Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 140


__ADS_3

"Kaito, apa kamu butuh sesuatu?" Suara kecil seperti nyamuk itu masuk ke telingaku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat langit langit kamarku sendiri. Aku menoleh ke kanan dan melihat paras cantik si tuli itu. Ia sedang duduk di atas kursi meja belajarku yang dia tarik ke samping ranjangku ini. Lagi lagi aku terbaring lemas di ranjangku yang empuk ini. Setelah kembali mendarat di kota Natsu, tubuhku mendadak lemas dan jatuh tak sadarkan diri.


"Ai, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanyaku lirih.


"Iya, boleh kok," jawabnya dengan senyuman seindah pelangi yang terbalik itu.


"Kenapa kamu bisa tau aku sedang dalam bahaya?" Pertanyaan yang muncul di benakku. Ai sangat sangat tepat waktu, aku yakin dia menyelamatkanku bukan hanya karena kebetulan. Dan juga, kekuatannya mulai muncul kembali. Mungkin saja akan ada masalah mengenai itu. Apa lagi Takumi dan Taki sudah memperingatkan bahwa energi Fate Stone itu sedang memancar kuat.


"Emm, ga tau, perasaanku gak enak, terus tiba tiba aku ke tempat Fumio dan Hanabi." Ai menjawab dengan wajah polosnya itu.


"Hmm, makasih," kataku seraya kembali memandang langit langit kamarku ini.


"Kaito, aku dengar kamu bakal pergi setelah naik kelas nanti." Ternyata Ai sudah mendengar tentangku yang akan menjalankan pelatihan di luar negeri.


"Hmm, cuman sebentar kok," ujarku dengan senyum tipis.


"Heem, berarti tahun depan aku gak bisa liat kamu ...," Ai menggelembungkan pipinya seakan kesal dengan keadaan ini.


"Apa kamu mau ikut aku pindah ke jepang?" Aku mengalihkan pandanganku ke wajah si tuli itu.


"He? Enggak ah, sekolahku gimana?" Benar juga, jika Ai juga ikut, sekolahnya bisa kacau, ditambah Hanabi yang pasti akan ribut.


"Hmm, ya sudah, tetap di sini dan tunggu aku kembali ya?" Aku melempar senyum tipisku lagi.


"Siap! Kakak tersayang!" Serunya hormat kepadaku. Lagi lagi aku terpaku melihat senyuman cantiknya itu. Berapa kali pun, aku tak pernah bosan melihat senyumannya itu. Berapa kali pun aku juga pasti akan terpaku pada wajahnya.


Greeek ....


Pintu kamarku perlahan terbuka, seorang pria rambut hitam sebahu, ia memakai kemeja putih dan dasi hitam, dan ia memakai jubah seperti yang sering dipakai vampire di film-film televisi.


"Kaito, apa kamu sudah baikan?" Ujar pria itu dengan seringai senyum di wajahnya.

__ADS_1


Siapa dia? Kenapa dia sudah tau namaku?


"Paman Dai?! Kenapa bisa ada di sini?!" Ai tersenyum kegirangan karena melihat pria itu. Mereka pastinya sudah saling kenal, Ai juga memanggilnya paman.


"Kaito, katakan padanya aku kesini menjenguk kalian." Kata Dai sembari melangkah maju mendekat ke ranjangku.


"Ohh, Ai dia menjenguk kita." Aku bangkit dan duduk di ranjang. Dan aku tersentak saat menyadari sesuatu. Pria bernama Dai itu tahu hanya aku yang bisa berbicara pada Ai.


"Woah, sudah lama aku tak bertemu paman." Ujar Ai.


"Hmm, sudah sejak umurmu lima tahun kan?" Dai menghentikan langkahnya di samping Ai.


"Lima tahun ... apa kalian saudara?" Tanyaku bingung.


"Bukan, aku hanya teman ayahnya." Jawab Dai menggelengkan kepalanya perlahan.


"Kaito-kun, kau pasti terkejut, jadi jangan menyerangku dengan kekuatanmu ya?"


"Oi oi, tenang dulu ... aku gak akan macam macam ... gimana ya bilangnya ...," Dai menggaruk kepalanya seakan dia bingung harus berkata apa.


"Begini, pertama tama, namaku adalah Tetsujo Dai. Keturunan dari Tetsujo Kamui." Fakta baru yang ternyata adalah kejutan yang menghantamku.


Dai menjelaskan alasannya kesini. Ia hanya ingin menjengukku dan Ai. Dai juga mengatakan bahwa ialah yang mempunyai kewenangan tertinggi atas pedang Kensetsu milikku. Jadi singkatnya dialah yang memberikan hadiah istimewa itu padaku. Lagi lagi, dunia ini membuatku muak dengan segala kejutan yang datang.


"Kaito masih banyak hal yang belum kau ketahui ... jadi jika kau ingin bertanya padaku, jangan sungkan sungkan." Dai memberiku sebuah kartu nama.


"Gedung Daikyo?" Aku mengernyit saat membaca alamat yang tertera di kartu nama itu.


"Hmm, kau tinggal hubungi nomer itu, dan seseorang akan menjemputmu saat itu juga." Jelas Dai dengan senyum tupisnya itu.


"Etto," aku bingung dan menggaruk kepalaku.

__ADS_1


"Aku tahu kau bingung, jangan buru buru ... Ai paman pergi dulu ya?" Dai berbalik dan mengusap kepala Ai seperti anaknya sendiri.


"Kaito, kau bukanlah sang terpilih ... kau adalah sang malaikat dari neraka." Kata kata terakhir Dai sebelum ia keluar dan menutup pintu kamarku. Tentu saja ucapannya itu punya arti, hanya saja aku masih belum mengerti apa maksudnya. Aku hanya duduk dan memandangi kartu nama pria tadi. Pertanyaan mulai berkecamuk di dalam hatiku. Ketua Enjeruhanta ternyata adalah orang baik.


Jadi, lawan bukan berarti jahat. Lalu kawan belum tentu baik. Perlahan tapi pasti, aku mulai paham cara kerja dunia ini. Sekarang aku malah bingung, aku mulai bimbang. Apa aku berada di sisi yang benar? Atau malah aku berada di jalan yang salah?


Di saat yang sama aku menerima telepon dari nomor yang sama sekali tak kukenali. Aku pun mengangkat telepon itu tanpa pikir panjang.


"Kaito, aku lupa, jangan sekali kali pakai Light Chaser lagi." Ternyata Dai yang meneleponku.


"Memangnya ada apa?" Tanyaiu bingung.


"Kau bisa buta, sudah dulu ya ...," jawaban sekaligus kalimat terakhir sebelum ia memutus sambungan telepon kami. Aku bisa buta jika menggunakan mode Light Chaser sekali lagi. Ya, mungkin itu akan jadi masalah besar nantinya. Lagi pula aku masih punya banyak mode, belum lagi aku bisa memakai Kensetsu untuk bertarung. Dan sebelum aku bernafas lega, seseorang kembali membuka pintu kamarku.


"Selamat sore Kaito," sapa si ketua timku itu lalu melangkah masuk.


"Apa lagi?" Tanyaku dengan wajah bosan.


"Hmm, cuma mau kasih tau. Kamu tak perlu membantu timku lagi, fokuslah dengan misimu, buat mereka berdua jatuh cinta." Ucap Fumio dengan tatapan tajamnya.


"Ohh, tapi aku masih boleh berkunjung kan? Aku masih bagian dari tim kalian kan?" Tanyaku bingung.


"Iya, untuk sekarang kamu masih bagian timku."


"Tapi untuk tahun depan, kau sudah resmi keluar." Jawab si loli ganas itu.


"Lalu ...,"


"Mio-chan!! Ayo main lagi!!" Hanabi berlari masuk ke kamar dan langsung memeluk Fumio.


"He?!" Pipi Fumio sedikit memerah setelah mendengar panggilan yang paling tak ia sukai itu. Jika aku yang memanggilnya seperti itu, mungkin aku sudah babak belur dibuatnya. Sikapnya benar benar berbeda jika bertemu dengan Hanabi. Tak hanya Takumi, bahkan Fumio bisa ia taklukan. Apa adikku juga Tenshi? Penakluk hati manusia? Haha, mungkin saja.

__ADS_1


"Jadi sisa tahun ini bisa sedikit kunikmati ya?" Gumamku perlahan.


__ADS_2