Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 207


__ADS_3

"Diam saja ga ada gunanya kan?" Kata Fuyuka setelah menjelaskan padaku bahwa ia tak bisa mati.


"Tentu ... kamu kan ga bisa mati ...," ujarku dengan wajah datar.


"Hei hei ... kita ga sendiri tau!" Kaya Fuyuka tersenyum sembari menepuk pundakku.


"Ya, soalnya kalian lemah sih ...," suara seorang gadis yang tiba tiba berdiri di belakang kami berdua.


"Munmei?"


Gadis yang mengenakan gaun biru sekaligus zirah. Rambut pirang yang tertata rapi, dan pita biru mengikat rambutnya. Bola mata hijau padam dan senyuman manis. Gadis yang membuatku melawan sang pencipta, Mirai Munmei.


Dan di saat ini juga naga raksasa itu menghilang tanpa jejak. Tapi aku tahu, dia tak akan lari tanpa berbuat apa apa. Maka dari itu aku fokus melihat ke tempat dimana naga itu berdiri. Dan benar saja, Devil King sudah berubah wujud jadi manusia. Naga itu berubah jadi pria kekar memakai zirah emas. Rambut pirang dan matanya bersinar terang seperti lampu emas. Dia juga memiliki dua tanduk merah di dahinya.


"Woah, dia siluman?" Ujar Fuyuka seraya memejamkan matanya. Ia merapalkan mantra untuk teleportasi. Setelah lingkaran mantra sihir muncul di bawah kaki kami bertiga. Cahaya terang menyelimuti kami bertiga. Dan dalam sekejap kami sudah berpindah tempat. Yang tadinya berada di ataa atap gedung sekolah, sekarang kami ada tepat di hadapan Devil King dalam wujud manusia.


"Wah wah ... Kaito, Fuyuka, Munmei, kombinasi antara tokoh terkuat." Ujar Devil King dengan wajah angkuhnya itu.


"Kenapa kau bisa ada di sini?!" Tanyaku bingung.


"Hee? Kekasihmu yang memanggil semua makhluk makhluk neraka ini keluar dari Underworld." Sahut King sembari memiringkan kepalanya.


Ai? Bukan, itu pasti ulah seseorang yang mengendalikannya!


"Mau apa kau kesini?!" Lanjutku bertanya dengan Ten Kara No Ken yang sudah kugenggam di tangan kanan.


"Untuk menjemput nona Saika," jawabnya dengan seringai senyum sombongnya itu.


"Mau apa kau!!!?" Pekik Fuyuka yang juga sudah siap dengan tombaknya itu.


"Tenang, kami hanya butuh batu di dalam tubuhnya ..., kalau dia masih hidup ... akan kami kembalikan." Tambahnya dengan raut muka tanpa dosa.


Sebaiknya aku hubungi seseorang!


Aku merogoh saku celanaku dan menemukan T-Phone lamaku. Aku segera mamakainya di telinga kananku. Sesaat setelah terpasang, benda ini otomatis menyala dan terhubung ke saluran komunikasi anggota DH.

__ADS_1


"Ada apa Kaito?" Suara Sora yang telah lama tak kudengar.


"Sora, perketat penjagaan bunker, terutama Saika!" Pintaku supaya mereka memastikan keamanan Saika.


"Hmm, baiklah ...," Tanggap Sora lalu memutus sambungan komunikasi kami.


"Hua, keputusan yang tepat, aku juga sudah memerintahkan para pasukanku." Timpal King dengan seringai senyum jahatnya.


"Cih, aku tak akan biarkan kalian menyentuhnya!" Fuyuka mengacungkan tombaknya pada King. Raut wajah penuh emosinya itu, aku yakin Saika sangat berharga baginya.


"Hahaha, kau pikir bisa mengalahkanku? Keabadian saja tak cukup tau!" Ujar King terkekeh.


"Cukup basa basinya, Kaito, kita serang bersama! Fuyuka, lindungi kami dengan sihirmu!" Munmei sudah siap dengan pedang di tangan kanannya itu.


"Sepertinya aku harus serius!" Aku menggoreskan pisau ini ke lengan kiriku dan membuat setetes darah menetes ke tanah dari luka di lenganku ini.


Kensetsu!


Dalam sekejap sebuah katana lengkap dengan sarungnya menempel di pinggang kiriku. Aku memindah posisi Ten Kara No Ken ke tangan sebelah kiri. Lalu menarik Kensetsu keluar dari sarungnya menggunakan tangan kananku.


"Aku akan menggunakan seluruh kekuatanku! Walau jantungku harus hancur!" Gumamku sembari memejamkan mataku.


Energi kegelapan mengalir di tubuh bagian kiriku. Di saat yang sama energi cahaya juga mengalir di tubuh bagian kananku. Jubah samar samar perlahan terbentuk dari kedua energi yang menyatu itu. Warna jubah energi ini terbelah jadi dua, bagian kanan berwarna putih cerah, sedangkan bagian kiri berwarna merah darah.


Pisau dari surga di genggaman tangan kiriku berubah jadi pedang iblis dengan bilah berwaran merah darah. Katana di tangan kananku menyerap energi cahaya dan membuat bilahnya bersinar terang.


"Fate Breaker itu belum sempurna Kaito, jika kau bergabung dengan kami, kekuatanmu bisa berlipat ganda." Tawaran King yang sangat mustahil untuk aku terima.


Swush!!!


"Untuk apa kau mengajakku bergabung?" Tanyaku dalam sekejap sudah berada di belakang punggung Devil King.


"Ha? Apa kau lebih memilih gadis murahan itu dibanding Ai?" Ucapan King yang menyulut amarahku.


"Mati kau!!!" Aku mengayunkan katana di tangan kananku tepat ke arah lehernya. Tapi seperti yang aku perkirakan, secepat kilat ia berbalik dan menendang perutku dengan kekuatan penuhnya. Walau sempat terhempas beberapa meter ke belakang, aku menghentikan gerakan tubuhku dan melayang di udara. Ternyata kemampuan terbangku tidak diambil oleh kakak. Seharusnya dalam mode Fate Breaker aku tak bisa terbang.

__ADS_1


"Munmei!" Teriakku memberi aba aba untuk Munmei.


"Giliranku!!" Munmei berlari maju tanpa gentar sedikit pun menghadapi raja neraka itu. Sang dewi itu mengayunkan pedangnya kesana kemari berusaha melukai musuhnya. Tapi King dengan mudah menghindarinya. Bahkan King terus tersenyum seakan sedang bertarung dengan bocah TK.


Dan tentu saja aku tak berdiam diri melihat keadaan Munmei yang semakin terlihat kesulitan itu. Dengan kecepatan cahaya aku terbang menuju ke belakang King.


"Dark Slash!!" Aku mengayunkan Ten Kara No Ken di tangan kiriku dan membuat energi kegelapan berbentuk bulan sabit melesat ke arah King.


"Light Slash!!" Tak sampai di situ, aku mengayunkan Kensetsu di tangan kananku dan menghasilkan energi cahaya berbentuk bulan sabit melesat ke arah King.


"Kau terlalu lamban ...," Ujar King yang bahkan tanpa sadar sudah berada di belakangku.


Ia mengayunkan kakinya untuk menghantam punggungku. Alhasil aku kembali menghantam tanah dan merasakan rasa sakit luar biasa. Tanah tempat aku mendarat ini sampai remuk tak karuan. Aku hanya bisa terbaring untuk menarik nafas sejenak.


Bruak!!!


King melanjutkan aksinya dengan menghantam perutku dengan kakinya. Hantamannya itu menghasilkan amukan angin yang menyebar ke segala arah. Tanah di sekitar kami juga hancur karena kuatnya serangan King.


"Menyingkir dari sana!!!" Teriak Munmei seraya mengayunkan pedangnya ke arah King. Walau Munmei belum berhasil melukai King, tapi ia berhasil membuatnya melompat mundur.


"Heaven Chain's!" Fuyuka akhirnya mengeluarkan sihirnya. Beberapa rantai cahaya muncul dari tanah dan menjerat kedua kaki King. Tak sampai di situ, beberapa Magic Circle kecil muncul di atas King lalu mengeluarkan beberapa rantai yang mengikat badan King.


"Kalian! Serang dia dengan seluruh kemampuan!" Teriak Fuyuka meminta kami melancarkan serangan akhir.


"Baiklah!" Aku bangkit berdiri di samping Munmei.


"Kalau begitu! Akan aku gunakan ini!" Munmei mengangkat pedangnya ke atas. Dan beberapa saat kemudian, pedangnya itu menyemburkan energi sihir berwarna emas ke atas langit.


Walau aku terpukau melihat kekuatan Munmei. Aku tak diam saja, aku juga mengangkat kedua pedangku ini ke atas. Aku yakin aku punya serangan yang mirip dengan milik Munmei. Benar saja, kedua pedangku itu menyemburkan energi kegelapan dan cahaya di saat yang sama. Ten Kara No Ken di tangan kiriku menyemburkan sinar berwarna merah darah. Sedangkan Kensetsu di tangan kananku seakan menembus awan dengan energi cahaya terangnya.


"Kishi no Impact!!!"


"Fate Breaker Impact!!!"


Teriak Munmei dan diriku secara serentak sembari mengayunkan pedang kami ke bawah. Dan saat ketiga energi sihir kami menghantam tubuh King. Ledakan besar tak terhindarkan lagi. Ledakan itu menghasilkan kubah cahaya yang semakin besar seiring berjalannya waktu. Bahkan kami bertiga sudah ditelan oleh kubah cahaya itu.

__ADS_1


Apakah dia kalah?


Apa ini sudah berakhir?


__ADS_2