
Di dalam sebuah bangunan tua yang terbuat dari kayu. Bangunan itu terletak di tengah tengah padang rumput yang membelah hutan yang penuh dengan pepohonan besar. Bangunan itu hanya berukuran sepuluh kali delapan meter saja.
Sepertinya dulu bangunan ini pernah di gunakan untuk tempat tinggal. Karena di dalamnya terdapat kasur dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Di tengah ruangan terdapan meja makan dengan empat kursi yang mengelilinginya.
Di sisi ruangan terdapat sofa yang sudah usang. Jendela yang ada di samping pintu depan itu masih memiliki tirai walau sudah penuh dengan lubang. Okino duduk dan bersandar di pintu depan rumah itu untuk berjaga.
Erick duduk di sofa yang ada di sisi ruangan untuk beristirahat. Ema dan Vio duduk di lantai yang masih terbuat dari kayu itu tepat di depan Okino yang sedang duduk dan memeluk senapanya.
"Dengan ini ... kita tinggal melakukannya sekali lagi ...," ujar Okino.
Keadaan menjadi sunyi dan tak ada seorang pun yang mengatakan sesuatu. Vio menundukkan kepalanya dan membuat Okino cemas.
"Kenapa Vio?" Tanya Okino.
"Granat asapku habis," jawabnya berat hati.
"Hmm ... kalo gitu ... kita tunggu malam tiba," ucap Okino sembari berpikir keras.
"Kalo gitu kita istirahat dulu di sini ... huff ...," ujar Erick seraya menghela nafasnya dan membaringkan dirinya di sofa panjang yang usang itu.
"Berhubung kita tak punya persediaan makanan lagi ... lebih baik kita tidur saja," Okino kembali menyandarkan kepalanya ke pintu dan memejamkan matanya.
"Ema ... ayo ku gandeng ke kasur ...," ucap Vio yang sudah berdiri sembari mengulurkan tangannya.
Ema adalah gadis yang kehilangan pengelihatannya sejak umur lima tahun karena kecelakaan. Walau begitu Ema memiliki talenta spesial dan bisa bertarung hanya menggunakan pendengaran dan penciumannya saja.
"Gak usah ... aku mau di samping Okino-sama ...," Ema menolak tawaran Vio dan bergeser ke arah samping Okino.
__ADS_1
"Hmm ... kalian romantis banget sih ...," ujar Vio sembari melangkah ke kasur yang ada di pojok ruangan.
"Apa mau ku temenin di kasur?" Erick mencari kesempatan untuk tidur seranjang dengan Vio.
"Dasar mesum!" Vio langsung membaringkan dirinya di atas ranjang dan menutup matanya.
"Ema ... sana tidur di samping Vio aja" kata Okino sembari menggenggam tangan kanan Ema.
Mereka berdua duduk di lantai dan bersandar ke pintu depan rumah tua nan usang itu. Okino meletakan senapannya di samping kanannya. Ema yang duduk di sebelah kiri Okino itu terlihat kelelahan. Rambut pirangnya itu terlihat berantakan.
Tatapan kosong yang keluar dari bola mata birunya itu lah yang membuat Okino merasa lebih tenang. Ema bagaikan air laut yang memadamkan api di hati Okino. Cinta yang tumbuh di hati Okino itu tinggal menunggu waktu untuk keluar dari mulutnya.
"Okino-sama ... aku akan selalu di sisimu," kata Ema dengan wajah datarnya itu.
"Hmm ... ya udah ...," Okino tetap menggenggam tangan kiri Ema seakan tak ingin pujaan hatinya itu pergi.
Mereka berempat pun tertidur lelap di dalam rumah tua itu. Sang surya yang berada di puncak langit pun perlahan lahan turun dari takhtanya. Kegelapan mulai mengambil alih hari ini. Jantung Akame mulai terlihat bersinar terang. Mereka lalu lalang di depan rumah tua yang ada di tengah padang rumput itu seakan menunggu saat Okino dan kelompoknya keluar.
"Okino-sama ... sepertinya ini sudah malam," kata Ema perlahan membangunkan Okino.
"Hmm ... Ema ... jangan bangunkan yang lain nya dulu," kata Okino perlahan membuka matanya.
"Kenapa?" Tanya Ema dengan pandangannya yang selalu lurus ke depan.
"Gak apa apa ... tunggu bentar lagi aja ... mereka pasti masih lelah," Okino bangkit berdiri dan mengintip keluar jendela yang ada di samping pintu keluar.
"Okino-sama? ... apa yang kau lihat?" Tanya Ema.
__ADS_1
"Hmm ... apalagi selain Akame kan?" Okino kembali duduk ke posisinya semula.
"Okino-sama ..."
"Ano ... bisa gak panggil Okino aja?" Ucap Okino dengan sedikit senyum.
"Gak bisa," Ema tetap memasang wajah datarnya itu.
"Huff ... serah kamu lah," Okino kembali menyandarkan kepalanya ke pintu.
Kruuwwkk!!
Suara perut Ema yang berbunyi karena kelaparan.
"Ema?" Okino langsung menoleh ke arah Ema yang hanya duduk seperti boneka di sampingnya itu.
Okino segera merogoh saku celananya dan mengambil sebungkus cokelat batangan miliknya. Hanya itu lah persediaan makanan terakhir milik Okino. Botol air minumnya pun sudah kosong.
"Ema ... ini makan aja," Okino meletakan sebungkus cokelat batangan ke atas telapak tangan Ema.
"Apa Okino-sama gak laper?" tanya Ema sembari membuka bungkus cokelat itu.
"Hmm ... sebentar lagi kita sampai di kastil kan?" Tanpa sadar Okino mengeluarkan air matanya.
"Enak"
Kata kata yang Okino dengar dari mulut Ema itu membuat hatinya semakin terasa sakit. Okino yakin dirinya akan segera kehilangan Ema sebentar lagi.
__ADS_1
"Ema ... makasih"