Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 191 Kemunculan Queen!


__ADS_3

-------------


Queen adalah kode nama yang diberikan Arin kepada seorang gadis yang akan muncul sebentar lagi. Arin berkata bahwa gadis terpilih tak selamanya berpihak pada dunia. Ai, intinya gadis berbahaya itu adalah si tuli itu. Si tuli itu mempunyai kemampuan dimana ia bisa memanggil dirinya dari kehidupan yang lain.


Terbukti dengan adanya Ema dan si pirang yang menyembunyikan suaranya itu. Sekarang di dalam dirinya sudah bersemayam jiwa Kanashi Munmei. Reingkarnasi yang merupakan mimpi buruk bagi dunia. Dia adalah gadis yang bisa membawa petaka bila muncul sekarang ini.


"Hikaru ... apa mereka baik baik saja?" Suara Tomoya yang keluar dari speaker ponsel Hikaru.


"Untuk sekarang iya, huff ... entah apa yang akan terjadi pada adikku yang satu itu." Hikaru bersandar di dinding samping jedela kamar Kaito ini.


"Kalian ada di mana?" Tanya Tomoya memastikan posisi mereka.


"Ahh, kami ada di rumahmu, katanya Hanabi mau mengambil sesuatu." Hikaru memandang keluar jendela yang terbuka lebar itu.


"Jaga adikku, jangan lupa jaga adikmu juga ya ...," ucapan terakhir Tomoya lalu sambungan telepon mereka terputus.


"Hmm, kalau itu sih ... tanpa kau perintah aku tau payah!" Gumam Hikaru memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


"Pakaian Kaito ternyata ga jelek juga." Hikaru meminjam celana panjang warna hitam milik Kaito. Ia juga memakai jaket merah yang tak pernah Kaito kenakan. Sekarang ini Hikaru berada di dalam kamar Kaito, Hanabi meminta Hikaru untuk mengganti zirahnya dengan pakaian kakaknya. Tentu saja memakai zirah untuk jalan-jalan bukan ide yang bagus.


"Kak Hikaru? Apa sudah selesai?" Hanabi membuka pintu kamar Kaito.


"Oohh, udah ... ternyata pakaian kakakmu pas!" Kata Hikaru dengan senyuman ramahnya.


"Waahh ... untung ya!" Hanabi juga melempar senyum kegembiraannya seperti biasa.


Duar!!!


Di saat yang sama terjadi suara ledakan kecil dan guncangan di dalam rumah ini.


"Apa itu?!" Hikaru menggenggam tangan Hanabi dan membawanya melompat keluar dari jendela kamar Kaito.


Boommm!!!!


Benar saja, insting Hikaru mengatakan rumah Kaito akan segera meledak. Maka dari itu ia membawa Hanabi keluar dari bahaya yang bisa saja mengancam nyawanya.


"Apa yang terjadi!?" Hikaru tetap melayang di udara sembari menggendong Hanabi di punggungnya. Hikaru tak bisa melihat apa apa selain kepulan asap hitam yang menyelimuti reruntuhan rumah Kaito itu.


"Kak Saika!" Hanabi mengarahkan jari telunjuknya kepada Saika yang berlari keluar dari reruntuhan.


"Saika!? Apa yang ...," Sebelum menyelesaikan kata katanya, Hikaru dibuat terbelalak dengan satu orang lagi yang keluar dari kepulan asap itu.

__ADS_1


"Ai?!"


"Kakak! Bawa Hanabi pergi! Aku akan menahan Kak Ai di sini!" Seru Saika diiringi cahaya terang menyelimuti tubuhnya. Dan dalam kurun waktu kurang dari lima detik, Saika sudah siap dengan zirah hitam, juga dengan perisai yang melekat di lengan kanannya.


"Saika?! Apa yang terjadi?!" Hikaru mendarat di belakang adik bungsunya itu.


"Aku ga tau! Wajah kak Ai tiba tiba berubah!" Jawab Saika panik.


"Yuuta dimana?! Dimana Yuuta?!" Ai menghentikan gerakanya dan dua bersaudara itu saling berhadapan satu sama lain.


Di saat para masyarakat yang tak tahu apa apa berlari berhamburan keluar dari rumahnya untuk melakukan evakuasi. Akhirnya, Queen yang Arin maksud keluar dari persembunyiannya.


"Kak Ai kenapa? Nee!? Kenapa dia nyerang kak Saika?!" Hanabi pun mulai panik.


"Kakak! Bawa Hanabi ke bunker! Biar aku yang tahan kak Ai!" Saika bersiap dengan perisai tak tertembus miliknya.


"Saika! Kamu ga akan ...,"


"Ini adalah urusanku kak!!" Saika menyela kata kata Hikaru dengan wajah seriusnya. Tatapan tajamnya itu tak pernah ia tunjukan pada siapa pun.


"Hmm, baiklah! Jangan paksakan dirimu!" Hikaru berbalik lalu berlari pergi bersama Hanabi yang ada di punggungnya.


"Nee, Kak Hikaru, kenapa kita ninggalin mereka!? Aku bisa bertarung!?" Teriak Hanabi yang berusaha menghentikan Hikaru yang terus berlari menjauh.


"Tapi!"


"Sekarang ini, tak ada yang bisa menghentikannya kecuali kakakmu!" Teriak Hikaru.


"Kalau gitu!? Kenapa kita ninggalin Kak Saika sendirian?!" Hati murni Hanabi itu terus meronta ingin melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini.


"Aku yakin ada yang menolongnya!"


Sementara itu kita kembali kepada dua kakak beradik yang sedang berhadapan di tengah jalanan pemukiman yang sunyi dan sepi ini. Wajah Ai benar benar sudah berubah. Rambutnya menjadi sedikit lebih pendek dan waranya seperti bola matanya sendiri. Ya, rambutnya berubah menjadi warna ungu. Tak sampai di situ saja, Ai menyunggingkan senyuman kejam yang tentu itu bukan berasal dari dirinya sendiri.


"Kak Ai?! Sadarlah! Aku Sa ...,"


"Diamlah dasar murahan!" Ucapan kasar itu meluncur lalu menusuk hati Saika.


"Karenamu! Yuuta ... bukan! Kaito tidak mencintaiku lagi!" Tentu saja serangan mulut Ai tepat mengenai hati lembut dan rapuh milik Saika.


"I-itu ... aku ...," Mata Saika terbuka lebar dan seluruh tubuhnya membeku tak bisa berbuat apa apa lagi.

__ADS_1


"Hmm? Kenapa? Adikku tersayang?" Senyuman jahat yang terpancar di mukanya. Ai melangkah perlahan melangkah maju menghampiri adiknya itu.


"Ini bukanlah kisahmu! Kaito adalah milikku! Kamu hanyalah serangga penggangu! Beraninya kamu menyentuh Kaito!" Ai mengangkat dagu Saika dan mata mereka saling bertemu satu sama lain.


"Hentikan!!" Saika melompat mundur kebelakang untuk menjauhkan dirinya dari Ai.


"Hahahahaha! Enyahlah dasar murahan!" Ai mengarahkan telapak tanganya pada Saika.


"Kakak! Hentikan!!!" Tentu saja Saika berusaha melindungi dirinya dengan perisai hitamnya itu.


"Mainan murahan! Sama sepertimu yang murahan!" Serangan kata kata Ai selalu tepat mengenai Hati rapuh Saika.


Tapi ternyata pertahanan Saika tertembus dengan sangat mudah. Tanpa bergerak sedikitpun Ai berhasil menggores lengan kiri Saika.


"A-apa?!" Saika hanya bisa bertanya tanya menyadari darah segar yang mengalir di bahunya itu.


"Oi dasar adik murahan, kau pikir perisaimu tak tertembus? Sialan kau!" Teriakan Ai sembari melangkah maju perlahan.


Jrak!!


Satu langkah, Saika merasakan rasa sakit yang luar biasa di pergelangan kakinya.


"Kakak! Hentikan!" Teriak Saika yang sudah berlutut karena pergelangan kakinya sudah tergores dalam. Serangan tak terlihat Ai membuat Saika sama sekali tak berkutik.


"Hmm? Aku sudah muak denganmu!" Ai semakin dekat dengan adik kandungnya itu.


Dua langkah, lengan kanan Saika seketika terpotong dan jatuh ke atas aspal jalan. Saika berteriak kesakitan walau itu adalah lengan buatan. Percikan api disertai listrik keluar dari bahu Saika.


"Kakak!! Hentikan!!! Aku mohon!!" Pekik Saika tak berdaya.


"Ini semua salahmu!" Ai berhenti tepat di hadapan Saika yang berlutut dan tak bisa bergerak itu.


"Sampah tak berguna!"


Crat!!!


Ai menusukan sebilah pedang yang entah datang dari mana. Bilah tajam itu menembus perut Saika. Walau ia sudah memakai zirah, tapi tajamnya pedang itu tetap bisa menembusnya.


"Kakak? Bukankah kita adalah satu orang yang sama?" Tanya Saika dengan mulut yang sudah memuntahkan darah merah nan kental itu.


"Hmm? Maka dari itu kamu harus mati kan? Adikku terkasih?" Ai mengangkat dagu Saika dengan jari telunjuknya itu. Dengan seringai senyuman jahatnya, Ai hendak menghunuskan satu lagi pedang ke arah kepala Saika.

__ADS_1


"Soal itu! Biarkan Kaito yang memutuskan siapa yang harus mati!" Suara seorang pria membuat Ai tersentak lalu berbalik mencari sumber suara itu.


__ADS_2