
"Saika!!!"
Duar!!!
Si mesum itu melempar sekelompok Akame menggunakan perisainya. Darah hitam mulai menyebar kesegala arah saat tameng baja itu membelah kelima tubuh Akame itu sekaligus. Piringan hitam baja itu menancap di tanah menunggu pemiliknya menghampiri.
Ya, hari ini kami berdua bertugas di wilayah Chizu untuk memukul mundur para Akame yang sedang mencoba menerobos Bunker Natsu. Setelah kemunculan Devil King, para Akame semakin agresif dan memusatkan serangannya ke Bunker. Maka dari itu, para Tenshi dan juga para Detroit bekerja sama untuk membasmi mereka semua.
Hanya ada kami berdua yang berdiri di tengah tanah lapang luas ini. Beberapa Akame berjalan santai menuju ke arah Bunker, beberapa di antaranya memusatkan perhatianya pada kami.
"Senpai, mereka tak ada habisnya!" Ujar Saika sembari mengambil perisainya yang menancap di tanah.
Setelah menebas beberapa kepala Akame, aku melompat ke belakang dan mendarat tepat di samping Saika. Kami saling membelakangi dan melihat ke arah yang berlawanan. Ini lebih efektif untuk menghindari serangan mendadak dari belakang. Dengan Kensetsu yang aku genggam kuat ini, dan menggunakan perisai Saika yang tak tertembus. Kami berdua adalah kombinasi paling cocok sedunia.
Sudah berjam-jam kami berdiri di wilayah Chizu untuk membasmi para Akame. Tenggorokanku sedikit kering, tapi aku tidak mempedulikan itu. Saika baru beberapa hari sembuh dari demamnya. Dia lah yang membuatku khawatir.
Oh iya, aku mengenakan zirah berteknologi tinggi keluaran terbaru milik organisasi Fate Protector. Zirah ini tercipta karena ilmuan Demon Hunter dan Enjeruhanta bekerja sama. Baju baja ini bernama T-Protector mark 1, singkatan dari Tenshi Protector tentunya.
Baja tipis nan ringan ini dibentuk sedemikian rupa agar pas untuk aku kenakan. Sekujur tubuhku terlindungi baju baja berwarna silver. Kemampuan fisikku meningkat tajam setelah memakai zirah ini. Aku yakin semua ini adalah usul dari Arin, selain aku dan Saika. Ia pasti juga tahu aku akan segera mati bila berlebihan menggunakan sihirku. Maka dari itu ia memberikan Kensetsu dan baju baja ini.
Graaaarrrkk!!
Erangan Akame yang hendak menyerang kami. Aku dibuat terkejut karena Akame itu terbang menggunakan sepasang sayap. Sayap yang mirip seperti kelelawar menempel di punggungnya.
"Apa apaan itu?!" Saika terpaku bingung.
Apa pun itu, dia bukan pertanda baik!
"Teknik Api: bulan sabit!"
Aku mengangkat pedangku ke atas, secara otomatis bilah katana ini dilalap kobaran api. Pada saat yang tepat aku mengayunkan pedangku ini. Kobaran api berbentuk bulan sabit hasil dari ayunan pedangku itu meluncur. Dan akhirnya Akame yang bertabrakan dengan api itu terbakar tak tersisa.
"Saika, apa kamu sudah lelah?" Tanyaku memastikan bahwa ia masih kuat melanjutkan pertarungan ini.
"Ma-masih Senpai!" Jawabnya penuh percaya diri.
Tapi saat melihat keringat bercucuran di pelipisnya. Aku yakin dia sudah lelah, lagi pula tidak ada gunanya memaksakan diri.
"Ya sudah, kita kembali ke Bunker." Kataku sembari mengaktifkan T-Phone yang aku pakai di telinga kananku ini.
__ADS_1
"Pusat, kami akan mundur!" Aku memberi tanda ke pusat pengendali misi ini yaitu Fumio.
"Kaito! Energi sihir yang kuat mendekatke arahmu!" Peringatan dari Fumio diiringi ledakan kecil tepat di depan kami.
Itu bukan ledakan, ada seseorang yang keluar dari tanah. Sama seperti Devil King, ia mengenakan zirah emas lengkap dengan pedang di pinggangnya. Tubuhnya memang tubuh manusia, tapi aku bingung ketika melihat kepalanya. Kepala makhluk itu sama seperti serigala. Lengkap dengan taring, mata bersinar terang, dan daun telinga yang menjulang ke atas.
"Kaito .... A-u ... Dia ... Mu-ndur."
Di waktu yang sama suara Fumio terdengar putus putus, seperti ada sesuatu yang menghalangi sinyal komunikasi kami.
"Senpai!" Dengan sigap Saika berdiri di depanku dan siap dengan perisainya.
"Ohh, jadi kau yang bernama Saika, ikutlah denganku ke underworld!" Suara dari manusia berkepala serigala itu. Suaranya mirip seperti kakek kakek yang sangat tua.
"Siapa kau!?" Sergahku seraya berdiri di samping Saika.
"Anubis, salah satu penguasa di Underworld." Jawaban yang sangat tidak aku harapkan.
Jika dia salah satu penguasa neraka, maka dia pasti sangat kuat. Bisa jadi kemampuannya setara dengan Devil King. Jika kondisiku seperti ini, ditambah kami sudah lelah bertempur beberapa jam. Bisa dipastikan mustahil untuk mengalahkannya. Gawat, sambungan komunikasi kami dengan markas pusat benar benar terputus. Aku pun tak bisa meminta bantuan siapa pun.
"Saika, kamu bisa terbang kan?" Bisikku perlahan mendekat ke telinganya.
"Bisa, jangan bilang Senpai?!" Saika langsung sadar bahwa aku memintanya kabur dari sini.
"Tapi ...,"
Aku yakin dia pasti tidak mau meninggalkanku. Dan aku sudah menyiapkan satu cara jitu.
"Saika, ini demi kakakmu!" Satu kata yang aku harapkan untuk bisa membuatnya menuruti perkataanku.
"Senpai, hati hati!" Dengan berat hati Saika melangkah mundur dan mengaktifkan sayap di punggungnya.
"Jangan harap bisa kabur!" Anubis menarik pedang dari pinggangnya itu lalu melesat cepat ke aeah Saika.
"Jangan sentuh adik kelasku!!!" Teriakku membakar semangat.
Trank!!!
Kedua bilah pedang besi kami beradu menghasilkan percikan api yang menyebar ke segala penjuru. Saika langsung terbang dengan kecepatan penuh menuju ke Bunker Natsu.
__ADS_1
"Okino Kaito, si lemah yang berusaha melindungi hartanya!" Anubis menarik kembali pedangnya untuk memecah pertahananku. Ia berlanjut mengayunkan kaki kanannya. Tapi untung saja aku bisa menghindari serangannya itu dengan melompat ke belakang.
Cih ... aku pasti bisa mengalahkannya!
Setelah membulatkan tekad, aku maju untuk menebaskan Katana ini kepadanya. Aku terus berusaha mengayunkan pedangku ini secepat mungkin. Walau aku sudah menyerangnya dengan kecepatan penuh. Anubis masih bisa menangkis semua serangan yang aku lancarkan.
"Aaaaa!!!"
Prak!! Bwush!!
Tiba saatnya pertahananku melemah. Ia menepis seranganku hingga aku tak bisa mengayunkan pedangku lagi. Dan si Anubis itu membalas semua seranganku tadi dengan hanya satu tebasan pedangnya.
Sial!
Aku terpukul mundur kebelakang, dan saat aku melihat ke arah dadaku. Retakan besar terukir di baju bajaku ini. Tanpa benda ini, mungkin aku sudah mati. Serangannya sangatlah kuat. Hampir setara dengan kemampuan Devil King.
Walau aku kalah, setidaknya aku bisa menahannya lebih lama!
"Anubis! Kenapa kau muncul ke dunia ini?!" Tanyaku mengacungkan pedangku padanya.
"Perintah dari ratu Kurai," satu kata jawaban yang sudah aku duga.
Kurai pasti punya kemampuan yang berasal dari Underworld. Karena itu, gerbang neraka ada dalam kendalinya sekarang ini. Para Tenshi tak bisa menyegelnya. Bahkan kekuatan peninggalan ayah yang diambil Kak Tomoya itu tak bisa menyegel Jigoku Gate lagi.
"Jangan menghalangiku!"
Ucapan itu keluar saat Anubis tiba tiba berada di belakangku. Dengan santainya ia meninjuku dengan tangan kirinya. Badan ringanku ini terpental jauh kedepan. Walau aku memakai pakaian pelindung ini, rasa sakitnya tetap saja tembus sampai ke dalam. Tulangku rasanya remuk saat berguling guling di tanah.
Aku sekarang berada di kondisi terlemahku. Aku tidak bisa memaksimalkan kemampuanku saat ini. Hanya bisa tergeletak di tanah, aku merasa tidak berguna.
Sekarang ini aku hanya bisa mendengar langkah kaki Anubis itu semakin dekat. Ia berdiri tegak di sampingku yang sedang terbaring tak berdaya ini.
"Lemah, aku berani bertaruh kau tak bisa merubah takdir dari ceritamu sendiri!"
Jrak!!
Tanpa rasa kemanusiaan, Anubis menusukan pedangnya ke perutku. Sia sia saja, baja ini tak bisa menahan tajamnya pedang Anubis. Bilah pedangnya ini menembus perutku sampai menancap ke tanah.
"Kalau begitu, sampai jumpa lain kali." Ujarnya pamit lalu tubuhnya berubah jadi butiran pasir yang menghujaniku.
__ADS_1
"Hnm ... aku memang lemah ...,"
Gumamku sembari memandang ke langit biru yang indah. Para awan masih berenang kesana kemari tanpa menghiraukan keadaan dibawahnya. Aku benar benar ingin menjadi seperti mereka suatu saat nanti.