.
"Soal yang mana?"
"Ano ... ciuman itu," aku sedikit gugup karena kembali mengingat kejadian tadi pagi.
"Oh, eh?! hmm ...," Ai terperanjat dan langsung memalingkan wajahnya dari ku.
Aku pun mengalihkan perhatian ku ke novel yang ada di tanganku. Aku berpura pura membacanya dan berusaha tetap terlihat tenang di depannya.
"Lagi pula aku menyukaimu ..."
Eh? itu tadi suara siapa?
Aku merasa tadi ada yang bergumam seperti itu. Apa itu Ai?!
Mana mungkin?!
Hoi!!! jangan terlalu berharap!!
Pasti salah denger!
__ADS_1
Lagi pula disini kan rame.