
Graaahhhrrrkkk!!!
Saat aku sampai di koridor gedung lantai dua. Aku dikejutkan dengan beberapa Akame yang lalu lalang di sini. Tak kusangka mereka bisa masuk ke dalam gedung seperti ini. Mungkin bukan masuk, mereka langsung muncul dari lantai. Dasar makhluk menjijikan, mereka tak ada habisnya. Sepertinya mereka bermunculan lebih sering belakangan ini.
Ten Kara No Ken~
Aku memanggil pisau dari surga itu dan menggenggamnya di tangan kananku. Mungkin sekarang aku masih belum bisa menggunakan kekuatan sihirku. Tapi aku masih bisa bertarung tanpa itu. Aku segera melesat maju dan menusuk jantung oranye mereka yang bersinar terang itu. Satu per satu aku mengembalikan mereka menjadi cairan hitam nan menjijikan. Tebas, lepas lehernya. Tebas, lepas tangannya. Tebas lepas kakinya. Aku segera membunuh mereka tanpa ampun.
Beberapa detik berlalu, aku sudah berhasil menghabisi sepuluh Akame. Dan aku tak melihat sisa dari mereka lagi di lantai ini. Aku segera membuka semua pintu ruangan yang ada dan menghindari api yang semakin besar ini. Aku sudah membuka semua ruangan, tapi aku masih belum menemukan seorang pun korban. Aku segera menaiki tangga dan menuju ke lantai tiga. Hal yang sama terjadi, ada sekitar belasan Akame yang berkeliaran di lorong ini. Tanpa basa basi aku segera membasmi mereka dengan pisau di tangan kananku ini.
Tusuk, tebas, ayunkan, tendang. Aku melakukan berbagai cara umtuk melenyapkan mereka satu per satu. Dan akhirnya aku berhasil mengubah mereka semua jadi cairan hitam. Asap dari kebakaran ini membuatku kesulitan bernapas. Aku melakukan hal yang sama di lantai dua tadi, aku membuka setiap pintu ruangan yang ada dan berharap aku tak melewatkan satu orang pun di sini. Ternyata setelah beberapa menit mencari aku masih tak menemukan seorang pun.
"Tolong!!!!"
Di saat aku hendak sampai di lantai empat aku mendengar jeritan wanita minta tolong. Itu membuatku panik dan hampir terpeleset saat menaiki tangga. Aku mempercepat langkah ku dan segera membasmi Akame yang tersisa di lantai ini. Aku mengerahkan semua tenagaku untuk segera mengakhiri ini. Dan hanya dalam beberapa detik aku sudah membersihkan lantai empat ini dari iblis rendahan yang tak punya akal itu. Lagi lagi aku membuka semua ruangan dan mencari asal dari suara minta tolong tadi.
"Seseorang tolong!!!"
Suara itu semakin jelas, aku membuka ruangan terakhir dan ternyata di sinilah suara itu berasal. Aku melihat seorang wanita yang kakiknya tertimpa reruntuhan dan ia sudah bersimbah darah. Yang menarik perhatianku adalah dia masih menggendong bayinya yang dibalut dengan handuk basah. Wanita rambut putih itu tersungkur tak berdaya dan tetap memeluk bayinya itu.
"Apa kau baik baik saja!!?!" Aku langsung menghampirinya tanpa basa basi lagi aku berusaha mengangkat reruntuhan beton dan besi itu supaya dia bisa bebas. Tapi sia sia saja, reruntuhan itu terlalu banyak dan terlalu berat untukku sendirian. Di tambah lagi aku masih belum bisa menggunakan kekuatan sihirku.
"Nak, sudahlah ... aku sudah tidak bisa selamat ...," ucap wanita itu lirih.
"Tidak!!! Kau masih bisa selamat!!" Aku terus berusaha mengangkat reruntuhan yang mustahil bisa kuangkat sendiri ini.
"Nak, hentikan, waktumu tak banyak. Tolong ke sini dan selamatkan bayiku saja." Kata wanita itu dengan mata yang semakin menyipit tanda ia mulai kehilangan kesadaran.
"Tolong!! Bertahanlah!!!" Aku mulai panik dan menggenggam tangan wanita itu.
"Taki!! Apa kau bisa bantu aku?! Taki!!!" Aku berusaha menghubungi si culun itu menggunakan T-Phone yang ku pakai. Setelah beberapa detik menunggu aku masih belum mendengar jawabannya.
"Siapa namamu nak?" Tanya wanita itu dengan kelopak matanya yang sudah terpejam.
"Kaito! Okino Kaito!" Aku mulai panik.
"Hmm, nama yang bagus, aku titip anakku ya?" Kata kata terakhir yang ia katakan sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
"Tunggu!! Jangan!! Sial!!!" Tanpa sadar aku meneteskan air mata karena merasa bersalah. Aku mengambil alih bayi itu dan membopongnya. Aku melihat wajahnya sejenak. Bayi laki laki dengan rambut putih dan bola mata berwarna emas yang indah. Anehnya dia sama sekali tak menangis di kondisi seperti ini. Di saat yang sama instingku mengatakan tempat ini akan segera meledak dalam hitungan detik.
"Tidak ... kenapa?!" Aku memutuskan untuk melompat keluar dari jendela yang terbuka lebar itu.
Booommm!!!
Benar saja, lantai empat gedung itu menyemburkan api keluar dari setiap jendela yang ada. Aku yang melompat dari ketinggian ini langsung mendarat di tanah dengan mulus.
"Wah!! Hebat!!!"
"Luar biasa anak muda!!"
"Kakak itu seperti pahlawan super!!!"
"Pahlawan yang sesungguhnya ada di dunia ini!!!" Kerumunan orang di depan gedung itu menyoraki aku yang baru saja menyelamatkan nyawa seorang bayi. Tapi mereka tak tahu ada yang menjadi korban di dalam sana. Hatiku kembali hancur menyadari betapa lemahnya aku ini. Aku bahkan gagal menyelamatkan nyawa wanita yang seharusnya bisa aku selamatkan.
"Titip anakku ya?" Suara wanita itu kembali terngiang di kepalaku. Aku hanya bisa berdiri terpaku melihat bayi yang ada di tanganku ini. Dan di saat yang sama bayi itu mulai mengalirkan air matanya keluar.
Bukanya sudah terlambat untuk menangis?
"Kaito kau berhasil!" Taki menepuk pundak kananku.
"Sekarang mau kau apakan dia?" Lanjut Taki bertanya.
"Aku akan merawatnya, sesuai pesan terakhir ibunya." Aku langsung melangkah masuk ke dalam mobil dengan pikiranku yang masih kacau ini. Aku pun meminta Taki untuk mengantarku pulang ke rumah Ai. Selama perjalanan aku tak mengatakan satu kata pun. Entah kenapa aku masih menyesali kejadian tadi. Aku merasa seharusnya aku bisa menyelamatkan ibu dari bayi ini. Setelah kami sampai di depan gerbang rumah mewah Ai. Aku segera turun dari mobil.
"Maaf Taki, aku tak bisa membantumu ...," ucapku seraya membuka gerbang.
"Tidak, kau sudah membantuku, sampai jumpa!" Taki langsung menancap gas dan pergi meninggalkanku.
"Hmm," aku melangkah menyusuri jalan kecil yang membelah taman indah ini. Setelah sampai di depan pintu aku segera masuk ke dalam.
"Kaito!? Kamu udah pulang?!" Ai yang baru saja menuruni tangga langsung menghampiriku.
"Woah!! Kakak sang pahlawan udah pulang!!!" Seru Hanabi seraya ikut menghampiriku.
"Ini bayi yang baru saja kamu selametin kan?" Kata Ai sembari mengelus pipi bayi ini dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Dari mana kamu tau?" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi.
"Berita di TV toh, kakak sekarang terkenal loh!" Jelas Hanabi.
Tunggu, bukannya ini bisa jadi masalah?
"Ai, bawa dia sebentar ya?" Aku menyerahkan bayi itu kepada si tuli dan segera menelepon Sora.
"Ya? Ada apa Kaito?" Suara Sora yang mengangkat teleponku.
"Apa kamu bisa mengatasi masalah media yang merekamku?" Tanyaku.
"Hmm, soal kamu nyelametin bayi? Oke, aku akan menghilangkan jejakmu." Sora langsung memutus sambungan telepon kami.
"Sekarang, kita apakan dia?" Aku kembali berbalik dan melempar pertanyaan.
"Kita rawat aja dong kak!" Hanabi terlihat sangat senang karena kedatangan bayi itu.
"Ai, apa gak masalah?" Aku neminta persetujuannya terlebih dahulu.
"Hmn? Kita akan merawatnya? Aku mau! Sekalian aku latihan jadi seorang ibu!" Katanya dengan senyuman manis. Melihatnya menggendong bayi dan tersenyum manis, aku merasa dia sudah layak menjadi seorang ibu.
Ehhh?!! Maksudku ... bukan berarti aku suaminya kan?!
"Etto, bukan berarti aku ...," Ai langsung tersipu malu saat melihat pipiku yang memerah ini.
"Namanya siapa kak?" Ucapah Hanabi itu membuatku ingat aku masih belum mengetahui namanya.
"Hmm, kita kasi nama sendiri aja gimana?" Ujarku sembari memikirkan nama yang bagus.
"Okino Kai, sepertinya cocok!" Ucap Ai terus memandangi wajah bayi itu yang mulai menunjukan senyum.
"Wahh, kakak punya anak!" Seru Hanabi kegirangan.
"Hmm, palamu! Ya udah kakak mau istirahat dulu ... cape ...," aku kembali menaiki tangga dan masuk ke kamarku. Aku melepas long coat yang kupakai dan menggantungnya di gantungan yang ada di belakang pintu. Aku juga melepas dasi hitampu dan membuka kancing paling atas kemejaku.
"Akhirnya ... huff ...," aku menjatuhkan badanku ke atas kasur empuk ini.
__ADS_1
Apa aku bisa lebih kuat lagi?