
"Waah!!! Ada kak Takumi dateng!"
Entah kenapa minggu pagi ini aku mengajak calon pembunuhku ke rumahku sendiri. Hanabi yang duduk di sofa keluarga langsung berdiri dan menghampiri kami berdua yang berdiri di depan pintu. Ya, sudahlah, aku yakin Takumi sebenarnya adalah orang yang baik. Dia hanya ingin mengingat adiknya yang sudah meninggalkannya sejak lama.
"Selamat pagi Hanabi!" Ujar Takumi dengan senyum yang tak pernahku lihat. Senyumannya itu sangat berbeda ketika bertemu dengan Hanabi.
"Hanabi, Ai kemana?" Tanyaku ketika tak melihat batang hidung si tuli itu.
"Ada kok di kamar, ayo masuk dulu kak Takumi!" Hanabi menarik tangan Takumi dan menyeretnya masuk ke rumah. Aku tak menyangka Hanabi lebih memilih menarik tangan Takumi dari pada tanganku. Hmm, sudahlah, biarkan mereka bersenang senang.
Aku melangkah masuk dan menuju ke depan pintu kamar Hanabi. Aku berhenti ketika mendengar suara aneh di dalam kamar. Aku mendengar seperti suara hentakan kaki ke lantai. Bukan, saat aku membuka pintu kamar sedikit saja. Aku bisa mengintip apa yang sedang Ai lakukan dari celah pintu yang sempit ini. Dia sedang menyanyi dan menari layaknya idol yang kulihat di televisi. Aku terbelalak dibuatnya, aku tak menyangka si tuli itu bisa menyanyi dan menari padahal dia saja tak bisa mendengar lagu.
"Step by step, lets us walk together~"
"Kita akan berlari bersama menembus takdir~"
"Jika memang itu tak bisa terwujud~"
"Aku tetap tak akan melepaskan tanganmu~"
"Kita akan bertarung sampai the last page~"
"Walau buku cerita takdir sudah berkata kita berakhir~"
"Aku yakin kita masih bisa merasakan kebahagiaan~"
"Berharap bisa menerima keajaiban dari sang peri~"
"Aku akan mempertahankan mimpi ini di tengah kegelapan yang menyelimutiku~" Ai berhenti menggerakkan tubuhnya ketika melihat ku mengintip dari celah pintu. Wajahnya itu berubah menjadi sangat merah karena malu melihatku.
"Kyaaaa!!!" Ai melompat ke ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut Hanabi.
"Ano," aku membuka pintu kamar perlahan dan malah gugup setelah melihat reaksinya tadi. Ai tak bergerak dan terus menutupi seluruh badannya menggunakan selimut dan duduk bersandar di tembok.
"Etto, apa kamu gak apa apa?" Tanyaku mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Hmm," Aku bisa melihat kepalanya mengangguk dari selimut yang menutupinya.
"Ai ...," aku termakan rasa gugup dan tak tahu harus berkata apa.
"Aku bi-bisa jelaskan! Tadi bukan seperti yang kamu pikir!" Teriak Ai dari dalam selimut merah muda yang digunakannya untuk berlindung dari tatapanku.
"Oohh," keadaan malah jadi semakin canggung. Sejujurnya dia terlihat lebih cantik saat menari dan melompat dengan senyum di wajahnya itu. Tak ku sangka si tuli itu memiliki bakat terpendam.
"Ngomong ngomong, apa kamu sudah sarapan?" Ai membuka selimut yang menutupi wajah dengan sedikit rona merahnya itu.
"Hmm, udah kok, ya udah kalo gitu aku keluar dulu ya?" Aku yang tak tahu harus berbuat apa pun membalik badanku untuk segera melarikan diri dari suasana yang tak mengenakan ini.
"Tu-tunggu!" Ai menahan tangan kananku dan membuatku menghentikan langkah.
"Ke-kenapa?" Aku menoleh gugup.
"Ma-mau denger ceritaku bentar gak?" Pintanya tanpa menatap ku sedikit pun. Rona merah di pipinya juga belum menghilang.
"Ohh, ya udah," aku berusaha melawan rasa gugupku dan duduk di pinggiran ranjang kamar Hanabi.
"Dan, dia sering bilang ...,"
"Kakak aku cemburu loh." Jelasnya dengan kepala yang tertunduk.
Mungkin perlahan lahan dia akan mengingat bahwa itu adalah Ame. Adik dari kehidupannya yang lalu. Dan perkataannya itu pasti berasal dari hati Ame yang paling dalam. Melihatku mencintai kakaknya sendiri pasti sedikit menggores hatinya. Dan apa lagi sekarang dia hidup dan ada di dekatku. Cinta segitiga di kehidupan ketigaku. Mungkin itu judul novel yang pas untuk hidupku sekarang ini. Kami perlahan mengingat potongan potongan kenangan di masa lalu kami. Dan mungkin perlahan takdir akan kembali memisahkan kami.
"Hmm, gitu ya? ... perlahan pasti kamu akan ingat semuanya." Kata lku menanggapi curhatannya itu.
"Dan ngomong ngomong, kenapa kamu bisa nyanyi?" Aku sedikit menahan tawaku untuk mengubah suasana.
"Dasar Kaitolol!" Ai memukul pundakku perlahan tanpa melirik kepada ku sedikit pun.
"Dan juga, suara mu bagus tau."
"Tarianmu apa lagi hehe ...," aku terkekeh karena tak bisa menahan tawaku melihat wajah Ai yang semakin merah.
__ADS_1
"Baka! Honto ni Baka!!!" Umpatnya lalu berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya rapat rapat.
Aku terkejut saat mendengarnya menggunakan bahasa jepang. Dia bilang aku bodoh, ya sudahlah. Tak biasanya dia begitu. Apa mungkin memang efek idol yang disukai Hanabi ya?
Cih, walau aku tak suka idol Jpop tapi tetap saja aku suka bila Ai yang menyanyikan lagu mereka.
"Aaaahhh!!!" Teriakan Ai dari dalam kamar mandi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari dan masuk ke kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi di dalam.
"Ai?! Ada apa?!" Tanyaku setelah membuka pintu lebar lebar.
"Ka-Kaito i-ini!" Ai terpaku melihat wastafel di kamar mandi Hanabi yang sudah berubah menjadi batu kristal.
"Tunggu, kok bisa?" Aku mendekat perlahan dan terheran heran.
"Ada apa Kaito?" Tanya Takumi mengintip dari pintu kamar mandi bersama Hanabi. Mereka berdua menyipitkan mata dan seakan menduga aku dan Ai sedang berbuat yang aneh aneh.
"Hoi jangan salah paham dulu mesum!" Ujar ku dengan wajah datar.
"Whuah, siapa yang ganti wastafel jadi cantik gini?" Hanabi berlari masuk dan meraba raba wastafel yang terbuat dari kristal putih bersinar itu.
"Kaito, itu kekuatannya kan?" Takumi menepuk pundakku.
"Hmm," aku hanya mengangguk karena sudah tahu akan kekuatan tersembunyi Ai.
"Apa tak sebaiknya kamu membawanya ke markas? Siapa tahu Fumio bisa membantu." Saran Takumi.
"Tapi, aku tak ingin membuatnya terlibat dalam urusan itu."
"Aku tak menyuruhmu membuat dia bertarung, gimana kalo Hanabi tiba tiba jadi kristal?" Hal yang sama sekali tak terlintas di pikiranku.
"Hmm, kapan kapan lah, aku mau tanya Fumio dulu." Aku harus mempertimbangkan semua perbuatan ku untuk menghindari kesalahan fatal yang membuat takdir kembali menang.
"Kaito, semoga kau berhasil." Takumi kembali menepuk pundak ku dan keluar dari kamar mandi.
"Hanabi, aku tunggu di depan TV ya?" Seru Takumi yang sudah keluar dari kamar Hanabi.
__ADS_1